Menjangkau Semua Orang (1)

Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 28:30
==========================
“Dan Paulus tinggal dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri itu; ia menerima semua orang yang datang kepadanya.”

Ada tipe orang intim yang sangat mudah bersosialisasi dan gampang berteman. Mereka biasanya extrovert alias gampang membuka diri. Ada tipe orang yang tertutup dan pendiam, dan mereka biasanya tidak terlalu peduli untuk bersosialisasi atau berteman dengan orang-orang yang belum mereka kenal sebelumnya. Akan mudah bagi kita untuk dekat dengan orang yang bertipe intim, sebaliknya tidak mudah bagi kita membangun hubungan dengan orang yang tertutup dan pendiam. Ada orang yang mudah jadi akrab, ada yang punya sifat-sifat tertentu sehingga kita sulit dekat dengan mereka. Maka kita melihat ada orang yang nyambung, ada yang tidak nyambung. Ada yang langsung nyetel, ada yang perlu usaha keras dan ada yang rasa-rasanya sulit sekali.

Hal ini menjadi semakin menarik kalau kita hubungkan dengan sebuah tugas, atau lebih tepatnya disebut amanat yang agung yang diberikan Yesus langsung kepada kita, murid-muridNya. Lebih mudah bagi kita menjangkau orang yang bersahabat, itu jelas. Tapi akan menjadi sulit saat berhadapan dengan orang yang tertutup apalagi kalau bertipe keras, tidak ramah apalagi kasar. Apa yang ditugaskan Tuhan Yesus adalah seperti ini: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Matius 28:19-20).

Kita semua mengemban tugas untuk menyampaikan kebenaran kepada semua orang tanpa terkecuali. Tugas ini tentu saja bukan berbicara tentang berkotbah atau membacakan Alkitab tetapi secara luas berbicara mengenai hidup yang menghasilkan buah, menjadi surat Kristus, alias menyatakan pribadi Kristus lewat cara hidup kita di dunia. Berarti bukan hanya orang-orang yang ‘mudah’ saja yang harus dijangkau, tetapi orang yang ‘sulit’ yang ditempatkan disekitar kita pun harus pula mendapat perhatian serius. Ada keragaman manusia yang sangat luas di sekitar kita. Untuk bisa melakukan Amanat Agung dibutuhkan kerelaan untuk meluangkan atau mengorbankan sebagian waktu, tenaga dan lain-lain termasuk kesabaran dan keteguhan, dan pengorbanan akan semakin besar diperlukan ketika berhadapan dengan orang-orang yang sulit.

Tuhan menciptakan manusia dengan variasi yang tidak terbatas. Tidak ada yang persis sama, baik wajah, postur maupun sifat. Semua punya sesuatu yang unik dan berbeda yang membuat hidup ini penuh warna. Ada yang memandang perbedaan itu sebagai berkat Tuhan yang patut disyukuri, ada pula yang memandangnya sebagai alasan untuk menjauhkan diri, atau bahkan menjadikannya landasan untuk berbuat jahat. Ada orang yang bisa melihat perbedaan sebagai sesuatu yang bisa dijadikan kesempatan untuk belajar banyak, ada yang menyikapinya sebagai pembatas, ada yang memandang perbedaan sebagai sebuah ancaman. Jangankan dengan yang tidak seiman, dengan saudara seiman saja perbedaan masih sering disikapi secara negatif. Kalau berbeda denominasi saja masih membuat orang membangun pagar pembatas dan saling menjelekkan, bagaimana mungkin kita berani bermimpi untuk melihat Kerajaan Allah turun di muka bumi ini?

Kita memiliki tugas sendiri-sendiri. Paulus menggambarkannya seperti ini: “Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama,demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain.” (Roma 12:4-5). Jika diantara kita saja sudah saling tuding dan merendahkan, bagaimana mungkin kita bisa menunaikan tugas kita seperti Amanat Agung yang sudah dipesankan Yesus kepada setiap muridNya, termasuk kita didalamnya?

Mari kita lihat sedikit dari perjalanan Paulus. Selama bertahun-tahun setelah pertobatannya, Paulus terus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mewartakan kabar keselamatan. Perjalanan yang ia tempuh bukan pendek. Ia terus bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain bahkan hingga menyentuh Asia Kecil sebelum akhirnya ia ditangkap dan dipenjarakan di Roma. Walaupun ia banyak mendapat hambatan dalam pelayanannya, Paulus dikenal sebagai figur yang teguh dan taat dalam menjalankan tugasnya. Ia mengabdikan sisa hidupnya sepenuhnya untuk memperluas Kerajaan Allah di muka bumi ini. Paulus terus berusaha menyentuh orang dengan pemberitaan Injil karena ia peduli terhadap keselamatan orang lain, rindu agar semakin banyak orang yang mengenal dan percaya kepada Sang Juru Selamat.

(bersambung)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.