Mgr. Julianus Sunarka SJ: “Romo, Jangan Main-main dengan ‘Burung’mu!” (1)

RUMAH Retret Panti Semedi Sangkal Putung, Klaten, menjelang Natal tahun 1981.

Di tengah hiruk pikuknya seminaris Medan Utama (setaraf kelas 3 SMA) dan KPA (Kelas Persiapan Atas) mulai menyesaki kamar-kamar di sepanjang lorong barat rumah retret ini, muncul sosok imam berpenampilan sederhana murah senyum dan sedikit gempal.  Itulah pertama kali, saya mengenal secara fisik Romo Julianus Kema Sunarka SJ yang waktu itu bertugas –kalau tak salah– sebagai Rektor Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta, setelah sebelumnya sempat menjadi ekonom Keuskupan Agung Semarang membantu Kardinal Justinus Darmajuwono Pr, pemangku Uskup di KAS.

Romo Sunarka SJ sengaja rawuh ke Sangkal Putung menjadi pembimbing retret untuk para seminaris tingkat atas, sebelum akhirnya masing-masing akan segera melanjutkan studinya atau tahapan formasi berikutnya di sejumlah ordo atau tarekat religius. Perasaan asing tentu saja menghinggapi mayoritas seminaris waktu itu, karena di Mertoyudan nama Romo Sunarka SJ belum banyak dikenal.

Tapi dalam sekejap, gaya dan tampilan Romo Julianus Sunarka SJ membawakan  pengantar memasuki masa retret pemantapan panggilan langsung bisa membetot emosi dan perhatian para seminaris.

Sebagai imam senior, beliau tidak bicara muluk-muluk tentang apa itu panggilan imamat. Meski sebenarnya bagi para seminaris tingkat atas yang sebentar lagi masuk tahapan novisiat atau tahun rohani, hidup imamat sungguh masih menjadi ide besar yang teramat ‘suci’ untuk ditelaah oleh para seminaris yang lagi hot-hot-nya mengalami masa pubertas.

Punya kelamin

Sebagai pembimbing retret, Romo Julianus Kema Sunarka SJ langsung menukik tepat sasaran. Menjadi -imam atu pastur –kata beliau waktu itu— akan sedikit banyak juga harus  mau berurusan dengan bagaimana bisa  me-manage– ‘burung’ nya masing-masing.

Seminaris pun –termasuk saya—langsung terbahak-bahak mendengar celotehan ‘kasar’ waktu itu. Separuh anggota retret sangat kaget, dan sisanya ‘tercekam’ kuat: lah ada apa ini?

Mosok sih? Bukannya proses ‘menjadi’ imam itu melulu perkara miliknya Tuhan?

Begitu kurang lebih reaksi spontan para seminaris Medan Utama dan KPA yang sempat terekam di benak saya waktu itu. Salah seorang seminaris yang dikenal braokan dan sering mengaku diri punya libido besar –kini sudah dia sudah almarhum setelah sebelumnya menjadi imam selama 15 tahun—serasa tidak terkutik.

Ia hanya bisa klecam-klecem, sedikit menahan malu, lalu  mencari ‘dukungan’ teman-teman angkatan agar poin penting soal per-‘manuk’-an itu dibahas lebih lanjut.

Jangan main-main dengan ‘burungmu’

Saya tidak ingat persis bagaimana akhirnya poin penting nan menarik soal ‘burung’ itu akhirnya diperbincangkan lebih lanjut di forum instruksi atau pengarahan sebelum memasuki ruang hening untuk meditasi. Namun ada beberapa hal yang saya ingat dari triduum (retret tiga hari) bersama Romo J. Sunarka SJ itu. 

  • Panggilan menjadi religius –entah imam, bruder atau suster—itu juga menyangkut perkara ‘manusiawi’ alias menyangkut soal per-‘manuk’-an juga. Kasarnya begini, kalau yang bersangkutan memang dari sononya punya libido sangat besar dan sering tidak kuat ‘ngampet’, barangkali jalan hidup menjadi seorang selibater (tidak menikah) menjadi tidak cocok dengan ‘karakter alami’ yang bersangkutan. “Ingat ya, menjadi imam itu panggilan seumur hidup!,” tutur Romo Sunarka SJ membekali wawasan para seminaris.
  • Setiap seminaris punya ‘manuk’ masing-masing. Entah besar atau kecil, namun ‘barang penting’ ini mesti juga disikapi secara arif dan bijaksana. Lazimnya yang berlaku dimana-mana, bermain air itu basah, maka ‘bermain-main dengan ‘burung’ juga akan membawa masalah pula’. Jadi, kata Romo Sunarka SJ waktu itu, “Ya jangan sampai kalian menjadi suka bermain-main dengan ‘burung’mu!”.
  • Harus jujur dengan diri sendiri manakala harus menyangkut sejarah ‘burung’. Yang dimaksud sederhana saja: masing-masing seminaris diajak refleksi melihat ‘sejarah kedagingan’ mereka masing-masing untuk kemudian ‘bertanya’ pada diri sendiri dan Tuhan agar memberi ‘pencerahan’ kemana kaki ini selanjutnya harus melangkah. Apakah ke novisiat, tahun rohani, universitas alias jebling?

Tiga hari retret triduum pun usai sudah. Beberapa pekan kemudian ketika para seminaris itu sudah kembali  menjalani rutinitas hidupnya di Seminari Mertoyudan, barulah apa yang baru saja dipermenungkan selama retret bersama Romo J. Sunarka SJ itu pun memperlihatkan ‘hasil’nya. Dari 30-an seminaris yang tersisa sejak masuk asrama tahun 1978 (mulai di KPP/MP), ternyata tak lebih dari 25% seminaris melanjutkan studinya dalam formasi berikutnya di tahun rohani atau novisiat. 

Sisanya pada jebling alias melanjutkan studi berkuliah di universitas  atau tempat lain dan bahkan masuk Akademi Kepolisian RI di Semarang. 

Sudah barang tentu, soal jebling itu tidak melulu hanya masalah per-‘manuk’-an semata. (Bersambung)

Photo credit: Currumbine Shrine, Gold Coast, Brisbane, NSW (Mathias Hariyadi)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.