Minggu Biasa XX

Mg Biasa XX: Ams 9:1-6; Ef 5:15-20; Yoh 6:51-58

” Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."


Makan dan minum merupakan kegiatan manusia yang paling banyak dikerjakan dan diminati. Orang yang masih mau makan dan minum dengan baik menunjukkan bahwa yang bersangkutan sehat wal’afiat, sebaliknya orang yang sulit atau tak bergairah makan dan minum pada umumnya sedang menderita sakit, sebagaimana terjadi dalam diri mereka yang sedang sakit dan dirawat di rumah sakit. Dalam media massa diberitakan bahwa mayoritas orang Indonesia ini adalah senang makan nasi alias mengkomsumsi beras, yang mengakibatkan bahwa penderita diabetes terbanyak adalah warganegara Indonesia. Memang apa yang kita makan dan minum atau menjadi komsumsi utama kita akan mempengaruhi kesehatan tubuh kita, demikian juga apa yang kita lihat dan dengarkan mempengaruhi perkembangan dan pertumbuhan kepribadian kita. Sabda hari ini mengingatkan dan mengajak kita semua yang beriman kepada Yesus Kristus agar kita ‘makan apa yang dianugerahkan oleh Tuhan’, karena “Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selamanya”, dan kiranya kita semua mendambakan setelah meninggal dunia hidup mulia dan berbahagia selamanya di sorga.


“Akulah roti hidup yang telah turun dari sorga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya, dan roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia.” (Yoh 6:51)


Sabda Yesus di atas ini kiranya mengajak kita semua untuk mawas diri apa artinya dan maknanya setiap kali kita menerima Tubuh Kristus atau Komuni Kudus di dalam Perayaan Ekaristi. Menerima Komuni Kudus berarti hidup dan bersatu dengan Yesus Kristus dan dengan demikain senantiasa hidup dan bertindak meneladan cara hidup dan cara bertindakNya, berpartipasi dalam karya penyelamatan dunia, yang menjadi tugas utama dalam perutusanNya. “Roti yang Kuberikan itu ialah daging-Ku, yang akan Kuberikan untuk hidup dunia”, demikian sabda Yesus. Sabda ini kiranya mengingatkan dan mengajak kita semua untuk mawas diri apa artinya setiap kali kita menerima Komuni Kudus atau Tubuh Kristus. Yesus telah memberikan atau membagikan TubuhNya kepada kita semua, maka setiap kali kita menerimaNya berarti kita dipanggil untuk berbagi kepada saudara-saudari kita, dimana pun dan kepada siapapun, tanpa pandang bulu.


Secara kebetulan hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, dan kami percaya banyak di antara kita berkumpul dengan dan saling memberi salam kepada saudara, sahabat dan kenalan, dan dalam kebersamaan tersebut pasti terjadilah saling berbagi, entah berbagi cerita atau pengalaman, makanan atau minuman, uang dst.. Maka marilah menggabungkan atau menyatukan diri dengan saudara-saudari kita yang sedang merayakan Idul Fitri, untuk memperdalam, memperteguh dan memperkembangkan sikap hidup dan tindakan saling berbagi, bercurhat dan berbagi aneka pengalaman dan kekayaan guna memperteguh dan memperdalam persaudaraan sejati antar kita, antar suku, agama dan ras. Kami percaya juga bahwa saudara-saudari kita, umat Islam, yang baru saja menyelesaikan ibadah puasa dan matiraga selama sebulan, cara hidup dan cara bertindaknya telah diperbaharui, lebih menyadari dan menghayati diri sebagai yang berasal dari Allah dan kelak akan kembali bersatu dengan Allah ketika telah meninggal dunia. Maka marilah kita refleksikan bahwa kita ‘telah turun dari sorga dan suatu saat harus kembali ke sorga’.


Urip iku kowo wong lelungan sing mampir ngombe” = Hidup itu bagaikan orang dalam berjalanan yang singgah sejenak untuk minum, demikian kata pepatah Jawa, yang kurang lebih berarti bahwa hidup ini hanya sebentar saja, maka hendaknya diisi dan dihayati sebaik-baiknya, tidak untuk berfoya-foya, bermalas-malasan atau hidup dan bertindak seenaknya. Memang karena waktunya hanya sebentar atau mepet ada dua kemungkinan orang menyikapinya: hidup seenaknya, menuruti selera pribadi atau hidup sebaik mungkin sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan. Kami berharap hidup yang hanya sebentar ini sungguh dihayati sesuai dengan kehendak dan perintah Tuhan, apalagi kita semua tidak tahu kapan kita dipanggil Tuhan atau meninggal dunia. Marilah waktu yang hanya sebentar ini kita isi dengan aneka cara hidup dan cara bertindak, yang menyelamatkan dan membahagiakan, terutama kebahagiaan atau keselamataan jiwa manusia.


Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati” (Ef 5:15-19).


Apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat Efesus di atas ini kiranya baik untuk kita renungkan atau refleksikan, lebih-lebih ajakan untuk “Berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati”. Dalam berkata-kata atau bercakap-cakap kapan pun dan dimana pun kita diharapkan mengatakan atau mempercakapkan apa yang baik, mulia, bermoral atau berbudi pekerti luhur, sehingga yang didengarkan dari perkataan atau percakapan kita mendorong para pendengar untuk “bersorak gembira bagi Tuhan dengan segenap hati”. Jauhkan dan berantas isi perkataan dan percakapan yang merangsang orang lain untuk berbuat dosa atau melakukan apa yang tidak baik, tidak bermoral dan tidak berbudi pekerti luhur.

Bernyanyi dan bersorak bagi Tuhan dengan segenap hati” itulah panggilan dan tugas pengutusan kita dalam cara hidup dan cara bertindak kita setiap hari dimana pun dan kapan pun. Hal ini berarti kita diajak dan dipanggil untuk menghayati hidup dan melaksanakan aneka tugas dan pekerjaan bagaikan sedang beribadah, sebagai wujud pembaktian diri sepenuhnya kepada Tuhan. Maka dengan ini kami mengingatkan dan mengajak segenap anggota Lembaga Hidup Bakti, entah yang menjadi imam, bruder atau suster, dapat menjadi teladan atau inspirator dalam pembaktian hidup sepenuhnya kepada Tuhan, kepada Penyelenggaraan Ilahi.


Kita semua juga diingatkan agar senantiasa mengusahakan untuk mengerti kehendak Allah dalam hidup sehari-hari, dalam hari-hari yang sarat dengan aneka bentuk kejahatan. Kehendak Allah antara lain menggejala dalam diri orang-orang yang berkehendak baik, dan saya percaya bahwa orang-orang yang berkehendak baik lebih banyak daripada yang berkehendak jahat. Maka saya juga mengajak siapapun yang berkehendak baik untuk mengungkapkan kehendaknya agar lebih mudah dimengerti orang lain, dengan kata lain marilah kita bersama-sama berusaha saling mengungkapkan dan mengerti kehendak kita, dan biarlah kebersamaan hidup kita akhirnya juga semakin baik, menyelamatkan dan membahagiakan. “Buanglah kebodohan, maka kamu akan hidup, dan ikutilah jalan pengertian.” (Ams 9:6), demikian pesan penulis Kitab Amsal yang hendaknya kita usahakan bersama-sama. Tentu pengertian dan kebodohan yang dimaksudkan di sini terkait dengan hati bukan otak.


“Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak berkekurangan orang yang takut akan Dia! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.Marilah anak-anak, dengarkanlah aku, takut akan TUHAN akan kuajarkan kepadamu!Siapakah orang yang menyukai hidup, yang mengingini umur panjang untuk menikmati yang baik?” (Mzm 34:10-13)

Ign 19 Agustus 2012   

“Selamat Idul Fitri, 1Syawal 1433 H”

Mohon maaf lahir dan batin, dan marilah kita teguhkan dan perdalam hidup persaudaraan sejati.  

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: