Mg Biasa XXI

Mg Biasa XXI : Yes 24:1-2a.15-17.18b; Ef 5:21-32; Yoh 6:60-69
“Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."

Setiap agama memiliki sesuatu yang dianggap ‘misteri’, entah itu berupa ajaran atau informasi, sesuatu yang hanya dapat diimani dan dihayati, namun tak mungkin dikuasai atau dimengerti secara logis oleh otak kita yang serba terbatas. Ketika orang saling mengasihi dan kasih mereka semakin mendalam, misalnya antar suami dan isteri, pada umumnya semakin mengenal dan dekat serentak juga semakin banyak hal yang menjadi misteri, yang tak mungkin difahami atau dimengerti oleh akal sehat kita. Memang semakin orang memberikan dirinya semakin menimbulkan pertanyaan atau ketidak-percayaan juga, apalagi bagi orang yang kurang beriman, kurang hidup dalam dan oleh kasih sejati. Kasih yang juga mungkin sulit difahami adalah kasih ibu bagi anak-anaknya, sebagaimana dikumandangkan dalam sebuah lagu “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia” . Yesus semakin mewahyukan Jati Dirinya, antara lain melalui muzijat maupun sabdaNya, yang menimbulkan pertanyaan serta banyak pendengarNya mengundurkan diri. Sebagai orang beriman kiranya kita semua diajak meneladan Petrus, yang menghadapi ajaran baru dan sulit difahami, akhirnya berkata “Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yoh 6:68-69)

Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah." (Yoh 6:68-69)
Sabda-sabda atau firman-firman Allah sebagaimana tertulis di dalam Kitab Suci kiranya tak mungkin semuanya dapat difahami oleh akal sehat kita, antara lain perihal Yesus yang adalah “Yang Kudus dari Allah” alias Yesus adalah Allah yang menjadi Manusia sama seperti kita kecuali dalam hal dosa. Hanya yang beriman kepada Yesus Kristus dapat memahaminya dalam hati dan akhirnya menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak setiap hari. Maka ada pepatah ‘dalamnya laut dapat diduga dalamnya hati siapa tahu’, apa yang ada dalam hati pada umumnya sulit diketahui, namun dapat terwujud atau menjadi nyata dalam cara hidup dan cara bertindak.

Kerajaan Allah adalah ‘kerajaan hati’, maka sebagai orang yang beriman kepada Allah, marilah kita ‘olah hati atau batin’ kita agar kita mampu memahami apa yang disabdakan atau difirmankan oleh Allah. Apa yang diimani oleh Pertrus diatas erat kaitannya dengan Tubuh dan Darah Kristus, yang kita terima setiap kali berpartisipasi dalam Perayaan Ekaristi berupa ‘roti dan anggur murni’ yang telah dikonsekrir. Bukankah kita yang beriman kepada Yesus Kristus sungguh menghormati dan mengimani bahwa ketika kita menerima komuni kudus berarti menerima Allah sendiri yang menjiwai hidup kita, sehingga kita menghayati diri sebagai yang disatukan dengan Allah dan kemudian mau tak mau hidup dan bertindak sesuai dengan kehendak Allah? Maka baiklah saya mengingatkan kita semua, yang sering menerima komuni kudus, untuk hidup dan bertindak demi hidup kekal, hidup mulia dan bahagia selamanya di sorga setelah meninggal dunia atau dipanggil Tuhan.

Mendambakan hidup kekal atau bahagia selamanya di sorga setelah meninggal dunia berarti cara hidup dan cara bertindak selama di dunia ini dijiwai oleh keutamaan harapan. Tanda orang hidup dan bertindak dalam harapan antara lain senantiasa tetap bergairah, dinamis dan ceria dalam menghadapi aneka masalah, tantangan dan hambatan kehidupan, yang lahir dari kesetiaan dan ketaatan kita pada kehendak Allah. Sebagai pelajar tetap bergairah dan dinamis dalam tugas belajar, sebagai pekerja tetap bergairah dan dinamis dalam bekerja dst.., dengan demikian sebagai pelajar maupun pekerja senantiasa menarik, memikat dan mempesona bagi orang lain dan banyak orang tergerak untuk mendekat dan bersahabat. Orang yang hidup dalam harapan tak akan pernah mengundurkan diri atau mangkir dari aneka macam masalah, tantangan dan hambatan kehidupan, melainkan tetap melangkah maju terus bersama Allah yang memanggil dan mengutus, karena percaya bahwa “Allah mengutus kita, membekali kita dan akan menyelesaikan tugas pengutusan yang dibebankan kepada kita”

