Minta Maaf Saja Tidak Cukup, Ya!

Di kampung halamanku, Gunung Kidul (Yogyakarta), ada ritual yang tidak pernah tergantikan dari generasi ke generasi  yakni mudik.  Setiap tahun, menjelang Idul Fitri, ratusan bus dari Jakarta bermudik. Kepulangan mereka tidak tanpa perjuangan. Mereka harus membeli tiket (bus, KA dan pesawat) dengan harga yang melambung tinggi dan sesampainya di air-port, stasiun dan stamplat para pemudik harus berdesak-desakan mencari tempat duduk. Banyak dari mereka menggunakan kendaraan bermotor untuk mudik.  Tetapi semuanya itu  dipandang sebagai ibadah yang akhirnya bisa berjumpa dengan kerabat di kampung halaman.

Meminta dan memberi maaf itu  bukan perkara yang gampang. Mohandas Karamchand Gandhi atau yang  dikenal sebagai Mahatma Gandhi (1869 – 1948) berkata,  “Mereka yang berjiwa lemah tak akan mampu memberi seuntai maaf tulus. Pemaaf sejati hanya melekat bagi mereka yang berjiwa tangguh.”  Ritual tahunan untuk kembali ke kampung halaman merupakan niat yang tulus untuk menuju sebagai manusia yang  fitrah.

Minta  maaf saja tidak cukup, tetapi harus dilakukan dalam tindakan nyata.  Kata maaf  (dari bahasa Arab, ma’ fuw)  itu memiliki arti: dibebaskan dari dosa.  Rabindranath Tagore (1861-1941), penulis dari Calcutta dalam buku yang berjudul, “Kisah-Kisah Tagore membeberkan seorang pembantu, yang bernama  Raicharan  yang menghilang anak kesayangan majikannya, ketika mengasuhnya di sekitar sungai Padma. Ia sangat menyesal dan kembali ke rumah. Di rumahnya sendiri ia tinggal bersama istrinya dan lahirlah seorang bayi untuknya.  Dengan kesungguhan hati, Raicharan  menjadikan anaknya sendiri dididik, dibentuk seperti anak majikannya. Setelah menjelang remaja, anak itu pun diberikan kepada majikannya. Dalam dirinya ada usaha untuk mengembalikan yang sudah retak dan kembali menjadi  silaturahim.  Inilah cerpen yang berjudul, Kembalinya Seorang Anak.

Dalam memberi maaf pun kita harus tulus dan akhirnya tidak ada dendam lagi.  Saya jadi ingat wasiat Rosulullaoh Muhammad  S.A.W.  kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Karramallahu Wajhah.  Dalam suatu peperangan Ali bin Abi Thalib Karomallahu Wajhah berhasil menjatuhkan musuhnya. Dengan sigap beliau langsung menindih dengan tubuhnya siap dengan pedang terhunus untuk memenggal. Dalam kondisi terjepit musuh Allah tersebut meludahi wajah Ali Karomallahu Wajhah. Seketika itu juga pedang yang sudah siap dihunus diturunkan untuk membatalkan niatnya menghabisi musuh Allah tersebut.  Ketika ditanya, “Mengapa engkau tidak melanjutkan niatmu untuk memenggal kepalaku?” Ali bin Abi Thalib menjawab, ketika aku menjatuhkanmu aku ingin membunuhmu karena Allah akan tetapi ketika engkau meludahiku maka niatku membunuhku karena amarahku kepadamu.

Orang-orang Jawa memiliki banyak tradisi tentang saling memaafkan  (Di pulau Jawa itu pula muncullah Walisongo  yang berarti sembilan orang wali).   Ketika lebaran, mereka berjumpa saling berkata, “njaluk pangapura”  artinya meminta maaf atau pengampunan.  Setelah ditelusuri ternyata kata itu berasal dari “hafura” (bahasa Arab) yang berarti tempat pengampunan.  Kemudian kita kenal juga tradisi makan ketupat.  Konon, menurut orang tua tua ketupat berasal dari kata pat atau lepat  (bahasa Jawa) yang berarti kesalahan. Orang yang makan ketupat akan kembali di ingatkan bahwa mereka sudah terlepas dan terbebas dari kesalahan. Kita diharapkan akan saling memaafkan dan saling melebur dosa dengan simbol tradisi kupatan.

Untuk itu, pada bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kami sampaikan,  “Minaladin walfaizin, semoga Anda termasuk golongan orang yang kembali kepada fitrah dan memperoleh kemenangan” (13 Agustus 2012).

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: