Mgr. Ignatius Suharyo: Selasa Siang, Presiden Undang Pendemo ke Istana

Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo datang menyambangi tenda kelompok ibu-ibu yang berdemo di depan Istana menolak rencana pembangunan sebuah pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng di jalur Pantura wilayah Timur Jawa Tengah. Demo ini terjadi pada hari Minggu tanggal 31 Juli 2016 petang. (Ist)

BERITA hangat baru saja menyapa Redaksi Sesawi.Net hari Senin ini menjelang tengah malam tanggal 1 Agustus 2016. Pengirimnya adalah Bapak Uskup Agung Keuskupan Jakarta: Mgr. Ignatius Suharyo.

Seperti biasa, dalam bahasa Jawa ragam krama inggil yang sangat halus, Bapak Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo menyampaikan news updated kepada Redaksi sebagai berikut.

“Mgr … Matur nuwun. Sonten wau, kula saksedulur dipun undang kaliyan Pak Teten Masduki … lan benjing Selasa awan (2 Agustus 2016 —Red.) ugi dipun undang rembugan kaliyan Bapak Presiden Joko Widodo. Nyuwun donganipun Mgr. Suharyo,” begitu bunyi berita ringkas dari Bapak Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo kepada Redaksi Sesawi.Net.

“Mgr… Terima kasih. Petang hari tadi, saya bersama beberapa saudara lainnya telah diundang oleh Pak Teten Masduki … dan besok hari Selasa siang (2 Agustus 2016–Red) juga diundang lagi oleh Bapak Presiden Joko Widodo untuk diajak berdiskusi. Mohon doa restunya Mgr. Suharyo.”

Baca juga:  

Panggilan Presiden Joko Widodo mengundang bicara para pendemo ke Istana ini bisa jadi terkait dengan langkah ‘tak pernah terbayangkan’ sebelumnya. Pada hari Minggu petang tanggal 31 Juli 2016 kemarin,  sungguh tak terduga oleh banyak orang bahwa ada seorang pemimpin Gereja Lokal selevel Uskup (Agung) telah datang menyambangi kelompok pendemo, menyapa mereka, lalu menyalami satu per satu, dan kemudian duduk bersama mereka di emperan sebuah tenda plastik.

Tidak pakai jubah, melainkan Bapak Uskup Agung Keuskupan Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo hanya berkemeja batik dan sejenak menyempatkan diri duduk di ’emperan’ tenda yang dibangun oleh ibu-ibu pendemo. Mereka berdemo  menentang  rencana pembangunan sebuah pabrik semen di kawasan Pegunungan Kendeng di Jalur Pantura wilayah Timur yang membujur panjang dan luas mulai dari Kudus, Pati, dan seterusnya menuju arah Timur hingga perbatasan Jawa Timur.

“Saya mendatangi mereka, menyalami satu per satu para pendemo itu karena sebagian kecil dari mereka saya kenal,” tutur Mgr. Ignatius Suharyo menjawab Sesawi.Net hari Senin tanggal 1 Agustus 2016 siang.

protes masyarakat kendengPara peserta long march dari kawasan Pegunungan Kendeng untuk upaya pelestarian lingkungan dan penolakan terhadap rencana pembangunan pabrik semen. Demo damai dalam bentuk long march sejauh 30 km ini terjadi di bulan November 2015. (Ist)

Pesan moral

Tentu saja kehadiran seorang Uskup Agung –dan apalagi Uskup Agung Jakarta—di sebuah arena demo publik tidak jauh dari Istana menyiratkan pesan moral yang sangat jelas dan gamblang. Gereja Katolik di Keuskupan Agung Jakarta  ikut dalam gelombang “satu suara” dengan para pendemo itu: menolak gagasan akan dibangunnya pabrik semen di kawasan jalur Pegunungan Kendeng di wilayah Pantura (Pantai Utara Jawa) bagian Timur Jawa Tengah hingga sampai Kabupaten Jombang di Jawa Timur.

Demo penolakan warga kawasan Pegunungan Kendeng itu sebenarnya sudah berlangsung lama, sejak bertahun-tahun lalu. Ketika Mgr. Ignatius Suharyo masih menjabat Uskup Agung Keuskupan Semarang di Jawa Tengah, gelora protes masyarakat setempat terhadap ide dibangunnya pabrik semen di jalur Pegunungan Kedeng  juga sudah membuncah ria.

Catatan historis menyebutkan kawasan Pegunungan Kendeng dengan tekstur tanah berkapur ini membentang sangat luas dan sangat panjang  di sepanjang lintasan pantai utara Pulau Jawa (Pantura);  membujur panjang dan luas mulai dari Kabupaten Grobogan –sebelah timur Ibukota Semarang- dan Kabupaten Pati hingga menuju kawasan utara di Kabupaten Jombang di wilayah Provinsi Jawa Timur.

Baca juga:  

Ketinggian Pegunungan Kendeng kurang dari 1.000 m di atas permukaan air laut (dpl).

protes kendeng 2Protes long march dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat yang tinggal di jalur permukiman yang dilewati alur Pegunungan Kendeng. Protes damai mereka terjadi dengan cara berjalan kaki sejauh 30 km menuju Ibukota Provinsi Jawa Tengah: Semarang. Protes dan demo massal secara damai ini dilakukan untuk  menjemput keadilan dan menyambut putusan Peradilan Tata Usaha Negara (PTUN) di Kota Semarang tentang gugatan masyarakat umum  terhadap hasil Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) PT. Sahabat Mulia Sakti (anak perusahaan PT Indocement). Hasil putusan sidang PTUN itu dibacakan pada hari Selasa, tanggal 17 November 2015. (Ist)

Sudah sedari beberapa tahun silam, gerakan rakyat secara massal  yang terdiri dari para petani, buruh, kaum intelektual –baik warga lokal di sekitar jalur permukiman Pegunungan Kendeng maupun kelompok-kelompok kategorial– terhadap gagasan pembangunan pabrik semen itu tidak hanya terjadi di Kota Semarang, ketika Mgr. Ignatius Suharyo masih menjabat Uskup Agung di Keuskupan Semarang. Protes massal oleh berbagai elemen masyarakat itu juga sering kali terjadi di banyak kota di jalur Pantura bagian Timur Jawa Tengah (Kudus, Pati, Rembang, Juwana) yakni kota-kota di Jalur Pantura Timur yang dilewati garis panjang membujur dari Barat ke Timur oleh kawasan pegunungan bertekstur kapur yakni Pegunungan Kendeng.

Yang menarik, kini Mgr. Ignatius Suharyo tidak hanya menjabat Uskup Agung Keuskupan Jakarta. Beliau juga menjadi Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup TNI/Polri.

avatar Co-founder dan chief editor Sesawi.Net; Konsultan Media & Communication di lembaga internasional mhariyadi@sesawi.net, mathias.hariyadi@gmail.com

Sumber: Sesawi.net

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.