Menyelidiki Diri

Ayat bacaan: 2 Korintus 13:5
======================
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”

Sudah menjadi kebiasaan atau mungkin pula sifat manusia untuk mencari kambing hitam ketimbang memeriksa diri sendiri terlebih dahulu. Mudah pula bagi kita untuk mengkritik bahkan mencerca orang lain tapi tidak mau legowo mengintrospeksi diri. Sangatlah dianjurkan bagi setiap orang untuk rajin mengecek kesehatan secara berkala, tapi sedikit yang mau melakukan. Jika kesehatan ragawi atau jasmani itu penting, apalagi mengecek kondisi iman kita. Dimana kita hari ini berdiri, apakah masih tetap teguh dalam iman atau tanpa disadari sudah tercemar oleh berbagai hal sehingga iman tidak lagi punya tempat dalam diri kita. Jadi yang sulit bukanlah melihat orang lain tapi justru menilai diri sendiri. Sebelum kita menilai keburukan orang lain dan menghakimi mereka, atau menjadikan mereka kambing hitam, sudahkah kita memeriksa diri kita sendiri?

Paulus menyampaikan pesan penting kepada jemaat Korintus akan hal ini. Katanya: “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5). Dari ayat ini kita bisa mencermati bahwa sudah seharusnya kita lebih memprioritaskan untuk menyelidiki diri kita sendiri terlebih dahulu ketimbang menilai orang lain. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang tidak tersaring apabila kita tidak pernah memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang masuk ke dalam diri kita. Ketika kita berani menguji atau memeriksa diri sendiri, itu artinya kita berani melihat segala sesuatu dari diri kita, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan pembenahan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji. Berdiri tegak dalam iman akan membuat kita tetap tegar dalam menghadapi segala kesulitan yang ada di dunia. Itu akan memampukan kita untuk menjalani berbagai macam ujian dan keluar sebagai pemenang. Orang yang berdiri tegak dalam iman dan mengijinkan Yesus berkuasa dalam dirinya tidak akan gampang putus asa, bersungut-sungut, mengeluh apalagi menyerah. Orang-orang seperti ini tidak akan mudah diguncang berbagai kekuatiran atas hal-hal yang ditakuti dunia. Tetap tegar dan tidak goyah, tetap bersukacita dan tidak bersungut-sungut. Mengapa bisa begitu? Karena mereka hidup dengan dipimpin Roh Allah sehingga mampu melihat dengan kacamata iman. Mereka tahu bahwa mereka harus hidup sesuai rencana Tuhan, following His sequence, dan tahu pasti bahwa mereka tidak sendirian menghadapi masalah karena Yesus berjalan bersama dengan mereka. Itulah sebabnya penting bagi kita untuk memeriksa diri sendiri, menguji dan menyelidiki apakah iman akan Kristus masih berfungsi baik atau tanpa disadari sudah terpinggirkan atau malah hilang sama sekali.

Akan halnya kebiasaan banyak orang yang mencari kambing hitam ketimbang mengintrospeksi diri, Yesus memberi teguran yang bunyinya demikian: “Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?” (Matius 7:3). Bagaimana kita boleh merasa berhak menilai keburukan orang lain jika diri kita sendiri masih belum benar? Dan Yesus pun menyebut orang yang demikian sebagai orang yang munafik. “Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.” (ay 5). Kita harus berhati-hati dalam mengeluarkan perkataan mengenai orang lain, karena salah-salah kita akan terjebak kepada proses menghakimi yang akan merugikan diri kita sendiri. “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.” (ay 2).

Manusia memiliki kecenderungan untuk merasa lebih pandai untuk menilai orang lain ketimbang memeriksa dirinya sendiri, dan itu sangat bisa membahayakan langkah kita menuju kehidupan yang kekal. Oleh karena itulah kita harus benar-benar menjaga diri kita untuk tidak terjebak kepada perilaku seperti ini. Jangan sampai ketika Tuhan menguji hati dan batin kita, Dia menemukan begitu banyak masalah yang bisa membuatnya kecewa dan menolak untuk menerima kita. Tuhan sudah berkata: “Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin..” (Yeremia 17:10). Jika kita menolak untuk menyelidiki atau memeriksa hati kita, kita tidak akan pernah bisa mencontoh Daud yang sangat ingin memastikan bahwa hati dan batinnya sudah benar-benar bersih. “Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku.” (Mazmur 26:2). Bayangkan seandainya kita mengatakan hal seperti itu tapi dalam hati dan batin kita masih terdapat begitu banyak penyimpangan, bukankah itu akan berbahaya? Dalam kesempatan lain ia berkata “Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!” (139:23-24). Kita bisa meminta Tuhan untuk menyelidiki masalah-masalah yang tersembunyi yang tidak kita sadari, tetapi terlebih dahulu kita sendirilah yang harus menguji diri sendiri, memastikan apakah kita sudah sungguh-sungguh mentaati perintahNya dan menjauhi laranganNya, apakah kita masih berjalan dengan iman atau menyerah terhadap segala bentuk ketakutan  akibat terjerumus pada bentuk pola pikir dunia.

Daripada sibuk melihat keburukan orang lain, alangkah lebih baik apabila kita mau dengan segala kerendahan hati dan kejujuran memeriksa diri kita sendiri. Apabila kita masih menemukan hal-hal yang bisa menghambat pertumbuhan dan merusak kesehatan rohani di dalam diri kita, seharusnya kita dengan lapang dada berani mengakuinya lantas membereskannya secepat mungkin agar hati dan batin kita bisa tetap terjaga bersih dan tetap berada dalam koridor iman. Itu akan memampukan kita menghadapi berbagai kesulitan tanpa kehilangan harapan dan membuat kita bisa terus mantap dalam melangkah menuju kehidupan yang kekal.

Rajinlah menguji diri sendiri sebelum terlambat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.