"Kamu adalah garam dunia.”

Mg Biasa V: Yes 58:7-10; 1Kor 2:1-5; Mat 5:13-16

 

“Small is beautiful” = Kecil itu indah, demikian kata sebuah pepatah. Pada masa kini aneka macam sarana-prasarana teknologi semakin kecil bentuknya, dan yang kecil tersebut sungguh menentukan, misalnya serat optic yang berfungsi untuk melancarkan komunikasi melalui anek macam sarana komunikasi seperti HP dan internet. Pohon besar yang rindang berasal dari biji kecil, yang tumbuh dan berkembang pelan-pelan serta meyakinkan. Anak-anak kecil mungkin kurang diperhitungkan dalam percaturan hidup bersama di tengah masyarakat, namun ketika anak kecil pergi tanpa diketahui kemana atau dimana, maka orangtua dengan susah payah dan kerja keras mencarinya, sedangkan ketika yang pergi anak besar atau orang dewasa dibiarkan saja. Bercermin dari pengalaman tersebut para penjahat sering menggunakan anak kecil sebagai sandra untuk memaksa orangtua atau keluarganya menebus dengan jumlah uang yang cukup besar. Warta gembira hari ini mengingatkan kita semua sebagai umat beriman yang sungguh benar alias hidup jujur dan berbudi pekerti luhur, meskipun secara nominal jumlahnya kecil hendaknya tidak takut dan gentar. Maka marilah kita renungkan sabda Yesus hari ini sebagai pedoman atau acuan cara hidup dan cara bertindak kita.

 

"Kamu adalah garam dunia.” (Mat 5:13)  

 

Makanan atau masakan tanpa garam hambar rasanya dan kurang nikmat. Garam memang berfungsi untuk membuat makanan atau masakan menjadi enak dan nikmat, tentu saja dalam jumlah yang sesuai artinya tidak terlalu sedikit atau terlalu banyak alias harus persis sebagaimana dibutuhkan. Yesus bersabda kepada kita semua yang percaya kepadaNya bahwa “Kamu adalah garam dunia”.  Sabda ini mengajak dan mengingatkan kita semua agar kehadiran atau sepak terjang kita dimanapun dan kapanpun senantiasa membuat lingkungan hidup bersama menjadi menarik, memikat dan mempesona alias siapapun yang ada dalam kebersamaan hidup tersebut merasa kerasan dan bahagia.     

 

Dalam makanan atau masakan garam yang dibutuhkan memang hanya sedikit atau kecil sekali, maka baiklah meskipun kita kecil atau sendirian hendaknya tetap setia pada tugas dan penggilan untuk tetap berarti atau bermakna dalam lingkungan hidup. Maksudnya jika saya sebagai orang Kristen atau Katolik hanya sendirian saja di tempat tinggal atau masyarakat atau tempat kerja hendaknya tidak takut dan gentar dan setia pada iman kepercayaannya. Yang penting dan utama adalah cara hidup dan cara bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan atau janji-janji yang pernah diikrarkan, seperti janji baptis, janji perkawinan, janji kepegawaian dst…

 

Selain menjadi ‘garam dunia’ kita juga dipanggil untuk menjadi ‘terang dunia’. Sumber sinar terang juga kecil, namun begitu berfungsi sangat membantu dalam penerangan. Menjadi ‘terang dunia’ antara lain berarti bahwa sepak terjang dan kehadiran kita dimanapun dan kapanpun senantiasa membuat terang benderang hidup bersama, artinya masing-masing semakin hidup dan bertindak sesuai dengan panggilan dan tugas pengutusannya. Kehadiran dan sepak terjang kita membuat saudara-saudari atau sesama kita semakin fungsional dalam keselamatan hidup bersama.

