Menyikapi Panggilan (1)

Ayat bacaan: 1 Tesalonika 4:7
========================
“Allah memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus.”

Seorang tokoh religius asal Amerika pada pertengahan tahun 1800an menuliskan tentang talenta sebagai berikut: “For all have not every gift given unto them; for there are many gifts, and to every man is given a gift by the Spirit of God. To some is given one, and to some is given another, that all may be profited thereby.” Terjemahannya kira-kira seperti ini: “Tidak semua orang memiliki talenta yang sama: ada begitu banyak talenta, dan semua orang menerima talentanya sendiri dari Roh Allah. Kepada yang satu diberikan yang ini, kepada yang lain diberikan yang berbeda, sehingga semuanya bisa beroleh keuntungan.”

Talenta akan mengarahkan anda untuk mengetahui panggilan anda. Mungkin tidak secara langsung, tetapi dalam perjalanannya Allah yang memberikan talenta itu akan mengarahkan anda untuk mengenal betul apa sebenarnya yang menjadi panggilan anda secara khusus.

Ada orang-orang yang beruntung mengetahui panggilannya sejak di usia muda, ada yang baru menemukannya setelah dewasa atau lanjut usia, ada pula yang masih kebingungan mencari tahu. Satu hal yang pasti, semua orang punya panggilannya sendiri-sendiri dan itu tidak bicara secara sempit hanya dalam hal melayani langsung di gereja saja. Amanat untuk menjadikan bangsa-bangsa sebagai murid Kristus, keharusan untuk menjadi terang dan garam berlaku untuk semua orang dan bisa dilakukan lewat apa saja. Dalam bidang apapun kita bisa melakukan misi tersebut. Panggilan punya karakteristiknya sendiri-sendiri dengan keunikan masing-masing, yang akan semakin jelas terlihat ketika kita semakin jelas mengetahui apa sebenarnya yang menjadi panggilan kita.

Ijinkan saya menceritakan tentang panggilan saya. Saya baru menyadari panggilan saya di usia lebih dari 30 tahun. Ketika saya melihat kilas balik hidup saya ke belakang, barulah saya mengerti apa yang harus saya lakukan, dan melihat bahwa sejak kecil Tuhan sebenarnya sudah memberi ‘clue’ yang ketika disambungkan membuat gambaran panggilan itu semakin jelas kelihatan. Kenapa saya waktu kecil sudah suka mendengar lagu-lagu yang bukan lagu anak-anak, lalu mencari tahu cerita tentang band tersebut dan albumnya? Pada waktu itu belum ada internet sehingga untuk mendapatkan informasi tidaklah mudah. Maka majalah yang membahas musik menjadi sesuatu yang menarik selain majalah anak-anak buat saya, selain mendapatkan sedikit cerita tentang seorang artis atau band dari ibu saya sejauh yang ia tahu. Lucunya, ingatan saya tentang hal ini melekat sangat kuat.

Karena ketertarikan di dunia musik, saya sempat les musik selama beberapa tahun dan berpikir bahwa mungkin saya panggilannya menjadi musisi (bukan penyanyi, karena suara saya biasa saja dan tidak punya vibrasi). Dalam proses itu, saya kemudian mengarah kepada satu genre musik yang khusus dan mengoleksi album-album dari luar dan dalam negeri, sambil tetap mendengarkan jenis-jenis musik lainnya. Semua ini membuat bank data tentang artis, karya dan profilnya terus bertambah di kepala saya.

Menjadi musisi ternyata bukan panggilan karena saya lebih suka mendengar dan mencermati/menganalisa lagu ketimbang memainkannya. Seiring waktu berjalan, saya semakin tertarik mempelajari sejarah musik dari berbagai majalah yang ada, baik tentang perjalanannya dari waktu ke waktu, perubahan trend, band-band atau artis yang terdepan di era masing-masing dan sebagainya. Lalu siapa yang mengira bahwa saya yang tidak suka menulis kemudian mulai hobi mengulas album di sebuah situs sekian tahun setelahnya? Dan diwaktu yang sama mulai mempelajari cara membuat situs yang interaktif dan multimedia.

Di usia ke 36 saya akhirnya menemukan panggilan saya untuk berkecimpung di dunia musik, bukan sebagai pelaku langsung tetapi sebagai jurnalis. Dalam perjalanannya, saya bersinggungan dengan banyak pelaku dan menyampaikan tentang kebenaran Firman Tuhan secara langsung dalam banyak kesempatan. Latihan menulis ulasan kemudian membawa saya juga untuk rutin menulis renungan sejak tahun 2006.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.