Merespon Panggilan: Bukan Kemampuan Kita, Tapi Kemauan

Ayat bacaan: Filipi 4:19
=================
“Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.”

Sewaktu kecil saya sering diminta ayah saya untuk pergi ke warung membeli sayur, bawang atau bumbu masak lainnya yang akan ia pakai untuk memasak telur dadar. Pada waktu itu hari minggu adalah satu-satunya hari yang bisa dipakai oleh ayah saya untuk melakukan kegemarannya sibuk-sibuk di dapur, karena di hari kerja jadwalnya penuh dalam bekerja sebagai dokter. Saya masih ingat betul pada mulanya saya ragu apakah saya mampu melakukan itu. Bagaimana jika saya ditipu harga, diberi kembalian yang tidak benar atau kendala-kendala lainnya seperti salah beli sayur, bumbu dan sebagainya? Satu hal yang ayah saya katakan pada waktu itu juga masih membekas dalam memori saya sampai hari ini. Ia berkata bahwa jika saya ia suruh, itu artinya ia percaya saya mampu. Akan halnya soal berhitung uang kembalian, bukankah saya sudah ia beri kesempatan untuk bersekolah, disamping ia dan ibu saya juga rajin mengajari saya dalam banyak hal termasuk matematika? Dan soal salah beli, kalaupun salah saya tinggal menukarkannya kembali, atau saya bisa bertanya kepada si penjual. Kalau begitu tidak ada yang harus saya khawatirkan. Saya tinggal mengaplikasikannya ke dalam bentuk nyata. Pengalaman hidup nyata yang sederhana ini ternyata teraplikasikan dalam kehidupan saya setelah dewasa, dan ternyata pula merupakan sebuah cerminan tentang bagaimana reaksi kita dalam menanggapi panggilan yang diberikan Tuhan.

Keraguan, itu akan selalu hadir ketika kita dihadapkan kepada sebuah tugas, tantangan dan juga sebuah panggilan. Logika kita akan segera mengukur batas kemampuan kita, dan di saat ukuran kita tidak sebanding dengan besarnya tanggungjawab yang dibebankan, maka keraguan pun segera muncul. Padahal apa yang diminta Tuhan bukanlah soal kemampuan kita, tetapi kemauan kita. Bukan kepintaran, kekuasaan, koneksi, keahlian atau gelar kita yang membuat Tuhan tertarik untuk memberi sebuah tanggungjawab lewat panggilan, tetapi kesediaan kita untuk mengerjakannya dengan taat, itulah sebenarnya yang diinginkan Tuhan. Selebihnya serahkan kepada Tuhan. Dia adalah Tuhan yang menyediakan (Jehovah Jireh), dan oleh karenanya segala keperluan kita butuhkan untuk mengerjakan sebuah panggilan tentu Tuhan sendiri yang akan sediakan. Dan lihatlah ayat yang secara tegas menyatakan hal itu. “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus.” (Filipi 4:19). Jika untuk keperluan-keperluan kecil kita saja Tuhan mau sediakan, apalagi untuk sebuah tujuan besar sesuai rencanaNya yang hadir dalam bentuk panggilanNya bagi kita masing-masing.

Jadi lihatlah bahwa ada perbedaan antara ukuran kesanggupan kita menurut penilaian kita sendiri dan pandangan Tuhan tentang kesanggupan kita menurut hematNya. Kita bisa melihat sebuah contoh akan kebimbangan ini lewat kisah Musa pada saat ia dipilih Tuhan untuk memimpin bangsa Israel keluar dari perbudakan untuk menuju tanah terjanji. Musa seperti kebanyakan dari kita langsung mengarahkan pandangan kepada keterbatasannya sebagai pribadi yang punya kelemahan fundamental yang bagi manusia mungkin akan dianggap sebagai nilai minus atau bahkan penghalang menuju keberhasilan. “Lalu kata Musa kepada TUHAN: “Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah.” (4:10). Berat mulut dan berat lidah, slow of speech and have a heavy and awkward tounge dalam bahasa Inggrisnya. Mungkin itu sejenis gagap, atau sekedar bukan orang yang pintar berbicara seperti layaknya orator ulung. Musa segera mengarah kepada kelemahannya dan lupa bahwa Tuhanlah sebenarnya yang menjadi pelaku utamanya, bukan dia. Itulah yang kemudian diingatkan Tuhan. “Firman Allah kepada Musa: “AKU ADALAH AKU.” Lagi firman-Nya: “Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.” (3:14). Dalam versi bahasa Inggrisnya dikatakan “I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE.” Tuhan secara jelas menyatakan bahwa siapa Tuhan itu jauh lebih penting daripada siapa Musa. “Akulah Aku”, itu jauh lebih penting dari ‘siapa aku.’ Tuhan tidak melihat atau mengukur kehebatan diri kita, tetapi apa yang Dia minta adalah kemauan atau kesediaan kita. Itu saja. Selebihnya, Dialah yang akan melengkapi segala sesuatu yang kita butuhkan agar bisa berhasil menggenapi panggilanNya dengan baik.

Sikap sebaliknya kita dapati ketika Yesaya berada dalam situasi mirip dengan Musa saat mendapat panggilan Tuhan. Berbeda dengan Musa, Yesaya langsung menyatakan kesiapannya tanpa menghitung-hitung kemampuannya terlebih dahulu. “Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yesaya 6:8). Singkat namun tegas, demikian reaksi Yesaya. “Here am I, send me.” Apakah Yesaya termasuk orang yang percaya diri berlebihan? Narsis? Sok hebat? Saya percaya bukan itu. Saya yakin Yesaya sangat tahu sampai dimana batas kemampuannya sebagai manusia. Tetapi ia menyadari betul bahwa ia hanyalah seorang utusan, seorang hamba. Ia tidak perlu takut. Bukankah ia memiliki “Tuan” dengan kuasa yang tidak terbatas? Bukankah ketika sang tuannya yang menyuruh, itu artinya tuannya tahu ia mampu, dan tuannya pula yang akan melengkapi apapun yang ia perlukan untuk melaksanakan tugas? Ini sebuah sikap yang seharusnya segera muncul dalam diri kita ketika Tuhan memberi sebuah panggilan. Bukan segera melihat kekurangan atau keterbatasan kemampuan kita, tetapi segera mengarahkan pandangan kepada Sang Pemberi tugas. Bukan mengeluh, tetapi sudah sepantasnya kita bersyukur karena kita dipilih Tuhan untuk melakukan pekerjaan yang mulia. Bukan kemampuan kita yang penting, tetapi kemauan kita. Selebihnya biarkan Tuhan yang berkreasi diatas segalanya lewat diri kita.

Dalam dua renungan terdahulu kita sudah melihat bagaimana caranya agar kita bisa mengerjakan panggilan secara maksimal. Hari ini marilah kita sadari bahwa apa yang diminta Tuhan adalah kesediaan kita, what He wants from us is simply our willingness, our obedience, our immidiate positive response based on trust and faith. Adakah panggilan Tuhan kepada anda yang hingga hari ini masih anda tunda karena ragu? Adakah panggilan Tuhan yang masih anda abaikan karena anda masih tidak percaya bahwa anda sanggup? Jangan tunda lagi, terimalah segera dan beranilah berkata seperti Yesaya: “Ini aku, utuslah aku!”

Bukan kemampuan kita, tetapi kemauan kita, itulah yang diminta Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

2 Comments

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.