Menyerah (3) : Makanlah

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 19:7
=========================
“Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.”

makanan bagi jiwa dan roh

Salah seorang siswi saya begitu takut gemuk, maka ia pun melakukan diet. Jika dilakukan dengan pengawasan dokter atau ahli nutrisi mungkin baik, tetapi sayangnya ia melakukannya serampangan. Ia secara drastis menghindari makan siang atau makan di waktu-waktu lain, dan akibatnya ia pun jatuh sakit. Biar bagaimanapun manusia butuh makan untuk bisa bertahan hidup. Makanan akan membawa asupan nutrisi dan gizi serta vitamin yang akan memampukan kita menjaga stamina dan kesehatan untuk menghadapi aktivitas sehari-hari yang seringkali memerlukan energi yang tidak sedikit.

Masalah makan pun tampaknya menjadi agenda penting bagi Tuhan untuk diingatkan kepada kita. Melanjutkan renungan dua hari kemarin yang fokus mengenai Elia yang mengalami tekanan pada jiwanya. Keletihan setelah melakukan pekerjaan begitu besar melawan 450 nabi Baal, ternyata energinya baik secara fisik maupun rohani terkuras habis sehingga tidak lagi punya cadangan tenaga menghadapi ancaman Izebel. Maka Elia pun terduduk lesu di bawah pohon rindang, dan berdoa agar kiranya Tuhan segera mengambil nyawanya sesegera mungkin. “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” (1 Raja Raja 19:4). Aku cuma pecundang, aku orang gagal, aku tidak lebih baik dari pendahuluku, aku tidak mampu melakukan apa-apa, aku bukan siapa-siapa, dan berbagai anggapan negatif terhadap diri sendiri lainnya. Bukankah kita pun pernah mengatakan hal itu? Bukankah kita pernah berpikir seperti itu terhadap diri kita sendiri? Elia pun mengalami hal itu. Break down, burn out, give up, and surrender. Dan ketika itu terjadi, lihatlah bagaimana Tuhan segera campur tangan untuk menolong Elia. Malaikat pun diutus langsung menjumpai Elia dan memberikan pertolongan serta pesan dari Tuhan agar Elia bisa bangkit kembali dan terlepas dari tekanan jiwanya.

Kemarin kita sudah membahas pesan pertama Tuhan seperti yang tertulis dalam 1 Raja Raja 19:5. “Bangunlah!” Itu pesan pertama. Lalu yang kedua, Tuhan melanjutkan dengan pesan “Makanlah!” Bangkit tanpa mengisi kebutuhan terlebih dahulu akan membuat kita kembali jatuh. Bangkit itu perlu, karena tanpa kemauan untuk bangkit kita tidak akan bisa pulih. Namun itu harus disertai pula dengan asupan yang cukup. Lihat kemudian apa yang dilakukan Elia. “Ketika ia melihat sekitarnya, maka pada sebelah kepalanya ada roti bakar, dan sebuah kendi berisi air. Lalu ia makan dan minum, kemudian berbaring pula.” (ay 6). Elia makan dan minum, tapi kemudian ia kembali rebah. Artinya makanan itu belumlah cukup untuk memulihkan dirinya. Lalu Tuhan pun kembali mengutus malaikatnya. “Tetapi malaikat TUHAN datang untuk kedua kalinya dan menyentuh dia serta berkata: “Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu.” (ay 7). Elia pun kembali makan, dan lewat kekuatan makanan itu ia mampu berjalan kembali. Bukan cuma sekedar berjalan sebentar, tapi mampu menempuh 40 hari dan 40 malam hingga mencapai gunung Horeb, dimana Allah menyatakan diriNya.(ay 8)

Demikianlah pedulinya Tuhan terhadap kita. Dia tahu apa yang kita butuhkan, Dia tahu seberapa besar kita kekurangan “nutrisi” untuk menghadapi berbagai tekanan sulit dalam hidup kita. Makan disini tidak hanya berarti makanan untuk mengisi perut, untuk memulihkan stamina atau energi ragawi, tetapi juga berbicara mengenai makanan untuk jiwa dan kerohanian kita. Lihatlah apa kata Yesus: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Matius 4:4) mengutip firman Tuhan dalam Perjanjian Lama yang berbunyi: “Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN. (Ulangan 8:3).  Ini sesungguhnya pesan penting. Kita bisa saja terus mengisi diri kita dengan makanan yang cukup, bahkan lebih dari cukup, tetapi jika kita membiarkan jiwa dan roh kita mengalami lapar dan dahaga, maka kitapun akan mudaha disusupi oleh berbagai kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan yang akan dengan mudah membuat kita menyerah, bahkan menghancurkan diri kita. Kehilangan harapan, menyerah pada tekanan, dan melupakan Tuhan yang begitu peduli, yang telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita.

We need food to stay alive. We need food to stay strong. We need food to get back on our feet. Bukan hanya makanan untuk tubuh, tetapi kita pun butuh makanan untuk jiwa dan roh kita. Bukan hanya tubuh kita yang bisa menderita dehidrasi dan jatuh sakit jika tidak diisi dengan asupan nutrisi yang cukup, tetapi jiwa dan roh kita pun bisa mengalaminya jika tidak mendapat asupan firman Tuhan yang cukup. Jiwa kita bisa mengalami dehidrasi, roh kita pun bisa mengalami kekeringan. Oleh karena itulah kita perlu terus membekali diri kita dengan firman Tuhan, yang akan mampu menguatkan kita ketika kita ingin bangkit dari kegagalan atau kehancuran yang tengah melanda kita. Dalam Ibrani dikatakan “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita..” (Ibrani 10:25). Disana kita bisa mendapatkan kekuatan baru lewat firman Tuhan dan persekutuan-persekutuan kita dengan saudara-saudari seiman. Melakukan saat teduh, membaca, merenungkan dan memperkatakan firman Tuhan, itu artinya kita memberi jiwa dan roh kita makanan agar mampu hidup secara kuat untuk menghadapi masalah apapun yang tengah menimpa diri kita. Kepada Elia, Tuhan berpesan agar ia bangun dan makan, Tidak hanya satu kali, tetapi bahkan dua kali ia diberi makan, yang menunjukkan bahwa beratnya tekanan yang ditanggung Elia pada saat itu tidak cukup diatasi hanya dengan makan sekali saja. Jika kepada Elia Tuhan peduli, mengapa tidak bagi kita? Tuhan mengingatkan kita untuk memberi makan yang cukup kepada tubuh, jiwa dan roh. Makanan jasmani dan makanan rohani alias firman Tuhan, itu akan membuat kita mempunyai tenaga yang cukup untuk menghadapi hari-hari yang berat. Mari periksa diri kita hari ini, apakah jiwa dan roh kita sedang lapar dan dahaga? Apakah kita mengalami kekeringan secara rohani? Kembali segarkan dengan firman Tuhan saat ini juga.

We need food for our body, but we also need food for our soul and spirit

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.