Minggu Biasa XXIII

Mg Biasa XXIII: Yes 35:4-7a; Yak 2:1-5; Mrk 7: 31-37
"Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata."

Orang yang sakit bisu-tuli memang harus menghadapi aneka kesulitan dan tantangan. Dalam tayangan TV sering ada penyiar khusus bagi mereka yang memiliki sakit bisu tuli agar dapat mengetahui dengan baik apa yang sedang ditayangkan atau disiarkan melalui TV. Bisu tuli secara fisik mungkin lebih mudah dibantu atau diselamatkan daripada mereka yang memiliki penyakit bisu tuli secara spiritual atau rohani, karena pada umumnya orang yang bersangkutan akan lebih cenderung hidup dan bertindak hanya mengikuti keinginan atau selera pribadi, dan dengan demikian mengalami aneka keterbatasan dalam dirinya. Yang bersangkutan jelas akan menjadi gangguan dalam hidup bersama, sehingga hidup bersama tidak baik. Dalam Warta Gembira hari ini dikisahkan Yesus menyembuhkan orang tuli sehingga dapat mendengarkan dan orang bisu dapat berkata-kata. Maka sebagai orang yang beriman, khususnya yang beriman kepada Yesus Kristus, kita juga dipanggil untuk meneladanNya, yaitu menyembuhkan saudara-saudari kita yang bisu-tuli secara spiritual atau rohani.

"Ia menjadikan segala-galanya baik, yang tuli dijadikan-Nya mendengar, yang bisu dijadikan-Nya berkata-kata." (Mrk 7:37)

Apa-apa yang baik, luhur, mulia dan indah dst.. memang merupakan karya Allah, dan demikian juga yang dikerjakan atau dibuat oleh Yesus, Penyelamat dunia, dalam kedatanganNya di dunia ini. Tentu saja kita semua yang beriman kepadaNya dipanggil untuk meneladanNya, maka marilah dalam cara hidup dan cara bertindak kita dimana pun dan kapan pun senantiasa mengusahakan dan melakukan apa-apa yang baik, membahagiakan dan menyelamatkan, terutama kebahagiaan dan keselamatan jiwa manusia.

Dalam lingkungan hidup dan kerja kita pasti ada hal-hal yang kurang baik karena kelengahan atau keteledoran manusia, maka marilah kita perbaiki apa yang tidak baik serta kita ajak saudara-saudari kita yang bisu-tuli secara spiritual untuk mengusahakan kepekaan hati, jiwa dan budi dalam mendengarkan apa yang terjadi dalam lingkungan hidup dan kerjanya. Indera pendengaran hemat saya merupakan yang pertama kali berfungsi di antara indera-indera lainnya, namun entah mengapa pada umumnya semakin tambah usia mengalami erosi dalam hal mendengarkan. Mungkin hal itu disebabkan oleh aneka godaan dan rayuan duniawi yang sungguh marak pada masa kini.

Pada bulan Kitab Suci ini baiklah kita fungsikan Kitab Suci untuk membantu saudara-saudari kita tidak bisu dan tuli secara rohani atau spiritual. Apa yang tertulis di dalam Kitab Suci diilhami oleh Allah dan “segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2Tim 3:6). Apa yang tertulis di dalam Kitab Suci pertama-tama dan terutama untuk dibacakan dan didengarkan, bukan untuk didiskusikan atau dijadikan bahan omongan saja. Maka yang membacakan Kitab Suci hendaknya membacakan dengan baik sehingga dapat didengarkan, dan untuk itu hendaknya dipersiapkan, sebaliknya yang mendengarkan hendaknya sungguh mendengarkan. Kami percaya jika kita sungguh dapat mendengarkan dengan baik apa yang dibacakan dari Kitab Suci, maka kita pasti akan tidak tuli lagi terhadap aneka bisikan Roh Kudus yang menggejala dalam aneka kehendak baik saudara-saudari kita.

