Mgr. Pujasumarta: Perbuatan Baik Bungkam Kepicikan

Mgr Puja bersama anak-anak tuna rungu

PEMERINTAHAN yang akan datang perlu didukung dengan hati dan cinta, bukan dengan kelaliman, apalagi dengan wibawa uang.

“Perbedaan pendapat selama proses demokrasi dalam pemilu perlu ditempatkan dalam kerangka peziarahan menuju keindahan berbangsa,”tegas Uskup Keuskupan Agung Semarang (KAS), Mgr. Pujasumarta dalam Surat Gembala jelang ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia ke-69.

Setelah pemilu, menurut Monsinyur Puja, segala bentuk perpecahan dan pengkotak-kotakan harus dicairkan kembali. Umat Katolik KAS, kata monsinyur, perlu menjadi teladan sebagai negarawan yang aktif dalam pemerintahan dan kehidupan di tengah masyarakat dalam upaya memaknai Persatuan Indonesia dengan mengupayakan persaudaraan sejati.

Menurut Monsinyur, sebagai rakyat Indonesia, kita dipanggil untuk kemerdekaan. “Mari saling membantu dan melayani satu sama lain, menghadirkan damai sejahtera dalam cinta kasih.”ujar Monsinyur Puja.

Dengan berbuat baik, kita dapat membungkam kepicikan orang-orang yang berpikiran bodoh. Hidup sebagai orang merdeka, kata monsinyur, tidak lagi menyelubungi kejahatan-kejahatan kaum perancang dosa yang merusak bangsa, tetapi hidup sebagai hamba Allah yang saling menghormati, mengasihi sebagai saudari-saudaranya, setia kepada kebenaran dan mendukug setiap rancangan yang benar-benar baik.

“Merdeka berarti tidak lagi menghamba, memperhamba, melainkan bersatu, bersahabata, bersaudara dengan semua warga negara.”tegas Monsinyur.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: