Merajut Silaturahmi, Menuju Persaudaraan Sejati Lintas Iman

KH Mahfudz Ridwan (kiri) pengasuh Ponpes Edi Mancara bersama Romo Al.Budi Purnomo Pr / Dokpri

MENANDAI  Hari Raya Idul Fitri 1435 H ini, sebagai Ketua Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang, seperti biasa, saya merajut silaturahmi dengan sejumlah tokoh pemerintahan, agama, para sahabat dan umat Islam di Semarang dan sekitarnya. Upaya kecil dan sederhana ini pertama-tama untuk menapakkan langkah menuju persaudaraan sejati lintas iman pada umumnya, dan antara saya sebagai orang Katolik dengan umat Islam.

Hari pertama

Silaturahmi ke Wali Kota Semarang/ dokpri

Silaturahmi ke Wali Kota Semarang/ dokpri

Rajutan silaturahmi Idul Fitri 1435 H dimulai pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri (Senin, 28/07) kepada Walikota Semarang, Hendrar Prihadi di Balai Kota Pemkot Semarang. Silaturahmi ini saya lakukan bersama Mgr. Johannes Pujasumarta, Bapak Uskup Agung Semarang; Rm. FX Sukendar W Pr, Wakil Uskup Agung Semarang (= Vikjen); Rm. Ign. Triatmoko MSF, Sekjen KAS dan Rm. Ign. Aria Dewanto SJ (Ekonom KAS). Kami berangkat bersama dari Wisma Uskup naik Kijang Inova. Romo Ekonom KAS melayani sebagai “sopir”. Bapak Uskup duduk di samping “sopir”. Romo Sekretaris dan saya duduk di tengah. Romo Vikjen dengan rendah hati duduk di belakang sendirian sambil bersenandung menyanyikan lagu, entah lagu apa tak terlalu jelas tertangkap di telinga saya.

Sesampai di Balai Kota, kami langsung menuju ruang tamu utama. Pak Walikota menyambut kami bersama jajaran Muspida. Setelah bersalam-salaman dan “cupika-cupiki” dengan Pak Walkot, kami dipersilahkan duduk dan menikmati hidangan berupa lontong opor.

Silaturahim ke KH Budi Harjono di Ponpes Al-Ishlah/ Foto : dokpri

Silaturahim ke KH Budi Harjono di Ponpes Al-Ishlah/ Foto : dokpri

Pak Walkot pun bersiap menerima silaturahmi masyarakat di halaman Balai Kota, sementara itu kami mohon pamit untuk melanjutkan silaturahmi kami dengan Gubernur Jateng, Bapak Ganjar Pranowo di Wisma Perdamaian Tugu Muda. Kami menjadi rombongan pertama yang akan merajut silaturahmi dengan Gubernur Jateng bersama jajaran Muspida Tingkat I Provinsi Jateng. Karena jadwal silaturahmi dimulai pukul 09.00, maka kami dipersilahkan menunggu di salah satu ruangan di kompleks Wisma Perdamaian Provinsi Jateng.

Pada pukul 09.00, kami dipersilahkan bersiap-siap menuju ruangan yang dipergunakan oleh Pak Ganjar beserta jajaran Muspida Tingkat I untuk menerima para tamu. Ternyata antrean sudah agak panjang. Petugas mempersilahkan Bapak Uskup untuk antre di paling depan, namun beliau memilih antre di belakang warga masyarakat. Sempat sang petugas bilang, “Mohon maaf loh, datang pertama tetapi antre di belakang.”

KH Mahfudz Ridwan (kiri) pengasuh Ponpes Edi Mancara bersama Romo Al.Budi Purnomo Pr / Dokpri

KH Mahfudz Ridwan (kiri) pengasuh Ponpes Edi Mancara bersama Romo Al.Budi Purnomo Pr / Dokpri

Sambil menunggu silaturahmi dimulai, beberapa pendeta, pengusaha, dan ulama bergabung bersama kami. Ada Romo Vikep Semarang AG Luhur Prihadi Pr, Pdt. Wipro Pradipto, Pdt. Rachmat Rajaguguk, Pandita Henry Basuki dari Buddha, dan Pak Sapta Sango. Dalam antrean itu kami sempat berfoto-foto dan selfie bersama Bapak Uskup hingga kami dipersilahkan masuk ruangan untuk bersalaman dengan Gubernur Jateng, Kapolda, Pangdam, dan Muspida lain bersama pasangan masing-masing.

Dalam silaturahmi kepada Walkot Semarang dan Gubernur Jateng Mgr. Johannes berkenan menghaturkan Pesan Idul Fitri 1435 dari Vatikan dan buku Merajut Persaudaraan Sejati Lintas Iman yang saya persiapkan. Kebetulan temanya sama dan judulnya mirip: Menuju Persaudaraan Sejati antara Umat Kristiani dan Islam (Pesan Hari Raya Idul Fitri 1435 H dari Vatikan) dan Merajut Persaudaraan Sejati Lintas Iman (Buku dan Tema Kongres Persaudaraan Sejati Lintas Iman Oktober yang akan datang).

Usai silaturahmi itu, saya sendiri melanjutkan silaturahmi ke salah satu pengurus PITI (Perhimpunan Islam Tionghoa Indonesia) Semarang, Haji Mulyono Tjandra. Saya diterima di pendopo rumah salah satu pengurus PITI Semarang dan dilanjutkan dengan makan siang bersama.

Bersama Gus Hanif, putra bungsu KH Mahfudz Ridwan/ foto : dokpri

Bersama Gus Hanif, putra bungsu KH Mahfudz Ridwan/ foto : dokpri

gus hanif2

Bersama Gus Hanif, putra bungsu KH Mahfudz Ridwan/ Foto : Dokpri

Malamnya, saya bersilaturahmi kepada Pak RT Kulitan, dekat pastoran tempat saya tinggal dua tahun terakhir ini melayani umat Paroki Kebon Dalem Semarang. Karena Pak RT Kulitan, Pak Yitno, beragama Islam, saya sengaja sowan beliau untuk silaturahmi.

Sesudah itu, saya minta diantar Pak RT untuk silaturahmi ke pengurus Masjid Kulitan. Namanya panggilan Pak Yen (ada yang menyebut Pak Zaini?). Untuk mudahnya lalu orang memanggilnya Pak Yen(i).

Bersama Ibu Martha E. Driscoll, OCSO di R Tamu Pertapaan Gedono/ Foto : dokpri

Bersama Ibu Martha E. Driscoll, OCSO di R Tamu Pertapaan Gedono/ Foto : dokpri

Syukurlah, meski pintu rumah sudah tertutup, toh dibuka juga ketika Pak RT mengetuknya dan mengatakan, “Ada Romo Budi yang mau ketemu…” Dengan ramah, Pak Yen menyambut kami, mempersilahkan kami duduk. Kami duduk di karpet. Bermacam-macam penganan masih terhidangkan di situ.

“Pak Yen, selamat hari raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin. Minal aidin wal faizin….” sapa saya sambil menjabat tangan beliau.

“Sama-sama Romo. Saya juga minta maaf. Terutama selama bulan Ramadan, barangkali membuat istirahat Romo tidak nyenyak. Tiap pagi teriak ‘Sahur… Sahur..’ membangunkan umat saya. Romo ikutan bangun…” sahut beliau.

“Oh itu sih tidak masalah Pak Yen. Saya justru berterima kasih karena terbantu untuk bersiap-siap berdoa juga. Bahkan adzan subuh yang saya dengar pun amat bermanfaat bagi saya mempersiapkan diri di pagi hari masuk dalam keheningan doa sebelum Misa” jawab saya.

Hari kedua

Selasa (29/07), sesuai merayakan Ekaristi pagi, saya bersiap-siap melanjutkan merajut silaturahmi di hari kedua Idul Fitri 1435 H. Kali ini, tujuan silaturahmi kami hanya dua. Pertama, berkunjung ke Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ishlah meteseh Tembalang untuk bersilaturahmi kepada KH Amin Maulana Budi Harjono. Kedua, saya akan sowan KH Mahfudz Ridwan, pengasuh Ponpes Edi Mancoro, Salatiga.

Kali ini, saya bersama 5 orang, yakni Haji Mulyono Tjandra dan istri, Maria Magdalena Sindajanti yang menjadi bendahara Kom HAK KAS, dan dua Suster PI Kebon Dalem yaitu Sr. Virgo PI dan Sr. Maxima PI. Dari Kebon Dalem, kami meluncur menuju Ponpes Al-Ishlah.

Di Ponpes Al-Ishlah, kami disambut oleh KH Budi Harjono di halaman pondok, meski kami tidak janjian. Seperti biasa, setiap kali kami saling jumpa, kami selalu saling cium tangan dan peluk cupika-cupiki tanda persahabatan dan persaudaraan kami. Kami dipersilahkan masuk salah satu ruangan di Ponpes Al-Ishlah. Di situ hadir dua tamu tetangga desa. Mereka pun sedang bersilaturahmi.

Kepada kami dihidangkan kopi panas. Kami mulai ngobrol tentang hidup penuh keragaman dan persaudaraan. Suasana akrab membingkai perjumpaan kami dengan sentilan-sentilan dan selingan kisah-kisah sufistik tentang ranah cinta dan kamu sebagai aku yang lain. Dengan canda dan tawa saling menegaskan makna kehadiran yang lain sebagai wujud kehadiran Sang Khalik dalam makhluk-Nya.

Di saat kami sedang asyik ngobrol tentang ranah cinta dan hidup bersaudara, datanglah dua orang tamu, laki dan perempuan. Yang perempuan menuntun yang laki-laki karena lelaki itu tuna netra sejak lahir. Yang mengharukan saya adalah, sesaat kemudian, Kiai Budi menyalakan sebatang rokok dan menempatkan rokok itu di jemari lelaki itu yang serta merta langsung menghisap batang rokok itu dengan cara yang amat unik penuh gaya.

“Namanya siapa Pak?” Tanya saya.
“Jumar…” Sahutnya.
“Jumar itu singkatan maju memar Romo” sahut salah seorang tamu KH Budi.
“Bukan. Tapi maju tak melihat damar…” Sahut lelaki itu sambil terkekeh. Damar dalam arti cahaya. Karena dia sadar bahwa buta sejak lahir dan memang tak pernah melihat cahaya apa pun. Namun ia sangat ceria. Kebetulan Jumar duduk di samping kiri saya. Saya pun memberikan segelas kopi ke tangannya dan dia langsung meminumnya. Dua tenggakan langsung habis. Tak lama sesudah itu, Pak Jumar memberikan puntung rokok yang sudah habis kepada saya untuk saya taruh di asbak raksasa di depan kami.

Silaturahmi di Ponpes Al-Ishlah ditutup dengan aksi seni budaya tarian sufi yang dibawakan oleh Ilham. Tarian itu saya iringi dengan petikan gitar yang dipinjamkan kepadaku. Kulantunkan lagu “Kuasa-Mu Sempurna” ciptaanku sendiri untuk mengiringi liukan tari sufi yang dipersembahkan Ilham kepada kami. Di saat instrumental interlude, KH Budi secara spontan bersyair cinta persaudaraan.

Kami pun berpamitan dan melanjutkan perjalanan menuju Ponpes Edi Mancoro di Salatiga. Di Ponpes Edi Mancoro, kami disambut dengan ramah oleh Gus Hanif, putra bungsu KH Mahfudz Ridwan. Gus Hanif pun menginformasikan bahwa KH Mahfudz Ridwan sedang sakit dan barusan pulang dari rumah sakit.

Menurut Gus Hanif, di usianya yang ke-73, KH Mahfudz terserang stroke bukan secara motorik. Beliau masih bisa bergerak dan berbicara, namun penglihatan dan daya ingat mulai terganggu. Saat ini beliau rawat jalan di rumah.

Gus Hanif berbagi banyak cerita dan kisah hidupnya melayani kelompok-kelompok lintas iman terutama dari Katolik yang sering live in di Ponpes Edi Mancoro. Pengalaman perjumpaan dengan sesama meneguhkan persaudaraan. Kepada Gus Hanif saya serahkan Pesan Idul Fitri 1435 dari Vatikan dan buku Persaudaraan Sejati Lintas Iman.

Sebelum kami berpamitan, kami diijinkan untuk berjumpa sejenak dengan KH Mahfudz Ridwan, pendiri dan sesepuh Ponpes Edi Mancoro. Kepada beliau saya sampaikan salam dari Mgr. Johannes Pujasumarta. Beliau menerima dengan gembira. Meski sakit, beliau tampak tetap bergembira. Beliau pun menyampaikan ucapan terima kasih atas kunjungan kami. Saat saya menjabat dan mencium tangannya sambil mengucapkan selamat hari raya, mohon maaf lahir dan batin (saya ucapkan dalam bahasa Jawa halus) beliau menjawab, “Demikianlah sebagai orangtua pun saya minta dimaafkan dan tetap saling mendoakan.”

Kembali ke Semarang
Karena sudah sampai di Salatiga, kami melanjutkan perjalanan ke Pertapaan Gedono untuk memberi ucapan selamat pesta nama kepada Abdis Pertapaan Gedono, Ibu Martha E. Driscoll, OCSO. Meski kami datang tanpa janjian, Ibu Martha tetap berkenan menjumpai kami selama beberapa saat.

Kepada beliau pun saya haturkan buku Merajut Persaudaraan Sejati Lintas Iman seraya memohon doa untuk bangsa ini agar tetap aman sentosa, khususnya terkait dengan finalisasi proses Pilpres 2014 yang masih menyisakan perkara dari pihak Prabowo-Hatta. Ibu Martha dan para pertapa di Pertapaan Gedana telah, akan dan tetap selalu berdoa agar negeri ini tetap aman sentosa di bawah pelayanan Presiden terpilih dan Wakilnya (Jokowi-JK) dan rakyatnya sejahtera dalam keadilan dan kerukunan.

Setelah saya sendiri berdoa pribadi di kapel pertapaan, kami pun kembali ke Semarang.

Demikian sekadar sharing dan catatan perjalanan silaturahmi dalam dua hari ini. Semoga bermanfaat. Tuhan memberkati!

Keterangan foto utama  :  Silaturahim ke KH Budi Harjono di Ponpes Al-Ishlah/ Foto : dokpri

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.