“Rendahkanlah dirimu seorang kepada yang lain di dalam takut akan Kristus….. Rahasia ini besar, tetapi yang aku maksudkan ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Ef 5:21.32)
Paulus menggambarkan kasih Yesus Kristus kepada jemaat bagaikan relasi kasih antar suami-isteri yang sungguh saling mengasihi, sehidup semati, tanpa syarat sedikitpun. “Ia menempatkan jemaat di hadapan diri-Nya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu, tetapi supaya jemaat kudus dan tidak bercela.” (Ef 5:27). Para suami-isteri yang sungguh saling mengasihi secara total satu sama lain kiranya dapat memahami apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Efesus ini, maka kami berharap para suami-isteri dapat menjadi teladan atau inspirasi dalam meruskan atau mewartakan kasih Tuhan bagi orang lain. 

Kasih Tuhan kepada kita, umat manusia, memang sungguh luar biasa, sulit dijelaskan atau digambarkan dengan tepat, maka Paulus mengatakannya sebagai ‘rahasia besar’ atau yang benar adalah ‘misteri’. Apa yang disebut misteri memang tak terfahami oleh otak kita yang serba terbatas, namun dapat dinikmati bagi orang yang mengimani. Maka cintakasih sejati memang juga tanpa batas alias bebas sama sekali, artinya jika kita saling mengasihi berarti kita saling membebaskan atau jika kita mengasihi orang lain berarti membantu orang lain untuk hidup bebas merdeka, tak memiliki kelekatan tak teratur terhadap ciptaan-ciptaan Tuhan didunia ini.

Sebagai orang beriman atau beragama kita semua dipanggil untuk hidup dan bertindak saling mengasihi satu sama lain, maka dengan ini kami berharap segenap umat beriman atau beragama sungguh mengusahakan hidup bersama yang penuh dengan persaudaraan atau persahabatan sejati. Hari ini kiranya merupakan hari terakhir bagi kebanyakan dari kita menikmati liburan Idul Fitri untuk menikmati hidup persaudaraan atau persahabatan sejati dengan keluarga, sanak-kerabat, handai-taulan dan kenalan-kenalan. Maka kami berharap semoga apa yang telah dinikmati tersebut tidak hilang, tanpa bekas, melainkan terus  diperdalam dan diperkembangkan di tempat kerja atau belajar, yang pada umumnya mulai besok pagi dimulai untuk bekerja atau belajar

Dari ujung bumi kami dengar nyanyian pujian: "Hormat bagi Yang Mahaadil!" Tetapi aku berkata: "Kurus merana aku, kurus merana aku. Celakalah aku! Sebab para penggarong menggarong, ya, terus-menerus mereka melakukan penggarongannya!"Hai penduduk bumi, kamu akan dikejutkan, akan masuk pelubang dan jerat!” (Yes 24:16-17). Apa yang diserukan atau diingatkan oleh nabi Yesaya ini kiranya baik kita renungkan dan hayati. Kita diharapkan mendengarkan dengan rendah hati nyanyian pujian “Hormat bagi Yang Mahadil”, serta kemudian kita dipanggil untuk senantiasa bertindak adil terhadap siapapun dan dimana pun. Keadilan yang paling mendasar hemat saya adalah hormat terhadap hak azasi manusia atau harkat martabat manusia. Maka hendaknya kita jangan saling melecehkan atau merendahkan, melainkan senantiasa saling menjunjung tinggi dan menghormati dalam situasi maupun kondisi apapun.

Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong; wajah TUHAN menentang orang-orang yang berbuat jahat untuk melenyapkan ingatan kepada mereka dari muka bumi. Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya.TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya”
(Mzm 34:16-19)
Ign 26 Agustus 2012
 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: