Minggu 24 Agustus 2014: Minggu XXI A, Itu Jawaban Manusia terhadap Tuhan

Petrus diserahi kunci surba by Sommerville

Gagasan pokok.

IMAN  itu pengakuan pribadi terhadap Tuhan, bukan menirukan orang lain, bukan karena dipaksa. Iman yang ikut-ikutan dan karena terpaksa itu bukan iman. Apalagi kalau beriman itu dipaksa dengan kekerasan, itu sungguh-sungguh bukan agama, sebab yang ada hanya rasa takut. Iman itu muncul dari kesadaran pribadi.

Iman itu akan diperteguh dari refleksi “Siapakah Tuhan itu bagi diri saya? “

Dari pengakuan iman yang jujur inilah kemudian akan muncul perbuatan yang sesuai dengan keyakinannya. Iman yang demikian ini akan mendekatkan orang kepada Tuhan, menumbuhkan cintakasih kepada Tuhan dan menumbuhkan semangat kasih kepada sesama. Dalam hal ini kita diperteguh oleh kesaksian Petrus, rasul pengikut Yesus:

Sekali peristiwa Yesus tiba di daerah Kaisarea Filipi, Ia bertanya kepada murid-murid-Nya: “Kata orang siapakah Anak Manusia itu?”

Jawab mereka: Ada yang mengatakan Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan Elia, dan ada pula yang mengatakan Yeremia atau salah seorang dari para nabi.” Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini ?”

Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Messias, anak Allah yang hidup.”

Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon anak Yohanes, karena bukan sembarang manusia yang bisa menyatakan ini, kecuali orang yang mendapat penerangan khusus dari Allah.

Maka Aku berkata kepadamu:” Engkau adalah Petrus dan diatas batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat.16:15-19).

Petrus sungguh menyatakan imannya bukan dari orang lain, melainkan dari lubuk hati dan pengalaman pribadinya dengan Yesus. “ Engkau adalah Mesias Anak Allah yang hidup.”
Maka Yesus langsung memberikan tanggapan positif: “Berbahagialah engkau Simon anak Yohanes”, karena bukan sembarang manusia yang bisa menyatakan ini, kecuali orang yang mendapat penerangan khusus dari Allah. Iman yang semacam inilah yang diharapkan oleh Yesus, sehingga Yesus menjulukinya “batu karang”, dan diatas batu karang ini Gereja bisa didirikan.

Pondasi Gereja harus kuat. Maka Yesus berani menyerahkan kuasa Gereja pada Petrus, walaupun kelemahannya juga ada.

Mengapa justru Yesus memilih Petrus, yang menurut perhitungan manusia juga manusia lemah seperti kita, seorang nelayan biasa dan tidak terpelajar? Mengapa Tuhan Yesus mempergunakan orang yang pernah bersimpang jalan denganNya, sewaktu Ia meramalkan DiriNya akan menderita sengsara dan bahkan pernah mengingkariNya sampai tiga kali?

Di sini Tuhan Yesus tidak hanya melihat kelemahan, tetapi lebih pada kekuatan iman dan ksetiaannya. Dalam sejarah keselamatan kita juga mengenal tokoh-tokoh yang dipilih oleh Tuhan Allah untuk bekerja-sama dalam mewu-judkan keselamatan itu, seperti : Abraham, Musa, Daud, para Nabi, Bunda Maria, Yohanes Pemandi dan juga para Rasul. Mereka ini dipilih oleh Tuhan Allah bukan karena kehebatan atau jasa mereka, tetapi semata-mata sebagai tanda penyelenggaraan Ilahi terhadap UmatNya.

Apa arti dari firman Tuhan Yesus ini? Tuhan Yesus menghendaki agar Gereja itu bersatu dalam iman didalam penggembalaan Petrus. Seperti dalam Perjanjian Lama Tuhan Allah menghendaki bahwa Umat Allah dipimpin oleh Raja yang dipilih oleh Raja yang menjadi perpanjangan tangan Allah sendiri.

Demikian pula Tuhan Yesus menetapkan bahwa Gereja ada dibawah pimpinan Petrus. Kalau Gereja meninggalkan batu pondasinya yang dipilih oleh Kristus sebagai pemersa-tunya, maka Gereja itu akan roboh. Hal ini dapat kita lihat dalam banyaknya perpecahan di dalam Gereja. Karena meninggalkan kegembalaan Petrus atau tidak mau mengakui kepemimpinan hirarki, maka kelompok itu akhirnya hidup dalam organisasi yang dibuatnya sendiri.

Alam maut tidak akan menguasainya lagi itu berarti bahwa selama Gereja berdiri dalam dasar iman yang dikelola oleh pimpinan Gereja, maka Gereja tidak akan runtuh dan tidak akan dirongrong oleh kekuasaan kegelapan.

Petrus dan penerus-penerusnya diberi izin untuk mengikat dan melepaskan Umat Kristen di dalam masalah iman dan moral. Dalam janji ini terkandung pula kewenangan untuk mengubah, memperbaharui, mengembangkan atau memperjelas ajaran iman. Namun dalam sejarah Gereja perubahan diadakan bukan untuk meniadakan yang sudah ada, melainkan untuk memperkembangan dan memperjelas kebenaran yang sudah ada sebelumnya.

Maka peranan hirarki yang melanjutkan Kristus itu ditandai oleh tiga hal, yaitu: mempersatukan Umat beriman, mengajar serta mengarahkan Gereja seturut dengan ajaran Yesus, dan menguduskannya dengan sakramen-sakramen. Inilah juga yang menjadi ciri dari kegiatan seluruh Umat. Hanya dengan ketaatan kepada Tuhan Yesus yang demikian ini, Gereja bersama dengan pengganti Petrus, dapat menjadi kunci keselamatan bagi seluruh Umat manusia. Kita pun juga dipanggil untuk menjadi manusia kunci, pembuka jalan keselamatan bagi orang lain.

Pesan bagi kita: Keselamatan akhirnya terletak dalam kesatuan Tuhan dan kesatuan dengan umat beriman lain berdasarkan pengakuan pribadi dengan Tuhan. Pepecahan dalam Gereja dan dalam masyarakat terjadi karena unsur pemersatunya ditinggalkan. Orang mencari keselamatan sendiri, bahkan hidup tanpa iman atau hidup dengan meninggalkan Tuhan. Maka kembali pertanyaan diatas.

Menurut pribadimu: Siapakah Tuhan itu bagi kita?

Kredit foto: Yesus menyerahkan kunci surga kepada Petrus (Courtesy of Sommerville)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.