 

Menjadi ‘terang dunia’ juga dapat menjadi menjadi ‘facilitator’, dimana kehadiran dan sepak terjang kita senantiasa menjadi panutan atau teladan dalam cara hidup dan cara kerja. Mereka yang melihat dan hidup atau bekerja bersama dengan kita merasa dipermudah dan diperlancar dalam melaksanakan tugas pengutusan atau kewajibannya. Dengan kata lain ‘orang pandai sejati’ berarti dapat membuat apa yang sulit dan berbelit-belit menjadi sederhana sehingga dapat diketahui dan difahami oleh semua atau banyak orang. Menjadi ‘terang dunia’ juga berarti hidup dan bertindak dengan terang-terangan alias tidak ada kebohongan, manipulasi atau kepalsuan sedikitpun alias ‘telanjang’, tiada yang disembunyikan sedikitpun. Orang yang demikian berarti hidup jujur, disiplin, teratur, sederhana dan hati maupun budinya senantiasa terbuka terhadap yang lain atau seaamanya, lebih-lebih atau terutama terbuka pada Penyelenggaraan Ilahi. Maka baiklah kita renungkan apa yang dikatakan oleh Paulus kepada umat di Korintus di bawah ini. .        

 

Aku juga telah datang kepadamu dalam kelemahan dan dengan sangat takut dan gentar. Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah” (1Kor 2:3-5)

 

Datang dan hadir dalam kelemahan diri dan kekuatan Roh itulah yang dihayati oleh Paulus dan diharapkan  dari kita semua, orang beriman, juga demikian adanya. Sebagai orang beriman kita diharapkan tidak mengandalak kekuatan dan hikmat manusia, melainkan kekuatan Roh atau hikmat ilahi. Roh hidup dan berkarya dalam seluruh ciptaan Allah, terutama dalam diri manusia, gambar dan citra Allah, manusia yang berkehendak baik tanpa pandang bulu atau SARA. Maka dalam kelemahan diri dan kekuatan Roh berarti senantiasa membuka diri terhadap siapapun yang berkehendak baik alias siap sedia untuk hidup dan bekerja bersama-sama atau bergotong-royong. Sendirian saja kita tak mungkin berbuat apa-apa.

 

Rekan-rekan yang hidup berkeluarga sebagai suami-isteri serta telah dianugerahi anak oleh Allah kiranya dapat mawas diri apa arti dan makna bekerjasama atau bergotong-royong . Bukankah anda berdua telah bekerjasama atau bergotong-royong dalam keterbukaan atau ketelanjangan untuk berpartisipasi dalam karya penciptaan atau Penyelenggaraan Ilahi, ketika anda berdua sedang berkasih mesra dalam hubungan seksual?  Ada suami-isteri telah bertahun-tahun hidup bersama dan secara rutin berhubungan seks tetapi tidak dianugerahi anak, dan dengan demikian mereka menyadari dan menghayati tak mungkin hanya mengandalkan yang manusiawi saja tetapi harus mengandalkan diri pada Yang Ilahi. Anak adalah anugerah Allah, maka hendaknya suami-isteri merenungkan dan menghayati kesaksian Paulus ini: “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan” (1Kor 3:6)  

 

The last but not the least, marilah sebagai ‘garam dan terang dunia’ kita hayati ajakan Yesaya ini, yaitu  supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!”(Yes 58:7). Menjadi ‘garam dan terang dunia’ harus menjadi konkret dalam kepedulian terhadap sesama manusia, terutama mereka yang miskin dan berkekurangan, yang lapar dan telanjang tak punya pakaian. Iman tanpa penghayatan konkret dalam kepedulian terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan tiada artinya alias mereka yang tidak peduli terhadap mereka yang miskin dan berkekurangan hambar hidupnya bagi masyarakat dan lingkungan hidupnya.

 

“Di dalam gelap terbit terang bagi orang benar; pengasih dan penyayang orang yang adil. Mujur orang yang menaruh belas kasihan dan yang memberi pinjaman, yang melakukan urusannya dengan sewajarnya. Sebab ia takkan goyah untuk selama-lamanya; orang benar itu akan diingat selama-lamanya. Ia tidak takut kepada kabar celaka, hatinya tetap, penuh kepercayaan kepada TUHAN.”

(Mzm 112:4-7)

Jakarta, 6 Februari 2011

 

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.