Mg Biasa XXV

Mg Biasa XXV: Yes 55:6-9; Flp 1:20c-24.27a; Mat 20:1-16a
“Orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu
akan menjadi yang terakhir.”

Setiap tahun para uskup di Indonesia berkumpul di Kantor KWI-Jakarta
untuk menyelenggara-kan sidang para uskup. Di balik penyelenggaraan
sidang uskup tersebut, yang mungkin kurang diketahui oleh mayoritas
umat Allah adalah masalah beaya, entah beaya selama berada di Jakarta
maupun perjalanan ke Jakarta pp. Seluruh beaya sidang, akomdasi  dan
perjalanan ditanggung bersama pukul rata, jauh dekat membayar beaya
yang sama, sebaliknya beaya perjalanan juga dikembalikan, maka mereka
yang jauh menerima pengembalian beaya perjalanan lebih besar,
sedangkan yang dekat tidak menerima kembali beaya perjalanan.
Jauh-dekat menanggung beban beaya yang sama, itulah yang terjadi. Cara
ini rasanya senada dengan isi perumpamaan sebagaimana dikisahkan dalam
Warta Gembira hari ini, yaitu mereka yang bekerja sejak pagi sampai
sore dan yang bekerja siang sampai sore menerima imbal jasa yang sama.
Mereka yang bekerja sejak pagi bersungut-sungut karena menerima imbal
jasa sama dengan yang bekerja kemudian, padahal mereka mendambakan
imbal jasa lebih besar daripada yang kemudian. Menanggapi
sungut-sungut tersebut pemberi kerja menjawab: “Tidakkah aku bebas
mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku? Atau iri hatikah
engkau, karena aku murah hati? Demikianlah orang yang terakhir akan
menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."
(Mat 20:15-16). Baiklah kita renungkan apa maksud jawaban tersebut!
“Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang
terdahulu akan menjadi yang terakhir." (Mat 20:16)
Yang dimaksudkan dengan ‘yang terdahulu’ di sini adalah tokoh-tokoh
Yahudi yang sombong dan merasa diri sebagai orang-orang penting dalam
masyarakat, sebaliknya ‘yang terakhir’ adalah rakyat kecil atau
orang-orang miskin dan merasa  diri sebagai yang tak berguna alias
berdosa. Kesombongan dan kerendahan hati itulah dua sikap mental yang
berlawanan, dan kita semua kiranya sebagai orang beriman dipanggil
untuk bersikap mental rendah hati.
Beriman antara lain memang berarti menyadari dan menghayati diri
sebagai pendosa yang dipanggil dan dikasihi oleh Tuhan serta diutus
untuk menjadi saksi iman sesuai dengan kesempatan dan kemungkinan yang
ada. Maka marilah, entah pekerjaan atau tugas apapun yang harus kita
lakukan, kita menjadi saksi iman selama bekerja atau bertugas. Salah
satu sikap mental yang menjiwai dalam bersaksi iman adalah
keterbukaan, senantiasa membuka hati, jiwa, akal budi dan tubuh bagi
aneka kemungkinan dan kesempatan. Orang yang bersikap mental demikian
itu pasti akan semakin diperkaya dengan aneka nilai atau keutamaan
hidup yang membahagiakan dan menyelamatkan, terutama kebahagiaan dan
keselamatan jiwa.
Kita juga diingatkan dan diajak untuk bermurah hati serta tidak iri
hati terhadap orang yang menerima kemurahan hati dari orang lain.
Murah hati berarti hatinya dijual murah kepada siapapun, artinya
memberi perhatian kepada siapapun tanpa pandang bulu. Kami berharap
kepada para pemimpin, atasan dan petinggi alias mereka yang
berpengaruh dalam kehidupan bersama dapat menjadi teladan dalam
bermurah hati terhadap sesamanya. Tentu saja pertama-tama dan terutama
hendaknya bermurah hati kepada para anggota, bawahan atau yang
dipimpin, yang hidup atau bekerja sama sehari-hari. Hendaknya tidak
hanya memperhatikan mereka yang nampak penting atau terkmuka saja,
melainkan semuanya, terutama  mereka yang sering kurang menerima
perhatian.
Kami berharap kepada kita semua untuk memperhatikan mereka yang
miskin, kecil dan tersingkir, seperti para buruh dan pekerja harian
yang sering kurang menentu masa depannnya. Marilah kita hayati salah
satu motto hidup beriman yaitu “preferential option for/with the poor”
(=keberpihakan pada/bersama yang miskin dan berkekurangan). Kepada
para pemilik maupun pemimpin perusahaan kami harapkan menyadari dan
menghayati bahwa keberhasilan usaha anda antara lain karena kerja
keras dan keringat para buruh atau pekerja, maka hendaknya memberikan
imbal jasa kepada mereka yang memadai, yang dapat mensejahterakan
hidupnya maupun keluarganya. Ingat dan sadari bahwa jika anda tidak
bermurah hati kepada para pekerja atau buruh dengan memberikan imbal
jasa yang memadai, maka ada bahaya mereka akan bekerja seenaknya serta
berbuat jahat atau korupsi, dan dengan demikian usaha anda akan mundur
dan hancur berantakan. Selanjutnya marilah kita renungkan kesaksian
iman Paulus kepada umat di Filipi di bawah ini.
“Bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Tetapi jika
aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah”
(Flp 1:21-22)
 Hidup atau mati adalah milik Allah, maka hidup kita adalah anugerah
Allah, dan sebagai orang yang beriman kepada Yesus Kristus dipanggil
untuk hidup dan bertindak sesuai dengan sabda Yesus atau meneladan
cara hidup dan cara bertindakNya agar apapun yang kita lakukan atau
kerjakan menghasilkan buah yang menyelamatkan dan membahagiakan,
terutama keselamatan atau kebahagiaan jiwa, entah jiwa kita sendiri
maupun jiwa saudara-saudari kita. “Jika aku harus hidup di dunia ini,
itu berarti bagiku bekerja memberi buah”, demikian kesaksian Paulus,
yang hendaknya juga menjadi kesaksian kita semua.
Buah kerja selain imbal jasa atau gaji guna memenuhi kebutuhan hidup
pribadi maupun keluarga adalah kebahagiaan dan kenikmatan dalam
bekerja karena telah melaksanakan perintah Allah, yaitu
"Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah
itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan
atas segala binatang yang merayap di bumi.” (Kej 1:28). Hendaknya
bekerja apapun kita tidak malu atau merasa berat  atau sebagai beban,
” Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah
jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN” (Yes 55:8). Karena hidup adalah
anugerah Tuhan, maka pekerjaan apapun juga merupakan anugerah Tuhan.
Agar buah kerja atau belajar kita sesuai dengan kehendak Tuhan,
marilah baik bekerja atau belajar kita hayati sebagai ibadah kepada
Tuhan, sehingga suasana bekerja atau belajar bagaikan suasana ibadah,
rekan bekerja dan belajar bagaikan rekan beribadah, perlakuan dan
perawatan sarana kerja atau belajar bagaikan memperkukan dan merawat
sarana ibadah dst… Dengan kata lain marilah kita hayati ajakan nabi
Yesaya ” Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah
kepada-Nya selama Ia dekat” (Yes 55:6). Marilah kita jumpai Tuhan
dalam segala sesuatu atau hayati kehadiran dan karya Tuhan dalam
segala sesuatu. Tuhan hidup dan berkarya dimana saja dan kapan saja,
dalam diri manusia, binatang maupun tumbuh-tumbuhan.
Buah karya Tuhan dalam diri manusia yang saling mengasihi antara
laki-laki dan perempuan antara lain adalah seorang  anak, yang
tumbuh-berkembang dalam rahim perempuan serta kemudian dilahirkan
dalam dan oleh kasih. Setiap dari kita adalah buah kasih atau yang
terkasih, maka bertemu dengan orang lain berarti kasih bertemu dengan
kasih. Barangsiapa hidup dan bertindak saling mengasihi berarti Tuhan
hidup dan berkarya di dalamnya. Maka marilah kita cari dan imani Tuhan
yang hidup dan berkarya dalam orang-orang yang saling mengasihi.
Rancangan Tuhan bagi kita semua adalah agar kita hidup dan bertindak
saling mengasihi satu sama lain, maka hendaknya tidak hidup dan
bertindak hanya mengikuti selera atau keinginan pribadi, melainkan
hendaknya senantiasa sesuai dengan kehendak Tuhan.
“Setiap hari aku hendak memuji Engkau, dan hendak memuliakan nama-Mu
untuk seterusnya dan selamanya. Besarlah TUHAN dan sangat terpuji, dan
kebesaran-Nya tidak terduga. TUHAN itu pengasih dan penyayang, panjang
sabar dan besar kasih setia-Nya. TUHAN itu baik kepada semua orang,
dan penuh rahmat terhadap segala yang dijadikan-Nya.”
(Mzm 145:2-3.8-9)

Ign 18 September 2011

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: