Minggu Paskah VII / Hari Komunikasi Sedunia : Kis 7:55-60; Why 22:12-14.16-17.20; Yoh 17:20-26

“Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku”


Mg Paskah VII / Hari Komunikasi Sedunia : Kis 7:55-60; Why 22:12-14.16-17.20; Yoh  17:20-26

 

Kisah singkat yang saya tulis ini sungguh nyata, dimana saya terlibat di dalamnya, namun demi menjaga kerahasiaan saya beritahukan bahwa nama-nama yang tercantum di sini adalah nama samaran. Pada suatu hari saya diminta untuk membantu memecahkan masalah keluarga, dimana seorang ibu bernama Anna merasa terpukul atas berita yang diterima perihal anaknya bernama Maria, karena tidak lama lagi anak gadisnya itu akan melahirkan seorang anak. Terjadi ketegangan antara Anna dan Maria. Untuk membantu mereka saya minta ceritera dari Anna perihal pengalamannya. Konon sekitar 5 (bulan) yang lalu Maria, yang sedang belajar di sebuah perguruan tinggi di salah satu kota di Jawa, pulang ke rumah orangtuanya yang tinggal di sebuah kota di luar Jawa. Anna begitu gembira melihat anaknya tampak lebih gemuk dan gembira, setelah lebih dari satu tahun tidak pulang, menengok orangtuanya. Maka ketika Maria minta pamit kembali ke tempat belajar disambut gembira juga oleh Anna. Bagaikan petir di siang panas terik menyambar dirinya ketika kurang lebih lima bulan kemudian (dua hari yang lalu sebelum pertemuan dengan saya) memperoleh berita dari temannya bahwa anaknya, Maria, tidak lama lagi akan melahirkan anaknya, dan yang bersangkutan saat ini berada di sebuah panti asuhan, dalam persiapan melahirkan anaknya. Mendengar berita itu Anna sungguh terpukul dan marah, demikian juga perasaan kecewa dan malu ada pada suaminya serta dua adik Maria. Setelah mendengarkan cerita dan keluh kesah serta kekecewaan yang disampaikan Anna dengan panjang lebar, saya bertanya kepadanya: “Bagaimana komunikasi atau curhat antar anggota keluarga anda?”.  Dari tanggapan atau penjelasannya nampak bahwa di dalam keluarga tidak ada komunikasi yang baik, yang terjadi adalah kediktatoran orangtua, sehingga anak-anak dalam kepatuhan semu terhadap orangtuanya. Sarana komunikasi serperti HP, email dst.. berkembang pesat  tetapi komunikasi dari hati ke hati alias curhat mengalami erosi, itulah yang terjadi, maka baiklah di Hari Komunikasi Sedunia hari ini marilah kita mawas diri perihal berbagai macam sarana komunikasi dan penghayatan komunikasi kita dalam hidup sehari-hari.

 

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku” (Yoh 17:24)    

 

Kutipan di atas ini adalah doa Yesus bagi para murid agar para murid senantiasa berada bersamaNya, dan tentu saja dalam kebersamaan tersebut terjadilah komunikasi satu sama lain. Dalam doa ini kiranya juga tersirat bahwa sebagai umat beriman atau beragama hendaknya kita menjalin komunikasi yang erat dan mesra dengan Tuhan. Jika kita sungguh akrab dan mesra dengan Tuhan di dalam hidup sehari-hari alias hidup baik dan berbudi pekerti luhur, maka juga dengan mudah untuk berkomunikasi dengan akrab dan mesra kepada saudara-saudari kita. Dengan rendah hari kami berharap pada para orangtua atau bapak-ibu untuk menjadi teladan dalam hal komunikasi yang akrab dan mesra bagi anak-anaknya, dan untuk itu antar suami-isteri hendaknya berani saling memboroskan waktu dan tenaganya untuk saling berkomunikasi dengan akrab dan mesra. Komunikasi akrab dan mesra di dalam keluarga antara lain dapat dibina dan diperdalam dengan acara-acara bersama, misalnya makan bersama, berdoa bersama, rekreasi bersama entah di dalam rumah atau di luar rumah, dimana dalam kebersamaan tersebut terjadi curhat satu sama lain. Pengalaman komunikasi yang akrab dan mesra di dalam keluarga akan menjadi modal atau kekuatan untuk membangun komunikasi dengan orang lain di dalam masyarakat atau tempat tugas/kerja sehari-hari.

 

Komunikasi berasal dari akar kata bahasa Latin communicare, yang dapat berarti saling berbagi atau saling memberi dan menerima. Pengamatan dan pengalaman kami untuk menerima dari orang lain pada umumnya lebih sulit daripada memberi, tentu saja dalam hal nasihat, kritik, saran, koreksi, tegoran, dst.. Untuk dapat menerima hal-hal itu kiranya membutuhkan keutamaan kerendahan hati, dan memang agar dapat berkomunikasi dengan baik dengan siapapun atau apapun butuh kerendahan hati. Maka baiklah ketika saling berkomunikasi marilah kita juga saling merendahkan diri dan meninggikan yang lain, bukan meninggikan diri dan merendahkan yang lain. “Rendah hati adalah sikap dan perilaku yang tidak suka menonjolkan dan menomorsatukan diri, yaitu dengan menenggang perasaan orang lain. Meskipun pada kenyataannya lebih dari orang lain, ia dapat menahan diri untuk tidak menonjolkan dirinya”  (Prof Dr Edi Sedyawati/edit : Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 24).

 

"Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka” (Kis 7:60)          

 

Kutipan di atas ini adalah doa Stefanus sebelum meninggal dunia, suatu bentuk kerendahan hati luar biasa dimana ia memohonkan kasih pengampunan Tuhan bagi orang-orang yang memusuhi dan melemparinya dengan batu. Ia tidak melawan mereka yang memusuhinya melainkan mengajak berdamai antara lain dengan berdoa bagi mereka. Dengan kata lain hemat saya Stefanus menghayati cara berpikir positif dalam berkomunikasi dengan yang lain, senantiasa melihat dan mengakui apa yang baik, indah, luhur dan mulia dalam diri orang lain. Di dalam derita ia masih mampu berbuat baik bagi orang lain, yang telah mencelakakannya. Marilah kita meneladan sikap Stefanus dalam berkomunikasi dengan orang lain dimanapun dan kapanpun.

 

"Aku, Yesus, telah mengutus malaikat-Ku untuk memberi kesaksian tentang semuanya ini kepadamu bagi jemaat-jemaat. Aku adalah tunas, yaitu keturunan Daud, bintang timur yang gilang-gemilang." Roh dan pengantin perempuan itu berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang mendengarnya, hendaklah ia berkata: "Marilah!" Dan barangsiapa yang haus, hendaklah ia datang, dan barangsiapa yang mau, hendaklah ia mengambil air kehidupan dengan cuma-cuma” (Why 22:16-17).  Kutipan dari Kitab Wahyu di atas ini kiranya isinya senada degan doa Stefanus di atas. “Marilah”  adalah kata-kata selamat datang, suatu ungkapan atau perwujudan diri yang siap sedia untuk didatangi dan diperlakukan apapun, siap sedia menerima segala kemungkinan.  Orang yang sering berkata ‘marilah’  atau yang senada dengan kata itu ‘selamat datang’ pada umumnya adalah penerima tamu, yang bersifat komunikatif, menarik dan mempesona serta memikat, sehingga siapapun merasa enak dan nikmat berkomunikasi dengannya.

 

Kami mengajak dan mengingatkan kita semua: marilah entah secara pribadi atau bersama (keluarga , kantor, tempat kerja dst..) kita senantiasa bersikap ‘selamat datang’. Dengan kata lain siapapun yang mendatangi diri kita, rumah atau tempat kerja kita merasa nyaman, nikmat dan kerasan, dan tidak merasa terancam sedikitpun. Marilah kita ramah dan gembira terhadap siapapun yang mendatangi, menyapa atau menegor kita. Marilah kita bangun dan perdalam hidup persaudaraan kita dengan siapapun, antara lain dengan saling berkomunikasi dengan akrab dan mesra. Marilah kita berantas dan hancurkan aneka usaha permusuhan dan pertikaian, yang membawa ke perpecahan dan kehancuran. Marilah kita saling mengasihi dan mengampuni; kita imani dan hayati bahwa kasih pengampunan dapat mengalahkan kebencian dan balas-dendam.

 

“TUHAN adalah Raja! Biarlah bumi bersorak-sorak, biarlah banyak pulau bersukacita! Awan dan kekelaman ada sekeliling Dia, keadilan dan hukum adalah tumpuan takhta-Nya. Langit memberitakan keadilan-Nya, dan segala bangsa melihat kemuliaan-Nya.” (Mzm 97:1-2.6)

       

Jakarta, 16 Mei 2010

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.