Merayakan Indahnya Kesatuan dalam Keberagaman

PW ST. Karolus Lwanga dkk.: Martir
Hari ke-5 novena Roh Kudus
Kis 20:17-27; Mzm 68:10-11.20-21; Yoh 17:1-11a

“Aku berdoa untuk mereka…. yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab mereka adalah milik-Mu” (Yohanes 17:9).

Jauh hari sebelum kita mengenal dan mengimani Yesus, Yesus telah terlebih dahulu mendoakan kita. Kerinduang doa-Nya adalah supaya kita semua menjadi satu dalam Dia. Apa artinya? Kesatuan itu tidak berarti lebur luluh sama rasa sama rata, melainkan kesatuan dengan tetap menghargai keunikan, keberbedaan dan keberagaman.

Setiap orang itu unik. Setiap orang itu berbeda. Namun, semua dipanggil dalam kesatuan untuk meluhurkan, memuji dan memuliakan Allah. Kita bersama-sama dalam kesatuan bagi kemuliaan Allah.

Sebagai murid-murid-Nya, kita dipanggil dan diutus untuk mewujudkan kesatuan dan persatuan itu. Bagaimana kita bisa mewujudkannya?

Senin (2/6), di Pastoran Kebon Dalem Semarang diselenggarakan Angkringan Glenak-Glenik, sinergi antara Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang (HAK KAS) dan Timja HAK Paroki Kebon Dalem. Acara ini juga diselenggarakan dalam konteks hari kelahiran Pancasila. dalam rangka “harlah” Pancasila.

Tema “Melihat Raut Wajah Pancasila” dengan nara sumber Donny Danardono (Dosen Filsafat Fakultas Hukum dan Ketua Program Magister Lingkungan dan Perkotaan Unika Soegijapranata). Mas Donny menyampaikan risalahnya yang berjudul “Pancasila sebagai Kisah”.

Hadir dalam acara ini berbargai unsur yang unik dan berbeda namun kami duduk dalam kesatuan dan kebersamaan: ada mahasiswi-mahasiswa IAIN Walisongo Semarang; OMK Kebon Dalem; Majalah Inspirasi, Lentera yang Membebaskan; Kom HAK Kevikepan Semarang; dua suster PI; tiga pendeta dari Gereja Kristen; dan kelompok muslim Ahmadiyah Semarang.

Dalam keberagaman dan keberbedaan yang penuh kasih itu kesatuan sebagai anak-anak bangsa diukir. Bahwa yang ikut serta memiliki iman dan keyakinan masing-masing, maka tak hanya sedang mengukir sejarah masa depan kesatuan dalam kebersamaan sebagai anak-anak bangsa, melainkan juga sebagai anak-anak Tuhan Yang Maha Esa.

Bagi umat Katolik, penghayatan akan kesatuan dalam keunikan sebagai anggota-anggota Tubuh Mistik Kristus dihayati setiap kali kita merayakan Ekaristi. Di sanalah kesatuan dalam keberagaman dihayati secara sakramental. Kesatuan dengan Kristus secara personal maupun eklesial dan sosial dilanjutkan dan dihayati dalam Adorasi Ekaristi Abadi.

Tuhan Yesus Kristus, terima kasih Engkau telah berdoa bagi kami. Jagalah agar kami tetap mengutamakan kesatuan dalam keberbedaan dan kebersamaan dalam keberagaman, demi kemuliaan Allah, Bapa semua orang, kini dan selama-lamanya. Amin.

Photo credit: Stop racial discrimination by Collage

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.