Mgr. Julianus Sunarka SJ Bicara tentang Paranormal dan Anugerah Adikodrati (1)

SEMUA barang ciptaan bisa menjadi sarana keselamatan manusia. Anugerah paranormal adalah salah satu ciptaan Tuhan. Manusia diberi kebebasan untuk menggunakannya dengan akibat yang sepadan karenanya.

Demikian ditulis Uskup Keuskupan Purwokerto yang juga penggiat di bidang keparanormalan Mgr. Julianus Sunarka SJ dalam tulisannya berjudul “Kemampuan Paranormal sebagai Anugerah Kodrati dan secara Istimewa sebagai Anugerah Adikodrati”.

Namun sebelum melangkah lebih jauh, tentang paranormal, rasanya baik bagi kita pertama-tama memasuki beberapa pengertian pokok dengan tujuan agar kita tidak terkacaukan oleh berbagai yang sering kita jumpai dalam hidup sehari-hari.

Bidang paranormal menurut Bapa Uskup memang mengandung banyak segi dan sering membingungkan orang. “Bila masalah-masaloah dasar sudah kita pahami, kita bisa dengan tenang dan mampu bersikap bijaksana dalam menghadapi peristiwa-peristiwa yang dihadapkan umat kepada pastor untuk mendapatkan jawaban,” ujarnya.

Yang penting juga dengan mempelajari masalah paranormal, kita makin bisa mengenal kenyataan keparanormalan yang sampai sekarang tidak jarang masih asing bagi kebanyakan umat Katolik.

John Hearney seorang doktor dalam bidang teologi dogmatik dalam desertasinya tentang keparanormalan melukiskan secara singkat, “paranormal adalah apapun yang di luar paradigma yang sudah biasa diterima sehubungan dengan disiplin ilmu dan penalaran kritis.”

Sementara itu Bambang Harsrinuksmo menyatakan bahwa paranormal adalah kemampuan lebih ‘daya linuwih’ dari seseorang dibandingkan dengan kebanyakan. Biasanya kemampuan paranormal dikaitkan dengan hal-hal mistik, metafisik, kemampuan indera ke-enam, kemampuan berhubungan dengan alam gaib, kemampuan meramal, kekebalan tubuh dan kemampuan menyembuhkan penyakit. Dan orang yang berkemampuan paranormal disebut paragnost.

Di sini, kata Monsinyur Sunarka, perlu disadari bahwa cara Harsrinuksmo melihat masalah keparanormalan lebih berpangkal pada hasil konstatasi terhadap gejala sosio-kultural. Sedangkan John Hearney memandangnya lebih berpangkal pada masalah kodrat dan adikodrati menurut teologi parapsikologi.

Masih muda
Parapsikologi terhitung ilmu masih muda, adalah suatu usaha metodis ilmiah dengan penelitian kritis terhadap fenomena paranormal.

John Hearney sendiri menyebutkan bahwa bidang studi parapsikologi biasanya disebut “psi”. Parapsikologi adalah suatu usaha ilmiah yang menunjukkan bagaimana fenomena tertentu dapat diterangkan melalui paradigma ilmiah konvensional.

Di samping itu parapsikologi mau berpretensi bahwa ada tantangan terhadap setiap paradigma keilmiahan yang ada. Yang dimaksud dengan istilah ‘paradigma’ ialah segugus pengandaian dan aturan yang telah diterima secara umum dalam pendekatan suatu masalah. Paradigma adalah penting, karena dengannya kita membatasi segi pandang atau dengannya kita mempunyai cakrawala atas sasaran yang kita amati.

Dalam pengertian ini, ‘psi’ yang adalah sasaran telaah parapasikologi, merupakan istilah umum dari matra kejiwaan yang disebut ‘ daya tangkap ekstra inderawi = extra sensory perception” dan ‘daya motorik ekstra inderawi atau extra sensory motor activity”.

Kedua daya ini bukanlah sesuatu yang berada di luar semua alat indera kita. Maka dapat dikatakan bahwa ‘ekstra inderawi’ adalah kemampuan indera manusiawi biasa. Masalahnya adalah bahwa kita belum mengenalnya melalui paradigma ilmiah yang ada sampai sekarang.

Kemampaun ekstra inderawi ini juga tidak secara intrinsik tentu berarti spiritual, karena kemampuan ekstra inderawi adalah ciptaan Allah yang berada dalam tingkatan manusiawi belaka.

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: