Menjaga Lidah

Ayat bacaan: Yakobus 3:5
===================
“Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.”

menjaga lidah, perdamaianMenjalankan perdamaian merupakan harapan semua orang tetapi sering sulit untuk diterapkan. Kita tidak hidup sendirian, setiap saat kita berhadapan dengan begitu banyak orang dengan tingkah, polah dan gayanya sendiri-sendiri. Gesekan bisa terjadi kapan saja dan perselisihan pun bisa timbul. Seringkali penyebabnya bukanlah masalah besar tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil atau sepele, namun kemudian meluas sehingga pada akhirnya sulit untuk dikendalikan. Lihatlah bagaimana hutan beribu-ribu hektar bisa terbakar hanya dari akibat sepercik api kecil. Ketika api masih kecil tentu mudah dipadamkan, tetapi bagaimana ketika api itu sudah begitu besar? Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bersabar dan bisa menahan diri, tidak terbujuk atau terpengaruh oleh emosi sesaat yang pada akhirnya kita sesali juga tetapi sudah terlanjur menghancurkan banyak hal. Hubungan pertemanan, hubungan dalam keluarga, dalam lingkungan, atau bahkan antar negara, semua ini sering berawal dari percikan api emosi kecil yang dibiarkan meluas hingga tidak lagi bisa dikendalikan.

Tidak ada tempat bagi kebencian apalagi dendam dalam Kekristenan. Kita selalu diminta untuk mengasihi, mengadopsi bagaimana kasih Tuhan yang tanpa batas itu untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah orang yang bersalah itu mau mengakui kesalahannya atau tidak, kita diminta untuk bisa memberi pengampunan. Firman Tuhan berkata: “Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.” (Lukas 6:37). Jika itu kita terapkan, maka kita bisa berharap untuk melihat perdamaian semakin bertumbuh di dunia ini. Tetapi perhatikanlah betapa seringnya kita memakai hukum sebab akibat sebagai alasan pembenaran atas permusuhan yang terjadi antara kita dengan orang lain. “Bukan salah saya, tapi dia yang mulai…” atau “dia jual, saya beli..” itu merupakan alasan-alasan yang umum dipakai sebagai landasan dalam sebuah perselisihan. Ada banyak yang mungkin bisa menjadi penyebab sebuah perselisihan, itu benar. Tapi firman Tuhan jelas berkata: “Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!” (Roma 12:18). Mengapa harus ada ayat ini? Karena kita seringkali lupa, bahwa keputusan untuk berdamai atau bertikai seringkali bukan tergantung dari orang, tetapi justru dari diri kita sendiri. Baiklah, mungkin memang orang lain yang memulai, tetapi bukankah keputusan untuk mengampuni atau tidak itu datangnya dari diri kita sendiri? Apa yang harus kita jaga adalah memiliki kasih dalam diri kita, dan ada elemen kecil yang seharusnya kita perhatikan namun sangat sering luput dari perhatian kita, yaitu lidah.

Alkitab mengingatkan dengan jelas mengenai potensi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh lidah yang ukurannya relatif kecil dibanding tubuh kita. Yakobus mengatakan: “Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar.” (Yakobus 3:5). Ini adalah sebuah analogi yang sungguh tepat. Seperti yang sudah saya sebutkan di atas, sepercik api itu sangatlah kecil dan sama sekali tidak kita anggap berbahaya. Tapi apa jadinya jika percikan itu mulai membakar lalu meluas hingga membumi hanguskan hutan yang besar? Itu sangatlah mungkin bahkan sudah sangat sering terjadi. Yakobus melanjutkan: Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan. (ay 6-8). Jika Yakobus menyorot tentang kebuasan lidah, yang begitu sulit dijinakkan, tak terkuasai dan penuh racun, demikianlah faktanya. Kita sudah terlalu sering melihat kehancuran hubungan antar manusia, antar suku bangsa bahkan negara yang berasal dari kebuasan lidah yang tak terkendali ini. Mau tahu bagaimana parahnya lidah ini? Bacalah ayat selanjutnya: “Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.” (ay 9-10).

Lidah hanyalah bagian kecil dari keseluruhan tubuh kita, tetapi kehancuran yang bisa ditimbulkan lidah yang tidak terkawal bisa begitu hebat. Bukan saja menghancurkan diri kita, tetapi bisa berdampak jauh lebih besar daripada itu. Masa depan orang lain bahkan kelangsungan kehidupan manusia secara luas bisa berakhir hanya karena lidah yang tidak terkendali. Sejarah mencatat banyak peristiwa yang mengubah kehidupan manusia menjadi porak poranda, dimana dibutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk bisa pulih dari kerusakan yang berawal dari lidah. Untuk itulah kita perlu menyerahkan lidah kita ke dalam tangan Tuhan, mengisi hati kita sebagai sumber kehidupan dengan firman Tuhan dan menghidupi kasih secara nyata dalam diri kita. Kemampuan manusia tidak akan sanggup menguasai lidah, tetapi kita bisa belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam mengendalikannya. Sebuah pesan yang tidak kalah penting mungkin baik pula untuk diangkat dalam menyikapi kebuasan lidah ini. “Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah” (Yakobus 1:20). Jangan terburu-buru melempar kata-kata, apalagi dalam keadaan yang gampang tersulut emosi. Jangan sampai emosi sesaat yang terlontar lewat perkataan itu menjadi sesuatu yang kita sesali kelak, yang bisa jadi sudah terlambat untuk diperbaiki. Sebuah “amarah manusia tidak mengajarkan kebenaran di hadapan Allah” (ay 20), karena dampak yang ditimbulkan bisa sangat parah dimana lidah biasanya menjadi ujung tombak dalam mewakili kemarahan ini. Disamping itu peran lidah sebagai “output” dari produk kemarahan juga menunjukkan gagalnya kasih Kristus bertahta dalam diri kita. Oleh karena itu, marilah kita waspadai dengan secermat-cermatnya segala sesuatu yang keluar dari mulut kita. Jangan sampai ada kutuk dalam bentuk apapun yang keluar dari mulut kita, jangan sampai lidah kita berlaku begitu bebas berlaku buas dan membunuh masa depan banyak orang. Pakailah lidah untuk memuji dan menyembah Tuhan, dan pakai pula untuk memberkati sesama. Di tangan manusia lidah mungkin tidak bisa dikendalikan, tetapi Tuhan bisa pakai lidah kita untuk menjadi terang dan garam bagi dunia.

Tanpa mengawal lidah, jangan bermimpi untuk melihat perdamaian secara luas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Published by Wilhelmina Sunarti

Membaca firman Allah setiap hari akan menjaga hati kita dari rasa lelah dalam memikul salib kita. Semoga tulisan para gembala yang ada pada website kami bermanfaat bagi Saudaraku semua. Salam damai dalam kasih Kristus...

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.