Minggu, 22 Februari 2015: Minggu Prapaska I

yesus dan setan

Kej 9:8-15 Mzm 25:4b-9; 1Ptr 3:18-22; Mrk 1:12-1

SEKALI peristiwa Roh memimpin Yesus ke pada gurun. Di padang gurun itu Ia tinggal empat puluh hari lamanya dan dicobai Iblis.

Dalam Injil hari ini St. Markus mewartakan bahwa Roh memimpin Yesus ke pada gunrun.selama empat puluh hari dan dicobai Iblis (Mrk 1:12). Mengapa Yesus di padang gurun begitu lama dalam kesendirianNya? Saya bayangkan, Yesus semacam sedang menjalan “fit and proper test”, seperti seorang pilot, agar siap terbang. Yesus hamba Allah yang rendah hati menjalani ujian itu dengan keberhasilan.

DI tengah padang gurun, Yesus mengalami ujian dari Allah untuk menyelesaikan tugas perutusanNya. Empat puluh hari lamanya, Ia mempersiapkan diri menjalan tugas perutusanNya yang akan disempurnakanNya melalui penyerahan hidupNya sebagai kurban tebusan bagi dosa-dosa kita.

Kita belajar dari Injil hari ini, meski Yesus dalam kondisi lemah, lelah, dan lapar selama berpuasa empat puluh hari lamanya, namun dengan baik Yesus teguh menghadapi cobaan Iblis. Ia menemukan kekuatan pada sabda Allah dan bertahan dalam melaksanakan kehendak Allah dengan baik.

Apa makna bahwa Yesus menghabiskan waktu empat puluh hari lamanya dalam doa dan puasa di padang gurun bagi kita? Pertama, empat puluh Yesus di padang gurun itu menjadi masa retret bagi kita untuk mencari dan memandang wajah Allah yang menyelematkan kita dalam Kristus. Saat penting untuk mengalami perjumpaan dengan Allah yang menyalamatkan.

Kedua, kita dapat membandingkan pengalaman Yesus dengan pengalaman Perjanjian Lama. Dalam Perjanjian Lama, masa empat puluh merupakan masa penting bagi para nabi untuk mengalami perjumpaan dan relasi dengan Allah yang menyatakan janji keselamatanNya.

Kita mengenal nabi Nuh dan keluarganya, yang taat pada Allah dan setelah empat puluh hari menanti setelah hukuman air bah berakhir, Allah menyatakan janjiNya kepada Nuh tidak akan lagi menghancurkan manusia dan semesta. Yesus menggenapi janji Allah itu. Kita juga membaca dalam Kitab Keluaran, pengalaman Nabi Musa yang berdoa selama empat puluh hari di Sinai untuk kemudian membawa keselamatan bagi umat Israel dalam pembebasan dari Mesir. Kita juga mengenal Nabi Elia yang berdoa selama empat puluh hari sebelum kemudian menjalankan tugas perutusannya.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar menemukan kekuatan dari Allah dengan membangun sikap tobat dan percaya kepada Kristus. Bertobat berarti mengubah cara hidup dari dosa dan salah kepada rahmat dan kebenaranNya. Kita menyerahkan diri kepada Allah dengan hidup selaras kehendakNya. dengan menyembah Allah, kita menyerahkan hidup kita dan percaya kepada penyelenggaraanNya. Melalui Kristus, Allah mencurahkan rahmat dan berkatNya bagi kita yang tekun menimba daya kekuatan daripadaNya dan belajar mendengarkan kehendak-Nya.

Tuhan Yesus Kristus, sabdaMu adalah hidup, sukacita, kebijaksanan dan kekuatan kami. Penuhilah kami dengan Roh Kudus hingga kami memperoleh daya kekuatan untuk melaksanakan kehendakMu dalam segala hal dan menyelaraskan hidup kami dengan kehendak-Mu saja kini dan selamanya. Amin.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.