Jika kita menjadi pendengar yang baik dan dengan demikian kita kaya akan hal-hal baik sebagaimana diinspirasikan oleh sabda atau firman Allah, hendaknya apa yang kita dengarkan dan telah kita hayati segera diteruskan kepada orang lain. Dengan kata lain hendaknya dalam wacana atau omongan kita tidak hanya sekedar bicara atau omong saja, melainkan apa yang kita bicarakan atau omongkan adalah hal-hal baik, yang berinspirasi pada sabda atau firman Allah. Semoga kita terbiasa bercakap-cakap perihal apa-apa yang baik dan saling mendengarkan dengan baik dalam percakapan, sehingga kita semua diperkaya dalam hal-hal baik, keutamaan-keutamaan atau nilai-nilai kehidupan yang membahagiakan atau menyelamatkan, terutama kebahagiaan atau keselamatan jiwa manusia. Kami berharap pembacaan Kitab Suci ini dapat dilakukan setiap hari di dalam keluarga-keluarga, atau kalau tidak mungkin seluruh anggota keluarga dapat hadir karena tugas dan pekerjaan, kiranya dapat dilakukan dengan anggota keluarga yang ada atau sendirian. Ketika membaca Kitab Suci sendirian, hendaknya tidak dalam batin saja, melainkan disuarakan sehingga telinga dapat mendengarkan.

Saudara-saudaraku, sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus, Tuhan kita yang mulia, janganlah iman itu kamu amalkan dengan memandang muka. Sebab, jika ada seorang masuk ke dalam kumpulanmu dengan memakai cincin emas dan pakaian indah dan datang juga seorang miskin ke situ dengan memakai pakaian buruk, dan kamu menghormati orang yang berpakaian indah itu dan berkata kepadanya: "Silakan tuan duduk di tempat yang baik ini!", sedang kepada orang yang miskin itu kamu berkata: "Berdirilah di sana!" atau: "Duduklah di lantai ini dekat tumpuan kakiku!",bukankah kamu telah membuat pembedaan di dalam hatimu dan bertindak sebagai hakim dengan pikiran yang jahat?” (Yak 2:1-4)
Apa yang dikatakan oleh Yakobus di atas ini kiranya baik kita renungkan dan refleksikan. Kita diingatkan dan diajak untuk tidak membedakan satu sama lain dalam hidup dan pergaulan dimana pun, dan menghayati motto “berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah” alias sama-sama ciptaan Allah. Perbedaan yang ada di antara kita lebih bersifat fungsional, yaitu memfungsikan agar apa yang sama di antara kita dihayati semakin mendalam dan akurat serta handal.

Baik kepada mereka yang kaya raya dengan pakaian indah, menarik dan mahal besera asessorinya yang indah juga maupun mereka yang miskin dan compang-camping, kami harapkan untuk saling menghormati dan menghargai satu sama lain, dapat hidup bersama, berdampingan dengan mesra. Mereka yang kaya raya hendaknya tidak menjadi sombong serta melecehkan mereka yang miskin, sebaliknya mereka yang miskin kami harapkan tidak perlu kecil hati atau minder. Memang semuanya itu bermula dari hati kita masing-masing, maka kami harapkan kita semua memiliki kerendahan hati, keutamaan yang paling mendasar. Kita diingatkan untuk menghayati iman kita tanpa memandang muka, yang memang berbeda satu sama lain, melainkan lebih memandang apa yang ada di dalam  hati, karena kami percaya kita semua memiliki hati yang sama-sama baik.  
"Kuatkanlah hati, janganlah takut! Lihatlah, Allahmu akan datang dengan pembalasan dan dengan ganjaran Allah. Ia sendiri datang menyelamatkan kamu!” (Yes 35:4). “Kuatkanlah hati, janganlah takut” inilah yang hendaknya kita renungkan dan hayati. Jika kita lebih memandang dan memperhatikan apa yang sama di antara kita, maka kita tidak akan kecil hati dan tidak akan takut sama sekali bertemu dan bercakap-cakap dengan siapapun. Jika kita mengalami kesulitan bahasa lidah atau vocal, baiklah kita gunakan bahasa tubuh dalam percakapan kita. Dengan bahasa tubuh kita dapat berkomunikasi dan bercakap-cakap dengan siapapun tanpa pandang bulu atau muka. Bahasa tubuh adalah bahasa yang dianugerahkan oleh Allah kepada semua orang, maka marilah kita fungsikan dalam kebersamaan  kita dimana pun dan kapan pun.

“TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya. TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!”
 (Mzm 146:8-10)
Ign 9 September 2012

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.