Menyerah (2) : Bangkitlah

Ayat bacaan: 1 Raja Raja 19:5
==========================
“Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!”

Betapa sulitnya untuk bangkit dari keterpurukan. Itu dirasakan oleh hampir semua orang. Sangat tidak enak ketika kita dihadapkan kepada sebuah kegagalan, lebih tidak enak lagi apabila kita mengalaminya secara beruntun. Apa yang selama ini kita bangun dan perjuangkan ternyata sia-sia, dan kita akan merasa terlalu lelah untuk bangkit kembali dan memulai segalanya kembali dari awal. Seringkali kegagalan itu berdampak luas dalam waktu yang cukup lama, sehingga orang yang mengalaminya akan lebih memilih untuk menghindar dari realita, bersembunyi dan terbenam dalam masa lalunya. Tidak ada lagi tatapan buat masa depan, tidak ada lagi keinginan untuk bangkit. Ketika ini terjadi, sebenarnya praktis kehidupan pun sudah berakhir.

Tuhan tidak menginginkan satupun dari kita anak-anakNya mengalami hal ini. Dia tidak ingin anak-anakNya tenggelam dalam bayangan kegagalan. Sementara kehidupan di muka bumi ini tidak akan pernah selalu mudah. Artinya, kita akan terus berhadapan dengan saat-saat dimana kita mengalami kejatuhan atau kegagalan. Itu wajar, itu normal, tetapi Tuhan selalu menginginkan kita untuk bangkit kembali.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana jiwa Elia kelelahan dan tertekan. Begitu tertekannya Elia sehingga ia mengucapkan doa minta mati seperti ini. “Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: “Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku.” (1 Raja Raja 19:4). Setelah kemarin kita melihat bagaimana jiwa Elia tertekan dan membuatnya menyerah, hari ini kita akan melihat kelanjutannya dengan memperhatikan apa yang kemudian dilakukan Tuhan untuk kembali meneguhkan Elia kembali ke alurnya seperti yang diinginkan Tuhan. Apa yang terjadi selanjutnya adalah seperti ini: “Sesudah itu ia berbaring dan tidur di bawah pohon arar itu. Tetapi tiba-tiba seorang malaikat menyentuh dia serta berkata kepadanya: “Bangunlah, makanlah!” (ay 5). Seorang malaikat hadir, menyentuhnya, menyuruhnya bangun dan makan. Mari kita fokus kepada perkataan pertama malaikat utusan Tuhan itu. Bangunlah! Bangkitlah! Wake up! Arise! Itu seruan malaikat menyikapi Elia yang sudah kehilangan harapan. Tidak hanya satu kali tapi dua kali Elia mendapatkan seruan itu. Sulit memang untuk bisa bangkit kembali, namun itu yang Tuhan inginkan. Tuhan merasa perlu untuk mengingatkan Elia akan hal ini sehingga pesan ini harus diulangi hingga dua kali agar mampu diresapi secara baik oleh Elia.

Kita tidak akan pernah bisa lepas dari rasa frustasi atau terbebas dari bayang-bayang kegagalan di masa lalu kecuali kita mau kembali bangkit dan mulai melakukan sesuatu. We will never be able to overcome it unless we are willing to get up and start doing something about it. Mungkin kita sudah terlalu lama bersembunyi dan menyepi dari keramaian, ini saatnya bagi kita untuk bangkit dan kembali menghadapi dunia dengan semangat baru. Bisa jadi tidak mudah, dan dengan mengandalkan kekuatan sendiri mungkin saja tidak bisa, tetapi kita harus ingat bahwa penyertaan Tuhan bersama kita akan memampukan kita untuk melakukan hal itu. Jika kita mundur ke belakang, Yosua pernah mengalami hal yang mirip. Tidak mudah bagi Yosua untuk menerima ketika ia diminta Tuhan secara langsung untuk menggantikan posisi Musa. Pengalamannya menjadi abdi Musa telah membawanya untuk melihat bagaimana keras kepala dan tegar tengkuknya bangsa Israel begitu menyusahkan Musa. Tugas maha berat itu kini dialihkan ke pundaknya. Maka kita pun melihat bagaimana Tuhan berkali-kali meyakinkan Yosua untuk menguatkan dan meneguhkan hatinya. Dan ketika Tuhan mengulangi pesan yang sama untuk ketiga kalinya, perhatikan apa yang dikatakan Tuhan kepada Yosua. “Bukankah telah Kuperintahkan kepadamu: kuatkan dan teguhkanlah hatimu? Janganlah kecut dan tawar hati, sebab TUHAN, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi. (Yosua 1:9). Ya, tidak ada alasan untuk kecut dan tawar hati, tidak ada alasan untuk takut memulai kembali jika Tuhan sendiri berjanji untuk menyertai kita kemanapun kita pergi bukan? Tenaga kita mungkin tidak cukup, mental kita mungkin sulit untuk kembali teguh, bayangan kegagalan mungkin terus merongrong diri kita, tetapi kekuatan dari Tuhan, yang telah berjanji untuk senantiasa menyertai kita, itu akan mampu memberikan semangat baru bagi kita untuk bangkit dan kembali berjuang. Get back on track with the new spirit. Itu semua bisa kita lakukan jika kita mengimani bahwa Tuhan sebenarnya selalu menyertai kita, kemanapun kita pergi. Ada Tuhan bersama kita kemanapun dan kapanpun.

Seperti halnya seruan Tuhan lewat malaikat kepada Elia untuk bangkit, seperti itu pula seruan Tuhan kepada kita yang masih belum mampu mengatasi trauma dan terus mengalami tekanan pada jiwa kita sehingga sulit untuk kembali berdiri menghadapi masa depan. Jika anda masih terikat dalam hal seperti ini, merasa tidak lagi punya harapan untuk bangun dari tidur yang panjang, ingatlah firman Tuhan ini. “Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu.” (Yesaya 60:1). Dalam versi bahasa Inggris dikatakan: ARISE [from the depression and prostration in which circumstances have kept you–rise to a new life]! Shine (be radiant with the glory of the Lord), for your light has come, and the glory of the Lord has risen upon you!” Kegagalan boleh saja hadir, tetapi itu bukan berarti kita harus menyerah. Selama Tuhan masih menyertai kita, selama kemuliaan Tuhan masih menaungi kita, kita harus tetap bersemangat untuk bangkit dan kembali berjuang. Bukan bangkit saja, tetapi Tuhan juga menginginkan kita untuk mampu menjadi terang. Kegagalan kita akan digantikan dengan kesuksesan dalam semangat baru, dan itu akan sangat berguna untuk dipakai sebagai kesaksian yang memberkati banyak orang. Dan hal tersebut berbicara mengenai kita sebagai terang. Tuhan siap memakai apapun yang anda alami hari ini untuk menyatakan kuasa dan kasih setiaNya. Elia mengalami break down, burn out, tekanan berat dalam jiwanya dan hampir menyerah kalah, dan pesan Tuhan pertama berbunyi sebuah seruan bagi dirinya untuk kembali bangkit. “Bangunlah!” itu kata Tuhan kepada Elia, dan pesan itu pun berlaku pula bagi kita. Tuhan tidak menginginkan kita patah semangat atau kehilangan harapan ketika menghadapi tekanan atau kegagalan. Dia ingin kita selalu ingat bahwa kasih setiaNya atas diri kita akan membuat diriNya selalu ada bersama kita sampai kapanpun. Jika anda mengalami trauma atau tekanan, atau merasa terlalu takut untuk kembali bangkit dari kegagalan, jangan pernah lupa bahwa Tuhan selalu menyertai kemanapun anda pergi. Oleh sebab itu, hari ini juga, bangkitlah! Let’s arise and shine!
Kita tidak akan pernah mampu mengatasi rasa frustasi atau trauma kegagalan jika kita tidak berani untuk kembali bangkit

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.