Menunda Berbuat Kebaikan

Ayat bacaan: Amsal 3:27
===================
“Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.”

menunda perbuatan baik

“Don’t put off till tomorrow what you can do today.” Ini adalah sebuah kalimat bijak klasik yang tidak lagi asing bagi kita. Lewat kalimat ini kita diajak untuk tidak menunda-nunda untuk melakukan apa yang bisa kita kerjakan saat ini juga. Tapi manusia agaknya memang hobi menunda. Mengerjakan tugas di saat terakhir sudah menjadi kebiasaan sebagian besar siswa. SKS dipelesetkan menjadi “Sistim Kebut Semalam” yang menggambarkan bagaimana mereka menghadapi ujian hanya dengan belajar mendadak satu malam sebelumnya. Dalam banyak hal kita terbiasa untuk menunda-nunda untuk melakukan sesuatu, dan pada akhirnya kita sendirilah yang akan kalang kabut. Jika untuk kepentingan kita sendiri kita sudah terbiasa melakukannya, apalagi dalam hal memberi. Selalu saja ada alasan yang kita kemukakan untuk menghindari kewajiban kita untuk menolong orang lain. Tidak punya cukup uang, belum sanggup membantu dan sebagainya. Mungkin kita tidak berada dalam kelimpahan, tetapi bukankah seringkali dengan jumlah yang sedikit saja kita bisa memberi kelegaan kepada mereka yang hidup dibawah kemiskinan? Atau bahkan sedikit perhatian dan kepedulian kita, menjadi “shoulder to cry on” saja sudah sangat membantu bagi mereka yang membutuhkan? Kata sanggup atau tidak sering menjadi hal yang subjektif, karena pada satu sisi saya melihat ada banyak orang yang hidup pas-pasan tetapi masih mau berusaha untuk menolong orang lain, tapi di sisi lain orang yang kaya tetap saja merasa masih kurang.

Firman Tuhan hadir lewat Amsal Salomo. “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27). Ayat selanjutnya berkata “Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu.” (ay 28). Ketika kita bisa berbuat baik, sudah sepantasnya kita tidak menunda-nunda untuk melakukan itu. Kebaikan tidak hanya berbicara mengenai sedekah atau sumbangan, tetapi bisa hadir lewat berbagai hal. Perhatian, kasih sayang, kesabaran, dukungan moril, meluangkan sedikit dari waktu kita dan sebagainya, itupun merupakan bentuk dari kebaikan. Ketika kita memiliki hal itu, meski sedikit, kita sudah bisa melakukan sesuatu yang akan sangat bermakna bagi orang lain yang membutuhkannya, dan pada situasi demikian kita tidak seharusnya menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Jangan tunda untuk melakukan sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan, jangan mengelak, jangan mengaku tidak mampu padahal kita sebenarnya tahu bahwa kita mampu untuk melakukannya.

Seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, kita bukanlah diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Surat Paulus kepada jemaat Filipi pasal 2 mengingatkan kita akan hal ini. Firman Tuhan berkata “..hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” (Filipi 2:3b-4). Mengapa harus demikian? Karena sebagai pengikut Kristus kita seharusnya mencerminkan pribadi Kristus. Penghiburan kasih, kasih mesra dan belas kasihan, itu semua ada dalam Kristus. (ay 1). Dan sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya sepikir dan seperasaan denganNya juga. Kita melihat sendiri dalam alkitab bagaimana Yesus terus bekerja untuk melakukan kehendak Bapa tanpa menunda apapun. Jika Yesus melakukan seperti itu, mengapa kita sebagai pengikutNya justru hobi menunda-nunda untuk melakukan kebaikan?

Kerelaan memberi sebagai salah satu aspek dari perbuatan baik merupakan cerminan kedewasaan rohani kita. Orang yang imannya dewasa akan terus berusaha memberi, sebaliknya yang masih belum akan cenderung mengambil atau meminta. Alkitab mencatat perkataan Yesus seperti ini: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34). Yesus begitu mengasihi manusia sehingga Dia rela menanggung segala dosa-dosa kita untuk ditebus dengan cara yang sungguh mengenaskan. Dia bahkan memberikan nyawaNya untuk keselamatan kita. “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13) kata Yesus, dan Dia sudah membuktikan itu secara langsung dengan karya penebusanNya di atas kayu salib. Mengacu kepada firman Tuhan itu, seharusnya kita terus berusaha untuk mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang telah dilakukan Yesus untuk kita, para sahabatNya. Jika nyawa kita pun seharusnya siap untuk diberikan, mengapa kita sulit sekali untuk mengeluarkan sedikit dari tabungan kita, usaha kita, tenaga atau waktu kita untuk melakukan kebaikan bagi sesama?

Gereja mula-mula dalam Kisah Para Rasul menggambarkan semangat kebersamaan yang saling bantu. “Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama.” (Kisah Para Rasul 2:45). Mereka tidak mementingkan diri sendiri, tetapi justru dengan senang hati berbagi dengan saudara-saudaranya. Semua adalah kepunyaan bersama, itu adalah semangat luar biasa yang sudah sangat jarang kita temui sekarang. Ayat selanjutnya berkata “dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing.” (ay 45). Apa yang menjadi hasilnya? Para jemaat dikatakan “disukai semua orang”, dan Tuhan pun terus memberkati dengan menambah jumlah mereka dengan lebih banyak lagi orang yang diselamatkan. (ay 47). Kita harus berhenti bersikap kikir, berhenti untuk merasa diri selalu berkekurangan. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah bersyukur, dan mempergunakan berkat yang kita peroleh dari Tuhan untuk memberkati sesama kita.

Aspek memberi kebaikan merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan untuk kita lakukan. Begitu pentingnya hingga Tuhan berkata “sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Matius 25:40). Kita rasanya tidak akan mampu membayar kebaikan Tuhan dengan harta milik kita,berapapun besarnya, tetapi jika kita ingin membalas kebaikan Tuhan, Alkitab menganjurkan kita untuk melakukannya melalui berbuat kebaikan  kepada orang lain yang membutuhkan. Kita pun seharusnya mampu mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang dikatakan Paulus: “Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” (Kisah Para Rasul 20:35).

Tuhan begitu peduli pada kita. Dia sudah mengasihi kita dengan kasih yang begitu luar biasa besarnya. Sekarang giliran kita, apakah kita mampu menyalurkan kasih Tuhan yang ada dalam diri kita itu lewat kepedulian kita terhadap sesama? Apakah kita sudah melakukan perbuatan baik kepada mereka yang membutuhkan atau kita masih terus menunda-nunda untuk melakukannya dengan berbagai dalih? Janda miskin yang hanya memiliki harta dua peser dalam Markus 12:41-44 mungkin masuk dalam kategori tidak sanggup dalam penilaian kita, tetapi ternyata ia masih sanggup memberi dari kekurangannya. Mari periksa diri kita, adakah sesuatu yang mampu kita berikan hari ini kepada mereka yang kesulitan, mereka yang sebenarnya berhak menerimanya? Jika ada jangan tunda lagi, lakukan hari ini juga.

Don’t wait till tomorrow what you can do today

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: