Menyalakan Pelita Kasih dan Damai Sejahtera

Selasa 10 Juni 2014; Hari Biasa Pekan X; 1 Raja 17:7-16; Mzm 4:2-3.4-5.7-8; Mat 5:13-16
“Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

SENIN malam (9/6), salah seorang kawan dari PMII (Pergerakan Mahasiswa-i Islam Indonesia) Rayon Gus Dur yang akhir Mei lalu ikut dalam program “Interfaith Journey” di Gerejaku menulis SMS begini, “Ngapuntene nggih romo, kalo gara-gara kunjungan kita kemaren jenengan mungkin jadi sering diintimidasi ato diganggu banyak orang…. Saya jadi gak enak sama romo… Ngapuntene romo.. Ya memang untuk niat baik belum tentu dianggap baik…”

SMS itu langsung terlintas di pikiran saya saat saya membaca Injil hari ini, terutama ayat yang saya kutip di atas. Niat baik adalah bagian dari pelita yang bercahaya. Apalagi niat baik itu juga diwujudkan dengan segala konsekuensinya. Semua orang kiranya harus memancarkan yang baik dalam kehidupan ini.

Sabda Yesus ini tidak bisa dipisahkan dari sabda sebelumnya. “Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu” (Matius 5:15).

Sabda Yesus tepat benar. Mana ada orang yang setelah menyalakan pelita meletakkan pelitanya yang menyala di bawah gantang. Pelita selalu diletakkan di atas kaki dian sehingga sinar cahayanya mulai menerangi semua orang di dalam rumah itu.

Dunia ini laksana rumah kita. Pelita itu adalah hal-hal baik yang kita upayakan dalam hidup bersama. Kebaikan itu harus kita wartakan agar menebarkan sukacita dan damai-sejahtera bagi semakin banyak orang. Perbuatan baik mesti kita wartakan laksana pelita kasih dan damai-sejahtera bagi sesama.

Sayangnya, kita sering kali takut untuk menaruh pelita perbuatan baik itu di atas kaki dian kehidupan. Ah, ‘ntar’ dikira sok, sombong, arogan! Ah, nanti malahan disalahpahami… Kita punya banyak dalih dan alasan.

Di tengah maraknya kejahatan, korupsi, kekerasan, kebohongan dan kehancuran keadaban publik ini; kita – apa pun iman dan agama kita – dipanggil untuk tetap teguh menyalakan api kasih dan damai-sejahtera. Pepatah mengatakan, “It’s better to light a (litle) candle than to curse the darkness…” Di tengah karut-marut kehidupan yang korup ini, mari kita nyalakan pelita kasih, pengharapan dan damai-sejahtera melalui setiap perbuatan baik kita, sekecil apa pun.

Perbuatan baik itu dimulai dari hal yang sederhana, yakni cara kita berkata-kata. Kata-kata dan kalimat yang kita ucapkan mencerminkan kepribadian kita. Orang Jawa bilang, “Ajining dhiri gumantung saka kedaling lathi. Ajining raga gumantung saka busana.” (Harga diri kita terpancar dari lidah kita dan cara kita berpakaian.)

Dalam rangka Adorasi Ekaristi Abadi, umat Katolik mengalami makna istimewa berkat keheningan dan sembah sujud itu. Adorasi Ekaristi Abadi laksana pelita yang kita nyalakan dan kita taruh di atas kaki dian. Dari keheningan Adorasi Ekaristi Abadi terpancarlah perbuatan-perbuatan maupun perkataan-perkataan yang baik penuh kasih dan damai-sejahtera bagi sesama.

Tuhan Yesus Kristus, ajarilah kami tulus dan ikhlas menyalakan pelita agar terang kami bercahaya dan terpancarlah kasih dan damai-sejahtera dalam kehidupan, kini dan sepanjang masa. Amin.

Photo credit: Ilustrasi (Luke Barnett)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.