Minggu Biasa 31-A 5 November 2017: Ketaatan Hukum dalam Kasih adalah Rahmat

Ilustrasi (Courtesy of Badass)

Mal. 1:14b-2:2b.8-10; 1Tes. 2:7b-9.13; Mat. 23:1-12


INJIL hari ini merupakan terusan Injil hari Minggu  yang lalu. Semua tindakan kita, baik kepada Allah maupun kepada sesama, dasarnya adalah kasih.


Hari ini kita melihat praktik tindakan itu dalam bidang hukum, ibadat dan hidup sosial. Kritik Yesus ditujukan kepada para pemimpin bangsa Yahudi tetapi disampaikan kepadakita, para murid dan orang banyak. Ini agar supaya kita belajar dari kesalahan mereka dan tidak jatuh pada kesalahan yang sama.


Hukum dan aturan cenderung bertambah dan semakin ketat. “Susah ngomong sama kamu. Kalau kamu butuh sesuatu, urus sendiri.  Mulai besok, harus ada laporan, ditandatangani yang memohon dan penanggung awab.Tidak boleh lagi pakai sepeda motornya bapak.”


Ini contoh-contoh kecenderungan kita menambah aturan, kalau ada masalah dengan orang lain.


Dalam ibadat, kita menambah petugas tata-tertib, tujuannya untuk menolong umat yang datang terlambat untuk dapat menemukan tempat di dalam gereja. Jika ada umat yang lebih suka di luar – meskipun aneh, orang ke ‘Rumah Bapa’ cuma mau duduk di teras, tidak mau masuk – petugas tidak memaksa. Tetapi kita jadi cenderung marah dan kecewa.


Orang Yahudi ingin menepati Perjanjian mereka dengan Allah dengan setia melaksanakan hukum. Hal itu bagimu harus menjadi tanda pada tanganmu dan menjadi peringatan di dahimu (Kel.13:9). Maksudnya agar perintah Allah menjadi pusat perhatian dan dilaksanakan.


Orang Yahudi mematuhinya dengan membuat tali-tali sembayang, dimana diikat ayat-ayat dari Taurat pada dahi dan tangan mereka, waktu berdoa. Makin lebar dan panjang tali itu, maka lebih banyak ayat dapat ditulis, atau dibordir.


Jangan tertawakan mereka. Kita suka pakai rosario emas, mutiara atau apa yang bagus; lebih besar, lebih kecil; pokoknya unik, menarik dan dikagumi orang. Begitu juga dengan patung Hati Kudus, Maria, gambar-gambar suci dsb.


Bakti kepada Allah perlu dinyatakan dalam tanda dan simbol yang nampak nyata. Hal ini merupakan kesalehan. Celakanya,  mau atau tidak, kesalehan kita dapat menjadi status simbol yang dapat menaikkan gengsi kita.


Kalau kita tidak sadar, kita tidak lagi mencari Allah dalam semua kebaktian kita, tetapi mencari kehormatan diri sendiri. Akhirnya kita tanpa sadar jatuh pada kemunafikan. Penegasan Yesus untuk jangan memanggil Guru, Bapa atau Pemimpin bukan hukum.


Kita punya banyak guru; pater itu bapa, pastor itu gembala, imam itu pemimpin. Tetapi sikap dalam semua gelar itu ialah: sikap melayani. Bentuk kasih yang paling nyata ialah pelayanan. Melayani berarti kita berpusat pada kebutuhan orang yang akan mendapat pelayanan kita.


Berkat dalam bentuk ‘hukuman’


Anak itu duduk tegak, kepala tengadah menantang dan tangan terkepa. “Hukum saja saya.”


Pak Kelapa Sekolah memandang si pemberontak itu.


“Sudah beberapa kali  kamu dibawa ke sini?”


Anak itu menjawab sinis. “Jelas belum cukup.”


Kepala sekolah menatap dia. “Dan tiap kali kamu datang, kamu dihukum. Benar?”


“Ya. Saya selalu dihukum seperti yang bapak bilang.”


Dia membusungkan dadanya.


“Ok. Hukum saja lagi. Saya bisa menanggung segala macam hukuman.”


“Dan tiap hukuman tidak masuk dalam pikiranmu setiap kali kamu melanggar aturan lagi, bukan?”


“Memang tidak. Saya lakukan apa yang mau saya buat. Dan kalian tidak bisa menghentikan saya.”


Pak Kepala Sekolah memandang guru piket yang berdiri di sana. “Kali ini,  anak ini melakukan apa?”


“Berkelahi.  Ia menjorokkan kepala Tommy ke kotak pasir.”


Kepala sekolah bertanya kepada anak itu: “Kenapa? Apa yang dilakukan Tommy kepadamu?”


“Tidak ada. Saya tidak suka saja caranya melihat saya. Sama seperti saya juga tidak suka cara bapak melihat saya. Dan kalau saya bisa melakukannya, saya rasa, saya akan mendorong muka bapak ke sesuatu.”


Guru piket berdiri; tapi pandangan Kepala Sekolah membuat dia duduk lagi. Dipandangnya anak itu agak lama dan dengan lembut dia berkata: “Anakku, hari ini merupakan saat kamu belajar tentang berkat.”


“Saya nggak perlu berkat barumu.”


“Kamu pasti memerlukannya. Berkat secara singkat ialah kebaikan yang tidak layak diterima. Kamu tidak dapat mengusahakan berkat. Itu adalah pemberian. Artinya, kamu tidak akan menerima apa yang selayaknya kamu dapatkan.”


Anak itu bingung. “Jadi, bapak tidak akan menghukum saya? Saya boleh pergi?”


Kepala Sekolah itu memandang anak yang keras kepala itu. “Ya, saya akan membiarkan kamu pergi.”


Anak itu menatap mata Kepala Sekolah. “Tidak ada hukuman sama sekali? Meski saya sudah memukul Tommy dan memasukkan kepalanya ke kotak pasir?”


“Oh, harus ada hukuman. Yang kamu lakukan itu salah. Dan selalu ada akibat dan perbuatanmu. Berkat itu bukan alasan pemaaf untuk tindakan salah.”


“Saya sudah tahu.” Desis sinis anak itu.


Dia mengajukan tangannya. “Cepat kita selesaikan saja.”


Kepala Sekolah mengangguk kepada guru piket. ”Tolong ambilkan sabuknya.”


Guru Piket memberikan sabuk itu ke kepala sekolah. Dilipatnya jadi dua sabuk itu. Dan dikembalikannya ke Guru Piket.


Dia memandang anak itu dan berkata: “Saya mau kamu menghitung pukulannya.”


Kepala Sekolah turun dari bangkunya, berdiri di belakang anak itu. Dilipatnya tangan anak itu dan ia yang mengajukan tangannya.


Ia berbisik: “Mulai.”


Sabuk itu memecut tangan Kepala Sekolah yang terulur itu. “Plak.”


Anak itu terlonjak terkejut. “Satu.” Bisiknya. “Plak” “Dua.” Suaranya meninggi. “Plak” “Tiga.” Anak itu merasa gelisah. “Plak. “Empat.”


Air matanya mengembang. “Sudah. Berhenti, cukup. Pecutan sabuk itu terus memukul telapak tangan dari Kepala Sekolah. “Plak. Anak itu terisak. Air matanya turun membasahi pipinya.


“Tolong, berhenti. “Plak. Plak” Dia memohon.


“Berhenti. Saya yang salah. Saya yang harusnya dipukul. Tolong, berhenti, berhenti.”


Tetapi cambukan itu berlangsung terus, sampai akhirnya berhenti. Kepala Sekolah berdiri gemetar. Keringat membasahi wajahnya dan menetes jatuh dari dagunya.


Perlahan dia berlutut. Ditatapnya wajah yang berlinang air mata dari anak itu. Dengan tangannya yang bengkak, dipeluknya anak itu, dia tersedu di dadanya. Itulah berkat. (Food for thought: Grace)


Kepala Sekolah itu menerapkan hukum disiplin dan keadilan. Yang salah harus dihukum. Tetapi hukum dipakai dalam cintakasih yang menumbuhkan anak muridnya. Itulah hukum yang melayani. Itulah berkat.


Allah Bapa juga Mahaadil dan Maharahim. Kedosaan manusia harus dibersihkan supaya manusia mendapat kembali kebebasannya. Pembersihan itu dengan penebusan. Kalau manusia harus menebusnya sendiri, maka sebagian besar manusia akan mati. Tetapi Allah mengutus PuteraNya untuk menebus dosa manusia. Sehingga manusia menjadi bebas kembali dan dapat kesempatan untuk sekali lagi memilih mengasihi Allah dan mengikuti PuteraNya.


Dari teguran Yesus, kita belajar bagaimana agar dapat menghindari kesalahan dan kemunafikan orang Yahudi. Tetapi dengan melihat kasih Allah dalam Yesus Kristus, kita diajak untuk meneladan Yesus; menjadikan hukum sebagai pelayan kebebasan dan pertumbuhan manusia.


Hukum dibuat untuk mengatur hidup bersama. Dan dapat disalah gunakan untuk kepentingan kita, yang membuat dan melaksanakan hukum itu. Tetapi hukum dalam bingkai kasih, menjadi pembebasan dan pertumbuhan manusia.


Hukum kasih adalah berkat bagi kita. Semoga kita ikut mewujudkannya. Amin.


Romo Hans Handrianto Widjaja Pr

Pastor diosesan (praja) Keuskupan Denpasar.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.