Mewaspadai Benda Berbahaya Dalam Hati (2)

(sambungan)

Firman Tuhan  sudah mengingatkan akan pentingnya menjaga hati dari berbagai hal yang merusak. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Kehidupan dikatakan terpancar dari hati. Apapun yang ada dalam hati kita akan terlihat jelas dari cara, gaya dan sikap hidup kita. Bahagia tidaknya kita hidup di dunia akan sangat tergantung dari kondisi atau keadaan hati kita, dan itupun akan sangat menentukan kemana kita akan pergi kelak. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk menjaga hati dengan segala kewaspadaan. Hati yang tidak terjaga bisa sangat berbahaya, dan itu bisa kita lihat pula ayatnya. “Karena dari hati timbul segala pikiran jahat, pembunuhan, perzinahan, percabulan, pencurian, sumpah palsu dan hujat.” (Matius 15:19). Dan firman Tuhan kemudian berkata: “Itulah yang menajiskan orang.” (ay 20).

Ketika kita bertobat dan menerima Kristus kita sudah diubahkan menjadi ciptaan baru (2 Korintus 5:17). Hati kita pun ikut diperbaharui sehingga tidak seharusnya segala kepahitan, kekecewaan, keraguan dan keputus-asaan masih bercokol dalam diri kita. Dengan hati yang bersih itulah kita lalu bisa mendekati Allah karena hati kita tidak lagi berisi hal-hal yang jahat tetapi penuh dengan iman yang teguh dan ketulusan. “Karena itu marilah kita menghadap Allah dengan hati yang tulus ikhlas dan keyakinan iman yang teguh, oleh karena hati kita telah dibersihkan dari hati nurani yang jahat dan tubuh kita telah dibasuh dengan air yang murni.” (Ibrani 10:22). Pemulihan hati setelah pertobatan ini pun sudah disinggung dalam kitab Ulangan, “Dan TUHAN, Allahmu, akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup.” (Ulangan 30:6).

Satu hal yang harus kita ingat, meski sebentuk hati yang baru sudah diberikan kepada kita, hati tetaplah rentan akan pencemaran. Walaupun sudah dipulihkan dan diperbaharui, kita tetap perlu menjaganya agar tidak kembali kotor seperti sebelumnya. Bagaimana caranya? Caranya adalah dengan tetap berjalan bersama Tuhan, mengandalkanNya dalam setiap langkah dan tetap mengisi hati kita dengan firmanNya. “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.” (Ibrani 12:15). Hati yang tidak terjaga bisa menjadi tempat subur bagi tumbuhnya akar-akar pahit yang bukan saja menyusahkan kita tetapi juga bisa mencemarkan banyak orang. Adalah penting bagi kita untuk terus tekun menjaga hati kita dengan sungguh-sungguh, karena dari sanalah seluruh kehidupan kita akan terpancar. Mari terus giat menjaga hati agar kita bisa tetap memiliki hati yang lembut, hati yang mau mengampuni, hati yang tidak kehilangan harapan, hati yang penuh ucapan syukur dan bersukacita, terlebih hati yang mengasihi, lalu pancarkan itu untuk memberkati sesama. Jangan biarkan berbagai ‘benda asing’ yang jahat masuk membuat hati kita tercemar, sakit dan bahkan hancur. Kita bisa memberkati orang lain, bisa pula melukai orang lain. Kita bisa tetap bersukacita dalam segala situasi dan keadaan, kita bisa gelisah, putus asa dan penuh kebencian. Semua itu akan sangat tergantung dari bagaimana kondisi hati kita.

Suasana hati akan sangat mempengaruhi kehidupan kita sekarang dan yang akan datang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.