Minggu Biasa XXIV

Mg Biasa XXIV: Yes 50:5-9a; Yak 2:14-18; Mrk 8:27-35
"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

Dalam kehidupan bersama para imam, bruder, suster maupun awam sering terjadi ketegangan karena adanya perbedaan, entah antara tua dan muda maupun antara mereka yang bergelar sarjana, doktor atau professor dan mereka  yang hanya berijasah sekolah menengah atau sarjana biasa. Dengan kata lain ada orang-orang yang menyombongkan dirinya dengan pangkat, gelar, usia dst.., atau hidup dan bertindak hanya mengikuti selera dan keinginan pribadi, kurang atau tidak menghayati imannya. Dalam suatu kesempatan memberi rekoleksi pada suster Tarekat tertentu saya ingatkan akan apa yang tertulis dalam Kitab Hukum Kanonik, yaitu “Kerasulan semua religius pertama-tama terletak dalam kesaksian hidup mereka yang sudah dibaktikan, yang harus mereka pelihara dengan doa dan tobat”(KHK kan 679). Mendengar masukan saya ada suster senior yang bergelar sarjana marah-marah dan cukup lama membenci saya. Memang pada masa ini juga terjadi kemerosotan moral atau penghayatan iman hampir di seluruh bidang kehidupan, dimana orang hidup dan bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi. Maka marilah kita renungkan atau refleksikan sabda Yesus hari ini.

"Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.Karena siapa yang mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku dan karena Injil, ia akan menyelamatkannya(Mrk 8:34-35)

Nyawa adalah yang menghidupkan dan menggairahkan, maka nyawa bagi kita masa ini hemat saya dapat diartikan sebagai ‘cita-cita, harapan, dambaan atau impian dst..”, yang hemat saya sungguh menjiwai cara hidup dan cara bertindak kita. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua agar kita mengintegrasikan cita-cita, harapan, dambaan atau impian pada iman kita atau secara konkret hidup dan bertindak sesuai dengan visi, charisma atau spiritualitas yang telah kita akui dan usahakan untuk digeluti atau dihayati. Kami harapakan kita semua, umat beriman sungguh dalam semangat iman hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Apa yang dimaksudkan dengan “memikul salibnya”  antara lain adalah setia melaksanakan tugas pengutusan atau pekerjaan pokok sehari-hari, tidak pernah mangkir sedikitpun dari tugas utama atau pokok. Sebagai pelajar atau mahasiswa hendaknya belajar sungguh-sungguh setiap hari, baik selama proses pembelajaran di dalam kelas maupun belajar sendiri atau kelompok di luar jam pembelajaran di dalam kelas. Jika anda mendambakan sukses dalam tugas belajar, kami harapkan diusahakan setiap hari belajar selama kurang lebih 7 s/d 8 jam, artinya jika proses pembelajaran di dalam kelas berlangsung selama 5 jam, maka belajar sendiri di luar kelas atau di rumah kurang lebih selama 2 atau 3 jam, dimana selama belajar sendiri ini dapat mengulang atau memperdalam apa yang telah diajarkan atau mempersiapkan pelajaran hari yang akan datang/hari esok. Kami percaya ketika selama tugas belajar orang setia sebagaimana saya katakan di atas, maka ketika mereka menjadi dewasa pasti akan setia juga melaksanakan tugas-tugas utama atau pokok maupun setia menghayati panggilannya.

Kita juga dipanggil untuk setia ‘mengikuti Tuhan’, artinya senantiasa hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Secara konkret hal ini kiranya dapat kita hayati dengan setia dan taat melaksanakan aneka tata tertib atau aturan yang terkait dengan hidup dan panggilan kita masing-masing. Dengan kata lain kita tidak hanya setia dalam hal waktu tetapi juga setia mengisi waktu dengan melakukan pekerjaan atau tugas-tugas yang terkait dengan panggilan kita masing-masing. Kita semua mendambakan keselamatan atau kebahagiaan jiwa kita setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan, maka marilah dambaan itu mulai kita wujudkan sedini mungkin alias mulai saat ini juga. Marilah kita hayati hidup ini adalah persiapan untuk mati alias dipanggil Tuhan, maka selama hidup ini hendaknya senantiasa terbiasa bergaul dan bertemu dengan Tuhan alias senantiasa berbuat atau melakukan apa yang baik, sehingga ketika dipanggil Tuhan secara personal kita tidak takut dan tidak melawan, melainkan dengan rela dan besar hati mempersembahkan diri seutuhnya alias menyambut kematian dengan ceria, penuh senyum dan gairah.

Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia? Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu? Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.” (Yak 2:14-17)

Keunggulan hidup beriman memang terletak dalam penghayatan atau perbuatan, bukan wacana atau omongan. Maka kami berharap kepada kita semua, umat beriman, untuk saling membantu dan bekerjasama dalam penghayatan iman dalam dan melalui cara hidup dan cara bertindak sehari-hari kapan pun dan dimana pun. Wujud konkret penghayatan iman pada masa kini yang harus dihayati sungguh-sungguh serta disebarluaskan hemat saya adalah hidup jujur dan disiplin serta tidak melakukan korupsi sedikitpun (hal ini perlu dibiasakan dan dididikkan pada anak-anak atau peserta didik selama tugas belajar, yaitu anak-anak atau peserta didik dilarang menyontek baik dalam ulangan maupun ujian).

Jujur adalah sikap dan perilaku yang tidak suka berbohong dan berbuat curang, berkata-kata apa adanya daan berani mengakui kesalahan, serta rela berkorban demi kebenaran” (Prof Dr Edi Sedyawati/edit: Pedoman Penanaman Budi Pekerti Luhur, Balai Pustaka – Jakarta 1997, hal 17). Sedangkan “berdisiplin adalah kesadaran akan sikap dan perilaku yang sudah tertanam dalam diri sesuai dengan tata tertib yang berlaku dalam suatu keteraturan secara berkesinambungan yang diarahkan pada suatu tujuan atau sasaran yang telah ditentukan”  (ibid. hal 10).
Kedua keutamaan di atas ini hemat saya bernilai pada dirinya sendiri, artinya saya akan hidup jujur dan disiplin atau tidak jujur dan tidak disiplin akan sangat menentukan diri kita sendiri. Jika kita tidak jujur dan tidak disiplin yang rugi dan celaka pertama-tama dan terutama adalah diri saya sendiri dan baru kemudian orang lain di lingkungan hidup atau kerja kita masing-masing. Ada rumor: “jujur akan hancur”, memang benar jujur akan hancur, tetapi hancur untuk sementara dan  akan bahagia, mulia dan damai sejahtera selama-lamanya. Baik hidup jujur maupun hidup disiplin memang membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, dan pada masa kini hidup jujur dan disiplin juga harus menghadapi aneka tantangan, masalah dan hambatan. Sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, marilah kita hayati bahwa beriman kepadaNya berarti siap sedia untuk menderita dan berkorban, sebagaimana Ia telah menderita dan wafat di kayu salib demi keselamatan umat manusia seluruh dunia.

Bukan kepada kami, ya TUHAN, bukan kepada kami, tetapi kepada nama-Mulah beri kemuliaan, oleh karena kasih-Mu, oleh karena setia-Mu! Mengapa bangsa-bangsa akan berkata: "Di mana Allah mereka?" Allah kita di sorga; Ia melakukan apa yang dikehendaki-Nya! Berhala-berhala mereka adalah perak dan emas, buatan tangan manusia
(Mzm 115:1-4)
Ign 16 September 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.