Menyikapi Derita Sakit dengan Mata Iman: Tetap Bahagia

pastor king2

Pengantar Redaksi

Tulisan ini diterjemahkan dari karya tulisan Pastor Geoffrey King. Geoffrey King (Geoff) adalah imam Yesuit dan pejabat dekan di United Faculty of Theology, bagian dari MCD University of Divinity (sebelumnya dikenal sebagai Melbourne College of Divinity).

———

MESKIPUN menderita motor neurone disease (gangguan pada sistem syaraf yang menyebabkan kelumpuhan bertahap pada seluruh organ tubuh hingga organ pernapasan), saya tidak akan mengakhiri hidup saya seperti yang dilakukan Beverley Broadbent.

Beverley Broadbent adalah seorang wanita lansia, warga Australia, berusia 83 tahun, yang memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan meminum “pil penenang” dalam dosis yang mematikan.

Ms. Broadbent telah memutuskan untuk mengakhiri hidupnya karena dia sudah merasa cukup dengan hidupnya dan merasa bahwa proses penuaan telah menimbulkan ketidaknyamanan yang lebih besar ketimbang kegembiraan hidup. Dia tidak menderita sakit parah, namun tidak ingin masuk rumah khusus lansia, di mana dia tidak dapat memilih sendiri kematian yang damai dan bermartabat. (Baca: http://www.theage.com.au/victoria/suicide-a-calm-and-beautiful-ending-says-witness-20130402-2h53z.html).

Saya membaca kisah bunuh diri Beverley Broadbent dengan penuh rasa ingin tahu dan mudah-mudahan juga dengan empati. Saya rasa, saya bisa menghargai pilihannya untuk mengakhiri hidup selagi ia masih dapat menikmati hidupnya. Namun ini bukan pilihan yang akan saya ambil.

Akan tetapi, pilihan tersebut harus saya hadapi. Hampir dua tahun yang lalu, saya didiagnosis menderita motor neurone disease, dengan jenis yang jarang, yakni yang perkembangannya lebih lambat ketimbang jenis lain yang umum.

Kaki-kaki saya boleh dikatakan sudah tidak berfungsi lagi dan saya menghabiskan waktu di kursi roda elektrik sekitar 14 jam sehari. Saya perlu dibantu untuk berbaring dan bangun dari tempat tidur juga untuk pergi ke toilet. Baru-baru ini saya merasakan tangan kanan saya mulai melemah – tanda dari apa yang akan terjadi kemudian, yakni seluruh otot atau saraf gerak saya mulai lumpuh.

Saat ini saya ingin hidup sepenuh-penuhnya, kendatipun dalam keterbatasan yang sudah sangat terasa.

Saya menjadi pejabat dekan di United Faculty of Theology yang merupakan bagian dari MCD University of Divinity, Melbourne. Saya mengajar satu mata kuliah di fakultas tersebut. Sebagai seorang imam Katholik, saya mempersembahkan misa pagi beberapa kali seminggu di Gereja Richmond dimana saya tinggal, dan pada hari Minggu di Werribee.

Saya pergi ke stadion menonton tim sepakbola favorit saya bertanding. Saya menonton konser-konser dan pameran-pameran di gedung pertunjukan. Saya sering ke kafe untuk menikmati kopi yang enak. Saya paling sering belanja bahan makanan untuk komunitas kecil saya.

Untuk sebagian aktivitas tersebut, saya memerlukan taksi besar. Namun lebih sering saya bepergian dengan kursi roda saja atau dengan kereta, terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu saya menaiki kendaraan tersebut. Bila lengan dan tubuh bagian atas saya melemah, semuanya ini akan menjadi semakin sulit dan akhirnya tidak mungkin lagi, namun sejauh ini saya telah berhasil beradaptasi dengan cara yang beberapa tahun sebelumnya tampak mustahil bagi saya, dan saya berharap proses adaptasi seperti itu akan terus berlanjut.

Menerima sakit
Namun mengapa saya memilih untuk terus memasuki fase yang makin buruk dari penyakit ini, ketimbang mengikuti jalan Beverley Broadbent?

Bagi saya, hal ini pada akhirnya bukan soal masuk akal atau tidak, melainkan soal iman. Saya percaya akan Allah pencipta dan Allah yang kreatif, saya juga percaya akan paradoks kekuatan salib.

Bagi saya, hidup adalah anugerah dari Allah. Sejauh ini hidup saya merupakan anugerah yang sangat berlimpah. Saya telah melakukan banyak hal, mengalami banyak hal, serta bepergian ke banyak tempat (tempat-tempat di hati saya maupun tempat-tempat geografis) yang tidak pernah saya bayangkan ketika saya berumur, katakanlah, 20 tahun.

Saya telah menjalani hidup yang sangat baik, dan untuk itu saya amat sangat bersyukur. Sekarang saya telah memasuki tempat-tempat yang lebih gelap, namun bahkan di sini saya menemukan hidup yang baru: ada gairah petualangan, misalnya, dalam menemukan cara untuk melakukan hal-hal sepele dari keterbatasan berkursi roda.

Saya tahu bahwa saya tidak akan pernah lagi berjalan sepanjang 40 km seperti dulu ketika di C & O Canal di Washington, atau berkeliling di Parthenon, Athena pada pagi hari yang berkabut, atau minum bir hitam di Augustiner Bierhalle, Munich, atau menonton konser luar ruangan pada malam hari di Roman Forum, Roma, atau bahkan mengejar kapal ferry di Sydney Harbour.

Ada kekecewaan besar di situ, namun perasaan itu kalah jauh ketimbang rasa syukur bahwa saya telah mengalami semua itu sebelumnya.

Dan kemudian lihatlah salib. Saya tidak percaya bahwa penderitaan itu tidak bermakna, namun seperti penderitaan Kristus, penderitaan dapat menjadi penebusan. Tentu saja kita harus mengupayakan apa yang kita mampu untuk mencegah penderitaan tetapi kita tetap akan menghadapinya.

Penyakit yang mengerikan ini menempatkan saya dalam solidaritas dengan mereka yang menderita di seluruh dunia. Penyakit tersebut telah membuat saya masuk ke dalam dunia orang dengan keterbatasan (cacat), seperti orang lain dengan kursi roda yang saya jumpai di kereta.

Bersama mereka, saya melihat dunia dengan mata yang baru. Dan dengan cara yang sederhana saya telah menjadi pejuang bagi para penyandang keterbatasan (cacat) dan pejuang untuk akses bagi mereka yang mengalami keterbatan.

Saya telah mendapatkan inspirasi dari ketenangan penderita motor neurone lainnya, sebagian dari mereka jauh lebih parah daripada saya.

Saya juga telah merasakan betapa orang-orang mengasihi saya. Doa-doa, harapan baik yang disampaikan, serta bantuan material telah datang dari berbagai tempat baik yang terduga maupun yang tidak terduga.

Melalui blog saya (geoffreysj.com), saya telah bertemu dengan teman-teman baru dan terhubung kembali dengan teman-teman lama. Menyandang motor neurone disease, dengan demikian, telah membuat saya hidup dengan cara yang baru. Saya benar-benar melihatnya sebagai anugerah, anugerah yang sangat menantang dan misterius, dari Allah Sang Pemberi Hidup.

Di sini saya sama sekali tidak bermaksud memberi kesan bahwa motor neurone bukanlah penyakit yang mengerikan, yang di tahap lanjutnya sangat parah.

Seorang teman menggambarkan bahwa menderita motor neurone itu bagaikan mengerjakan sesuatu yang paling tidak enak. Saya hanya berharap bahwa saya dapat bertahan dengan sikap yang positif seiring bertambah beratnya keadaan saya. Saya juga tidak ingin memperpanjang hidup saya secara artifisial, dengan terus menggunakan ventilator, misalnya, ketika otot atau syaraf untuk bernapas saya tidak berfungsi lagi. Pada titik itu saya ingin dibiarkan untuk mati, namun bagi saya itu sangat berbeda dengan mengambil langkah aktif untuk mengakhiri hidup saya.

Saya juga tidak memaksudkan ini sebagai komentar langsung mengenai politik euthanasia, bukan juga upaya untuk menyalahkan pandangan Beverley Broadbent.

Sikap saya didasarkan pada iman Kristen. Saya tidak bermaksud memaksakan pandangan saya kepada mereka yang tidak menghayati iman yang sama. Namun ini merupakan pernyataan dari seseorang yang ingin hidup dalam kepenuhannya, yang telah menemukan kepenuhan tersebut di tempat-tempat yang paling tidak mungkin, dan yang mempercayakan diri pada bimbingan rahmat menakjubkan yang telah menyelamatkan saya selama ini.

Sumber: http://www.theage.com.au/comment/life-or-death-decision-inspired-by-faith-in-god-20130403-2h708.html

Kredit foto: Express.org

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.