Mewartakan Iman dengan Hati

ADA seorang pastur muda yang hendak ditugaskan di pedalaman Merauke. Pastur muda ini  memiliki idealisme tinggi untuk mewartakan kabar gembira bagi umat di pedalaman. 

Sebelum berangkat ke tempat tugas, ia menyiapkan pelbagai keperluan, seperti buku-buku teologi dan filsafat, alat-alat komunikasi BlackBerry, proyektor dan laptop. Pastur muda  ini sibuk menyiapkan diri dengan  fasilitas-fasilitas canggih dan modern. 

Ternyata sampai di medan pastoral, fasilitas-fasilitas yang telah dia siapkan tersebut tidak banyak berdayaguna. Umat di pedalaman tidak membutuhkan ilmu-ilmu yang tinggi untuk menjelaskan makna cinta kasih. Peralatan yang canggih belum relevan untuk pewartaan di sana, karena ada beberapa daerah yang masih belum terjangkau dengan listrik. 

Salah seorang dewan stasi di pedalaman berkata, “Pastur, yang kami butuhkan dari pelayanan pastur adalah kehadiran, perhatian dan kasih yang tulus.”

Bekal mewartakan

Para murid diutus mewartakan kabar sukacita Allah, yaitu bahwa keselamatan sudah datang dalam diri Yesus Kristus. Bekal mereka adalah  kepercayaan dan ketergantungannya kepada Allah sendiri.  Dalam mewartakan kabar gembira, bukan prestasi dan popularitas yang dicari, melainkan bagaimana supaya nama Yesus itu semakin dimuliakan. “Ia harus makin besar dan aku makin kecil” (Yoh. 3: 30). 

Umat yang dilayani  – pada zaman ini – sangat beragam.  Oleh karena itu, dalam mewartakan iman, seorang pewarta harus “belajar”  beradaptasi  dengan perkembangan zaman.  Kita perlu mengenal medan di mana kita akan diutus. Kita juga perlu belajar warta apa yang ingin kita sampaikan. Kalau kita ingin lebih membantu orang yang buta huruf, kita perlu belajar bagaimana mengajari mereka. Kalau kita ingin membantu orang yang tertindas ketidakadilan, kita perlu mengerti situasi masyarakat dan juga situasi sosial politik yang ada. 

Pendek kata untuk zaman ini kita perlu menyiapkan sesuatu. Namun, yang tidak boleh kalah penting  dan yang harus mendasari itu semua adalah bahwa ketergantungan dan kepercayaan kita tetap kepada Tuhan. 

Sabda Yesus agar  para murid itu tidak membawa bekal ini hendak menerangkan supaya para murid tidak mengandalkan kekuatan materi atau perkara-perkara duniawi, tetapi berani hidup dalam Kuasa Tuhan saja. Orang yang percaya kepada Tuhan ini memiliki semboyan, “Jika Tuhan yang menghendaki pasti akan terlaksana dengan baik.”  Maka, para murid diminta oleh Tuhan Yesus supaya lebih memperhatikan umat yang dilayani dan ikut solider. 

Untuk memperlihatkan bahwa yang mewartakan sabda itu solider, ada beberapa tuntutan dari Tuhan Yesus.

  • Pertama: Live in. Para murid diminta ikut merasakan (senasib-sepenanggungan) dengan umat. 
  • Kedua: Kabar gembira membawa damai.  Tujuan pewartaan adalah kerukunan, hidup dalam persaudaraan dan kabar sukacita tidak boleh membuat perpecahan umat.
  • Ketiga: Mewartakan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat. Para murid diutus untuk mewartakan zaman baru dan suasana hidup yang baru dalam masyarakat yakni dengan hidup dalam suasana persaudaraan, kerukunan, keadilan dan penuh kasih. Ini semua hendak menerangkan bahwa adanya suasana tadi karena Tuhan telah merajai hati umat manusia. 

Tanpa pamrih

Paulus berkata, “Upahku ialah ini: bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil” (1 Kor. 9: 18). 

Dalam perikop Sabda Bahagia, Yesus bersabda, “Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” (Mat. 5: 12).  

Para pewarta Kabar Gembira harus berjiwa tanpa pamrih, penuh semangat kerendahan hati dan sederhana. Mereka tidak boleh membawa apa-apa, selain tongkat dan sepasang sandal. Tidak boleh membawa uang dan baju lebih dari sehelai. Dan mereka harus berjalan berdua-dua untuk saling memberikan kekuatan dan hiburan, sebab mereka akan menemui banyak tantangan. 

Banyak pewarta yang hidupnya tidak  bahagia  karena dalam mengerjakan sesuatu memiliki pamrih.  Pamrih itu berupa: pujian, harta dan balasan. Jika ia tidak mendapatkan apa yang dia cari dirinya akan “mundur teratur” sebagai pewarta. 

Paulus menulis surat kepada jemaat di Efesus, “Aku katakan ‘di dalam Kristus’, karena di dalam Dialah kita mendapatkan bagian yang dijanjikan – kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang di dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-Nya, supaya kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, boleh menjadi puji-pujian bagi kemuliaan-Nya” (Ef. 1: 12–13). 

Teladan: Khotbah yang hidup

 Ada seorang pastur tua yang menjadi pastur-rekan pada suatu paroki.  Pastur ini sebenarnya sudah “pensiun” karena usianya sudah cukup tua. Namun semangatnyalah yang membuat dia bertekun dalam karya pelayanan. Suaranya tidak jelas lagi bahkan cenderung gemetaran dan setelah pulan dari tugas di stasi-stasi biasanya sakit karena kelelahan. 

Namun dalam hidupnya, pastur tua ini menunjukkan sikap yang baik. Umat di paroki tersebut sangat mencintainya, karena dalam melayani umat: tidak pilih-pilih, rela berkorban dan mencintai umat dengan  tulus.  Umat di sana menyebutnya sebagai khotbah yang hidup. 

Keteladanan hidup seorang pewarta itu nampak dalam kehidupan yang sederhana. Amos menulis, “Aku ini bukan nabi dan aku ini tidak termasuk golongan nabi melainkan aku ini seorang peternak dan pemungut buah ara hutan. Tetapi Tuhan mengambil aku dari pekerjaan menggiring kambing domba dan Tuhan berfiman kepadaku: Pergilah, bernubuatlah  terhadap umat-Ku Israel.” (Am.  7: 14 – 15).  

Seorang pewarta sabda diharapkan memiliki integritas yang  tinggi dalam hidupnya. Apa yang disabdakannya sesuai dengan apa yang dilakukannya.  Tugas pewartaan itu tidak sama dengan mengajar agama, tetapi soal kesaksian hidup. Siapa yang mewartakan Sabda Tuhan juga berani melaksanakan apa yang menjadi keyakinan maupun kepercayaannya, “Bagaimana ia berkhotbah tentang kesederhanaan, jika dirinya sendiri tidak menunjukkan sikap yang sederhana?”. 

Photo credit: Umat katolik di Agats, Papua (KBKK)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.