Mgr. Ignatius Suharyo: Nilai Kristiani Kerja (1)

LANTAI 15 Gedung Yustinus di lingkungan Kampus Unika Atma Jaya Semanggi beberapa hari lalu –tepatnya Rabu 12 Maret 2014–  tampak beda dari biasanya. Aula besar yang sering digunakan untuk acara seminar dan perayaan besar, kali ini ditata  dengan gaya tampilan beda. Masih memakai model seminar dengan meja dan kursi setengah melingkar, namun semuanya menghadap ke panggung kecil yang berisi hanya dua kursi.

Istimewanya, semua pejabat teras Universitas Katolik Atma Jaya Indonesia (UAJ) memenuhi hampir semua tempat duduk yang tersedia. Acara besar siang itu memang spesial, karena didesain guna mendapatkan pencerahan dari Mgr. Ignatius Suharyo, Uskup Agung Jakarta yang sekaligus juga merupakan Administratur Diosis Bandung, Uskup Ordinariat Militer Indonesia, dan Ketua Presidium KWI.

Dalam kapasitas sebagai Uskup Agung Jakarta, Mgr. Ignatius Suharyo juga mejadi Pelindung Yayasan Atma Jaya, juga didapuk menjadi Ketua Pembina Yayasan Atma Jaya.

Walaupun namanya pencerahan, namun Mgr. Ignatius Suharyo mengambil tema “Nilai-Nilai Kristiani dalam Komunitas Atma Jaya”. Inilah semua topik perbincangan berkaitan dengan sosialisasi rencana strategis Unika Atma Jaya secara internal. Namun,  isi pencerahan tersebut juga bisa diterapkan umum pada institusi katolik mana pun.

Sang ahli teologi Kitab Suci lulusan Universitas Urbaniana (Roma, Italia) kelahiran Sedayu 9 Juli 1950 ini memulai omongan ‘saleh’ dengan menyampaikan celetukan segar seperti biasanya. Bis umum diplesetkannya menjadi bis katolik, karena memang kata ‘katolik’ berarti ‘umum’.

Kisah Rasul Bab 29

Orang katolik tentu tahu bahwa Kisah Para Rasul berakhir pada Bab 28 ayat 30. Hal yang menarik adalah penutup tersebut sangat terbuka, demikian permainan kata yang mengena dari Mgr. Suharyo.

Lalu, terbuka untuk ditulis apa? Sejarah Gereja yang berlanjut, tukas beliau. Sejarah UAJ termasuk salah satunya akan ditulis pada KIS Bab 29.

Kunci permainan sepak bola

UAJ memiliki aturan yang sudah lengkap, seumpama permainan sepak bola yang terkenal di negeri kita, demikian Mgr. Suharyo yang terkenal kampiun beranalogi.

Baik pemain, wasit, sampai lapangan sudah tersedia. Layaknya sebuah klub sepak bola, ada kesebelasan yang bisa menang terus menerus di tingkat kampung, tapi kalah begitu bertanding ke tingkat kecamatan. Sebaliknya ada juga klub Bayern Muenchen yang menang terus di Liga Champion.

Apa kuncinya? “Permainan, teknik, dan semangat,” tegas Mgr. Suharyo.

Tak lupa diceritakan sebuah kisah lucu tapi nyata, dari pengalaman beliau sewaktu di seminari. Waktu itu, kata Monsinyur, ada teman seangkatan yang jelas benar tidak menguasai permainan sepak bola. Sepaknya sih bisa… teman itu akan menendang ke arah dimana dia menghadap, tak peduli arah gawang lawan atau kawan.

“Maka semua itu tergantung kepada komunitas sendiri – mau sampai ke tingkat mana – nasional atau internasional?,” tantang beliau.

Label pendidikan katolik

Menurut Mgr. Suharyo, cirikhas pada pendidikan yang berlabel katolik ada tiga yang utama, yaitu inspirasi, mediasi, dan transformasi sosial.

Mari kita bahas satu per satu.

Inspirasi

Inspirasi, menurut Mgr. Suharyo, berbeda dengan motivasi. Tentu saja ini bukan asal ucap, karena dasar pemikirannya adalah Kitab Suci. “Manusia,” demikian papar imam yang ditahbiskan pada 26 Januari1976 oleh alm. Kardinal Justinus Darmojuwono di Kapel Seminari Tinggi Santo Paulus, Kentungan ini, “terdiri dari tiga elemen: tubuh, jiwa, dan roh.”

Motivasi berkaitan dengan jiwa, sedangkan inspirasi lebih tinggi satu tingkat dari itu, karena berkaitan dengan roh. Maka kerja manusia juga mengarah ke tiga tingkatan.

Pada level terbawah, bekerja dimaknai sebagai aktifitas mencari nafkah – memenuhi kebutuhan raga. Pada level kedua, bekerja merupakan aktualisasi diri – masih kurang menurut iman katolik. Bekerja – pemaknaan tingkat tertinggi yang berkaitan dengan roh – terarah demi Kerajaan Allah.  Tentu dalam kenyataan bukan hanya itu, karena manusia bukanlah malaikat, maka level yang di bawahnya juga tercakup di dalamnya.

Mediasi

Keutamaan kedua adalah mediasi.

Iman, kata Mgr. Suharyo, tidak cukup hanya diungkapkan dalam berbagai bentuk olah rohani, seperti berdoa, ziarah, retret, meditasi, dan jenis-jenis ibadat lainnya. Iman perlu diwujudkan, maka perlu mediasi atau jalan untuk itu. Ada yang mewujudkannya lewat institusi rumah sakit, perguruan tinggi, atau tempat penitipan anak. Semua itu dilakukan dengan kata kunci “Datanglah Kerajaan Allah”.

Transformasi Sosial

Pertanyaan yang muncul adalah: Apa itu Kerajaan Allah? Dengan kalimat-kalimat terukur yang singkat dan sederhana yang merupakan cirikhasnya, Mgr. Suharyo memaparkan bahwa Kerajaan Allah adalah transformasi sosial. Nah, tergantung kita, transformasi sosial apa yang mau dibuahkan oleh iman tersebut.

Photo credit: Acara pencerahan rohani bersama Bapak Uskup Agung Jakarta Mgr. Ignatius Suharyo Pr dengan kalangan petinggi Yayasan dan pengurus Unika Atma Jaya Jakarta (Royani Lim)

Tautan:

Loading...

Published by Renungan Iman Katolik

Merenungkan sabda Tuhan di saat hening di pagi hari akan menjaga hati dan pikiran kita dari kuasa roh jahat. Berkah Dalem...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.