Mental Juara

Ayat bacaan: Roma 8:37
===================
“Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”

mental juara

Dari semua lomba lari, bagi saya yang paling menegangkan adalah lomba lari 100 meter. Jarak seperti itu terbilang sangat pendek bagi para jago lari, sehingga perbedaan ketika finish bisa begitu tipis, hingga nol koma nol sekian detik. Ketepatan saat start, rentang kaki dalam berlari bahkan posisi tubuh akan sangat menentukan dalam mencapai kemenangan. Jika lomba lari 100 meter itu singkat, kebalikannya adalah marathon. Jarak yang ditempuh luar biasa panjangnya, mencapai 42,195 km. Waktu yang ditempuh bisa sekitar dua jam setengah bagi para pelari maraton kelas dunia, dan itu bukanlah waktu yang singkat. Bayangkan betapa melelahkannya berlari dan terus berlari selama dua hingga tiga jam untuk menempuh jarak puluhan kilometer seperti itu. Stamina jelas merupakan faktor penting disini, juga pengaturan ritme berlari dengan tidak memforsir tenaga sejak awal. Maraton pun merupakan salah satu olah raga yang sudah sangat tua umurnya. Para ahli sejarah menelusuri dan menemukan bahwa olah raga ini sudah ada sejak ratusan tahun Sebelum Masehi. Apapun bentuk lomba larinya, berapa pun pesertanya, pemenang pertama yang menyentuh garis finish hanya satu orang. Skill, stamina, daya tahan, tenaga, semua itu penting, tetapi jangan lupa bahwa seringkali mental juara punya peran yang sangat menentukan dalam menjadi pemenang.

Olahragawan tentu ingin mengukir prestasinya sebagai yang terdepan di bidangnya masing-masing. Tidak ada satupun olahragawan yang bersiap untuk kalah bukan? Semua berlomba untuk menang. Tidak hanya atlit, tetapi dalam kehidupan kita masing-masing kitapun ingin mengukir prestasi setinggi mungkin. Karir, pekerjaan, pendidikan dan sebagainya, semua itu merupakan “gelanggang-gelanggang” yang kita jalani untuk bisa mengukir prestasi. Tidak mudah memang untuk itu, karena dibutuhkan kerja keras, semangat dan ketekunan agar bisa mencapai sebuah prestasi yang membanggakan. Perjuangan untuk itu bisa jadi sangat berat. Lihatlah bagaimana para atlit menghabiskan hari-harinya. Mereka harus menata porsi makan mereka, harus bangun pagi-pagi benar dan terus berlatih. Pola dan jadwal latihan mereka mungkin sangat menjenuhkan bagi kita. Pengorbanan tenaga, waktu dan kesenangan-kesenangan pribadi pun menjadi harga yang harus dibayar untuk berhasil. Tanpa itu maka jangan harap prestasi mampu diraih.

Apakah Paulus sempat menjadi atlit, atau hobi olah raga, atau merupakan pengamat olah raga? Entahlah. Tapi yang pasti Paulus banyak mengambil perumpamaan lewat beberapa jenis olah raga. Lari merupakan satu diantaranya. Lihat apa kata Paulus berikut: “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Paulus mengingatkan hal ini karena dia tahu persis bahwa hidup ini bagaikan sebuah perlombaan. Life is indeed a race. Tidak semua orang mampu mencapai garis finish dan keluar sebagai pemenang. Seperti itulah Paulus menggambarkan kehidupan iman kita. Perjuangan yang harus dihadapi sepanjang hidup tidaklah mudah. Selalu saja ada hambatan atau halangan yang harus kita lewati, dan itu bukan hal yang sepele. Sedikit saja lengah kita bisa terjatuh dan gagal untuk mencapai garis akhir. “Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya.” Demikian kata Paulus.

Dalam menghadapi perlombaan dalam kehidupan kerohanian kita, seperti apakah hadiah yang disediakan bagi pemenang? Mari kita baca kelanjutan kata-kata Paulus diatas. “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.” (ay 25). Ada mahkota yang disediakan Tuhan buat kita. Bukan sebuah mahkota yang fana seperti segala bentuk mahkota yang bisa kita miliki di dunia ini, melainkan sebuah MAHKOTA YANG ABADI. Inilah mahkota kehidupan yang dijanjikan Tuhan kepada siapapun yang mengasihi Dia dan mampu menghadapi rintangan-rintangan hingga mencapai garis akhir sebagai pemenang. Tidak saja Paulus, tapi Yakobus pun menyatakan hal yang sama. “Berbahagialah orang yang bertahan dalam pencobaan, sebab apabila ia sudah tahan uji, ia akan menerima mahkota kehidupan yang dijanjikan Allah kepada barangsiapa yang mengasihi Dia.” (Yakobus 1:12).

Mental juara pun menjadi hal yang sangat menentukan keberhasilan kita dalam melewati segala tantangan. Betapa seringnya kita menyaksikan para atlit atau tim yang sebenarnya punya skill tinggi dan mampu bermain baik, tetapi mereka gagal karena tidak punya mental juara. Karena itu, kita pun harus terus membangun mental seperti seorang juara sedini mungkin. Bagaimana caranya? Ada ayat yang sangat baik untuk kita renungkan agar mental juara ini bisa tumbuh dalam diri kita. Sebuah ayat yang menggambarkan seperti apa hakekat kita yang sebenarnya. “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.” (Roma 8:37). Kita harus tahu dengan benar seperti apa kita telah diciptakan Tuhan dan apa makna dari pengorbanan Kristus sehingga kita bisa dilayakkan untuk memperoleh mahkota kehidupan kelak di kemudian hari. Selain itu, tujuan dan sasaran, atau arah kita harus pula jelas. Kita lihat Paulus kemudian melanjutkan suratnya dengan: “Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.” (1 Korintus 9:26). Kita harus tetap fokus kepada tujuan akhir, tidak mengumbar waktu, tenaga dan pikiran kita untuk hal-hal yang sia-sia. Fokus kita, tujuan dan arah yang ingin dicapai haruslah jelas. Mental juara jelas dibutuhkan untuk itu. Ingat bahwa ada mahkota kehidupan yang telah dipersiapkan bagi kita. Karena itu, apapun kondisi dan situasi yang sedang dan akan anda hadapi, tetaplah fokus dan teruslah berjuang, Keep running on the right track, jangan melenceng sedikitpun, dan berlombalah sebaik-baiknya. Jangan terus menerus menoleh ke belakang, melihat berbagai kegagalan di masa lalu yang akan memperlambat laju kita untuk mencapai garis finish, bahkan mungkin bisa menjadikan kita gagal. “Aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.” (Filipi 3:13-14). Perlombaan sesungguhnya sedang kita hadapi, dan tidak semua orang bisa mencapai garis kemenangan dan memperoleh mahkota abadi. Teruslah berjuang, dan jadilah pemenang.

Seperti seorang atlit, larilah dengan mental juara untuk memperoleh mahkota yang dijanjikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.