Minggu 27 Juli 2014: Minggu Biasa 17 A, Hidup Itu Suatu Pilihan

Kebijaksanaan by Mud Preacher

YANG diminta Raja Salomo itu yang berkenan kepada Tuhan, karena yang diminta bukan harta, bukan kedudukan, bukan kuasa dan juga panjangnya usia, melainkan kebijaksaan supaya dapat memerintah dengan adil.

Menurut Santo Paulus hidup yang bijaksana itu hidup menurut panggilan Tuhan, yaitu menjadi terang Allah.

Tuhan Yesus mengajarkan bahwa kebijaksanaan Allah berbeda dengan rencana manusia.

Maka kalau ingin mendapatkan kebijaksaan sejati itu harus berani menjual semua miliknya untuk mendapatkan harta yang lebih bernilai, yaitu harta surgawi atau Kerajaan Allah.

Merenungkan pengalaman hidup
Kekhususan manusia ialah bahwa ia dapat memilih dan merencanakan masa depannya sendiri. Sejak kecil kita pun sudah dilatih untuk memilih. Kita memilih makanan, kita pilih pakaian: mana yang kita sukai dan mana yang cocok, kita memilih tempat tinggal, kita memilih barang-barang di toko, kita memilih sekolah, memilih jurusan: mana yang mendukung masa depan saya dsb.

Setiap pilihan itu sangat menentukan, terutama yang berhubungan dengan masa depan. Setiap pilihan yang kita tentukan pasti kita anggap yang paling bernilai. Ada orang yang senang kuliah terus, karena ilmu pengetahuan itu baginya sangat bernilai. Sebaliknya ada orang yang berpendapat bahwa bekerja itu lebih bernilai daripada sekolah.

Pernah ada pemuda sejak tamat SMP ia bercita-cita menjadi perawat. Orangtuanya sebenarnya tidak begitu setuju, karena menjadi perawat menurut mereka tidak menjanjikan masa depan yang gemilang. Tetapi anak itu ngotot sekali, bahwa ia ingin menjadi perawat. Maka ia pun mengikuti tes di Rumah Sakit Umum di Yogyakarta.

Namun sayang sekali bahwa tinggi badan pemuda ini belum mencukupi, sehingga ia tidak dapat diterima untuk sekolah perawat. Pemuda itu pun menjadi susah sekali. Anehnya ia tidak putus asa. Ia masih ingin mencoba satu kali lagi setelah tamat SMA, agar diterima di AKPER.

Ketika ditanya motivasinya: “Mengapa kamu menjadi perawat?”

Jawabannya sederhana sekali: Ia ingin membantu memperingan penderitaan sesama. Ia ingin bekerja sosial. Orangtuanya sebenarnya menginginkan agar anaknya melanjutkan ke universitas dan menjadi sarjana, agar nanti dapat pekerjaan yang lebih baik. Tetapi semua itu ditolaknya. Akhirnya cita-citanya untuk menjadi perawat di rumah sakit terlaksana. Ia amat bersyukur dan ia bekerja sangat tekun.
Kita diajak belajar juga dari Kitab Suci, bahwa Raja Salomo dulu tidak memilih kekayaan, kuasa atau kedudukan, tetapi mohon kebijaksanaan dariTuhan, agar dapat memerintah dengan adil. Ini adalah suatu permohonan yang aneh atau gila untuk saat sekarang. Karena banyak orang berebut untuk mendapat kedudukan dan kekuasaan, bukan untuk memerintah dengan adil atau untuk melayani sesama, tetapi lebih-lebih untuk dapat memenuhi kepentingan pribadinya atau menguntungkan kelompoknya.

Lalu apa yang dimaksud dengan kebijaksanaan?

Kebijaksanaan bukan kecerdasan otak atau keahlian, melainkan kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Dan lebih lanjut Kitab Kebijaksanaan menjelaskan bahwa ‘kebijaksanaan’ itu artinya hidup menurut kehendak Tuhan atau hidup menurut panggilan Tuhan.

Setiap upacara kematian kita mendengar bacaan dari Kitab Kebijaksanaan: ”Kehormatan seseorang tidak diukur menurut panjanganya usia dan tidak diukur menurut jumlahnya tahun, tetapi pengertian (kebijaksanaan) itulah bernilai sebagai uban dan hidup tak bercela itulah bernilai sebagai usia lanjut”. Kebijaksanaan adalah hidup yang berkenan kepada Tuhan. Kalau setiap orang berani memohon kepada Tuhan ‘ kebijaksanaan” dan mencoba supaya hidupnya berkenan kepada Tuhan, maka saya kira dunia ini damai sekali.

Namun kiranya hal ini tak akan terjadi di dalam dunia yang sedang bergolak seperti saat sekarang ini. Menurut Santo Paulus hidup yang bernilai adalah hidup menurut rencana atau hidup sebagai anak Allah. Itulah sebabnya santo Paulus juga berani mengesampingkan apa-apa saja, agar dapat menanggapi panggilan Tuhan secara utuh.

Tuhan Yesus menjelaskan dengan perumpamaan bahwa orang yang sudah menyadari atau memahami arti Kerajaan Surga yang dijanjikan oleh Bapa di surga, akan rela menjual segala-galanya untuk memperoleh harta surgawi itu (yang dilabangkan dengan mutiara atau harta terpendam).

Dari saat sekarang ini Tuhan Yesus mengajak kita untuk memilih dan menentukan masa depan kita: mana yang membawa kita kepada kebahagiaan dan hidup sejati, dan mana ynag membawa kita kepada kehidupan yang semu. Dewasa ini pun banyak orang akan mentertawakan kita, kalau kita mengiklaskan segala milik kita untuk suatu tujuan yang tidak jelas dan dapat dirasakan sekarang ini.

Pernah pada satu hari kami ikut upacara pengenaan busana baru pada para para suster novis. Sebelum mengenakan busana baru itu para suster mengenakan dandanan pengantin, sehingga seluruh Umat yang hadir tertegun. Sebab mereka seperti melihat kontes ratu kecantikan.

Tetapi pada waktu upacara mengenakan busana baru itu semua hiasan dan kegemerlapan duniawi itu ditanggalkan dan diganti busana biara. Banyak orang yang terharu dan menteskan air mata. Bahkan ada seorang pemuda yang berkomentar’ Sayang, orang cantik-cantik begitu masuk biara.” Memang inilah panggilan Tuhan yang kadang-kadang tidak dapat kita pahami dengan akal, tetapi hanya dapat kita pahami dengan iman atau kebijaksanaan ilahi.

Maka satu pertanyaan bagi kita semua: “Beranikah kita memilih kebijaksanaan?”.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.