Minggu Paska V

Minggu Paska V : Kis 14:21b-27; Why 21:1-5a; Yoh 13:31-33a.34-35

” Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Seorang tokoh atau pemimpin yang sangat berpengaruh dalam kehidupan bersama ketika akan mengundurkan diri, pada umumnya pesan atau kata-katanya sungguh didengarkan dan diusahakan untuk dihayati dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari oleh mereka yang ditinggalkannya. Setelah bangkit dari mati Yesus sering menampakkan Diri kepada para muridNya dan tidak lama lagi Ia akan naik ke sorga, kembali ke Allah Bapa yang mengutusNya. Dalam Warta Gembira hari ini Yesus menyampaikan pesan dan ajaran-ajaran khusus kepada para muridNya, Ia mengingatkan apa yang telah Ia ajarkan kepada mereka. Pesan ini kiranya juga terarah kepada kita semua yang beriman kepadaNya, maka marilah kita renungkan dan hayati dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13:34-35)

Ajaran saling mengasihi kiranya disampaikan oleh semua orang baik, bermoral dan berbudi pekerti luhur, dan saya percaya bahwa para orangtua senantiasa mengajarkan kepada anak-anaknya untuk senantiasa hidup saling mengasihi satu sama lain. Jika kita semua sungguh hidup saling mengasihi maka hidup bersama dimana pun dan kapan pun akan enak dan nikmat adanya, menarik, mempesona dan mengundang banyak orang untuk mendekat dan bersahabat. Memang saya percaya bahwa semua orang berusaha untuk hidup saling mengasihi, namun sering ada keterbatasan atau ketidak-tahuan akan apa itu saling mengasihi; pedoman atau acuan kasih hanya berdasarkan selera atau keinginan pribadi.

“Sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi”, demikian pesan atau ajaran yang disampaikan oleh Yesus kepada para murid, kepada kita semua yang beriman kepadaNya. Kita dipanggil untuk saling mengasihi dengan acuan atau pedoman Allah telah mengasihi kita. Kasih Allah kepada kita antara lain telah menyerahkan Yang Terkasih atau Yang terbaik kepada kita semua, maka jika kita hendak saling mengasihi diharapkan saling memberikan apa yang terbaik di antara kita, tanpa syarat, atau apa yang paling berharga atau bernilai yang kita miliki. Dalam relasi antara suami-isteri hal itu antara lain menjadi nyata dengan saling memberikan yang paling bernilai atau berharga yaitu keperawanan dan keperjakaan dalam saling berhubungan seksual sebagai wujud saling mengasihi baik dalam untung dan malang, sehat maupun sakit sampai mati. Dengan kata lain para orangtua memiliki pengalaman handal perihal saling mengasihi, maka dengan ini kami harapkan pengalaman tersebut diwariskan kepada anak-anak yang dianugerahkan oleh Allah kepada anda berdua. Kami percaya bahwa kita tidak hidup sendirian, melainkan senantiasa bersama dengan orang lain baik dalam tugas belajar maupun bekerja. Pertama-tama kami ingatkan kepada anda semua yang sedang bertugas belajar alias kepada para murid, pelajar dan mahasiswa-mahasiswi.

Boroskan waktu dan tenaga anda untuk belajar, sebagai perwujudan kasih anda, dengan kata lain hendaknya tidak hanya belajar menjelang ulangan atau ujian saja, sebagaimana dilakukan kebanyakan murid, pelajar atau mahasiswa masa kini. Demi keadilan hendaknya diusahakan setiap hari belajar selama kurang lebih 8 (delapan) jam secara efektif, efisien dan afektif. Konkretnya jika di sekolah pada umumnya telah 6(enam) jam belajar, maka di rumah hendaknya selama 2 (dua) jam belajar, jika di sekolah hanya 4 (empat) jam, maka di rumah juga 4 (empat) jam dst.. Demikian juga para pekerja kami harapkan bekerja selama 8 (delapan) jam secara efektif, efisien dan afektif. Tanda bahwa anda dalam dan oleh kasih dalam belajar atau bekerja adalah anda menjadi terampil dalam belajar atau bekerja.

Yesus juga berpesan kepada kita semua yang beriman kepadaNya bahwa tanda kita beriman kepadaNya adalah hidup saling mengasihi. Kasih hendaknya tidak hanya manis di mulut, hanya dalam wacana atau omongan saja, melainkan pertama-tama dan terutama dalam dan melalui tindakan atau perilaku. Kasih tanpa perilaku bagaikan tong kosong berbunyi nyaring alias kebohongan atau sandiwara. Pembohong yang tidak bertobat akan semakin besar kebohongannya, permainan sandiwara hanya tahan sesaat saja. Maka marilah kita jauhkan aneka kebohongan dan sandiwara kehidupan dalam cara hidup dan cara bertindak kita.  “Dari situ berlayarlah mereka ke Antiokhia; di tempat itulah mereka dahulu diserahkan kepada kasih karunia Allah untuk memulai pekerjaan, yang telah mereka selesaikan.Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman.” (Kis 14:26-27)

“Menceriterakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka”, inilah yang kiranya baik kita renungkan atau refleksikan. Marilah dengan rendah hati kita saling membagikan pengalaman akan Allah yang hidup dan berkarya dalam dan melalui kita yang lemah dan rapuh ini. Karya Allah atau Penyelenggaraan Ilahi dalam dan melalui diri kita tidak lain atau aneka perkembangan dan pertumbuhan yang terjadi di dalam diri kita. Kami percaya bahwa setiap hari mengalami perkembangan dan pertumbuhan, dan secara khusus mengalami apa yang baik, mulia, bermoral atau berbudi pekerti luhur. Apa yang baik, mulia, bermoral dan berbudi pekerti luhur yang ada dalam diri kita inilah yang kita ceriterakan kepada orang lain. Dalam menceriterakan hendaknya rendah hati dan jujur agar tidak memberi kesan sombong atau angkuh.

Dengan saling membagikan apa yang baik, mulia, bermoral atau berbudi pekerti luhur maka kehidupan bersama kita dapat menjadi pintu yang terbuka lebar bagi orang lain yang berkehendak untuk bertobat, semakin beriman atau semakin hidup baik dan berbudi pekerti luhur. “Ia (Allah) telah membuka pintu bagi bangsa-bangsa lain kepada iman”, inilah yang hendaknya kita imani. Hal merupakan ajakan bagi kita semua umat beriman untuk saling terbuka satu sama lain dengan jujur dan rendah hati alias suatu ajakan atau panggilan untuk membangun, memperdalam dan mengembangkan persaudaraan atau persahabatan sejati.

"Lihatlah, kemah Allah ada di tengah-tengah manusia dan Ia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umat-Nya dan Ia akan menjadi Allah mereka. Dan Ia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu." (Why 21;3-4). Kutipan ini kiranya sungguh menjadi peneguh atau penguat kita dalam membangun, memperdalam dan memperkembangkan persaudaraan atau persahabatan sejati kapan pun dan dimana pun.  “Allah ada di tengah-tengah manusia”  untuk menganugerahkan pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian semua manusia dapat semakin besar, semakin bijak, semakin dikasihi oleh Allah dan sesamanya.

Marilah kita imani atau hayati bahwa aneka kecerdasan, kepandaian, kecantikan dan ketampanan, kesehatan dan aneka bentuk harta benda yang kita miliki dan kuasai pada saat ini sungguh merupakan anugerah dan karya Allah. Dengan kata lain sebagai umat beriman hendaknya kita semua senantiasa hidup bersyukur dan berterima kasih. Hidup dengan penuh syukur dan terima kasih akan sungguh membahagiakan dan menggembirakan.

“TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang sabar dan besar kasih setia-Nya.TUHAN itu baik kepada semua orang, dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya. Segala yang Kaujadikan itu akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, dan orang-orang yang Kaukasihi akan memuji Engkau.Mereka akan mengumumkan kemuliaan kerajaan-Mu, dan akan membicarakan keperkasaan-Mu” (Mzm 145:8-11)
Ign 28 April 2013

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.