Menjadi Pelaku Firman (2)

(sambungan)

Pentingnya menjadi pelaku firman adalah hal mendasar yang harus selalu kita perhatikan. Adalah sangat baik jika anda sudah mulai mau menyimak kotbah di gereja secara serius dan meluangkan waktu teratur untuk membaca Firman Tuhan di dalam Alkitab, lewat membaca renungan, lewat mendengar kotbah di radio atau rekamannya. Semua itu sangatlah baik. Tetapi janganlah berhenti hanya sampai di situ saja. Langkah selanjutnya adalah mengaplikasikan ketetapan-ketetapan Tuhan yang telah kita baca atau dengar untuk teraplikasi secara nyata dalam kehidupan kita. Jika tidak, semua akan menguap sia-sia atau dikatakan sama dengan orang yang sedang menipu dirinya sendiri, yang kata Yakobus ibarat orang yang mematut diri di cermin lalu kemudian langsung lupa seperti apa rupanya tepat setelah beranjak dari cermin.

Selanjutnya mari kita perhatikan. Apakah Firman-firman itu sudah tertanam dan teraplikasi dalam hidup kita akan terpancar dari bagaimana cara kita hidup. Jika belum ada perubahan, itu artinya Firman belumlah berfungsi apa-apa dalam kehidupan kita. Adalah menarik jika kita bisa melihat keluhan Paulus tentang sulitnya untuk menaklukkan keinginan daging yang menginginkan berbagai perbuatan dosa seperti yang bisa kita baca dalam kitab Roma. Katanya: “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat.” (Roma 7:19). Apa maksudnya? Demikian penjelasan Paulus: “Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku.” (ay 22-23). Bukankah konflik batin itu sering terjadi pula dalam hidup kita? Hati mungkin sangat haus akan firman Tuhan dan rindu untuk mengalami transformasi, berubah semakin baik dan lebih baik lagi, tapi berbagai keinginan daging bisa dengan segera menghambat dan menggagalkan. Walaupun kita sangat ingin berubah, kita masih saja gagal dan kembali jatuh pada dosa yang sama.

Ingatlah bahwa kita sebenarnya sudah dimerdekakan oleh Yesus sendiri. Yesus berkata: “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32). Kemerdekaan sudah dianugerahkan kepada kita lewat mengetahui kebenaran. Akan tetapi bila kita tidak mengaplikasikan firman-firman itu secara nyata dalam setiap langkah kita, maka berbagai kedagingan kita akan siap mengembalikan kita kepada pelanggaran-pelanggaran atau kebiasaan lama kita yang buruk, kembali menempatkan kita sebagai tawanan dosa dan kehilangan kemerdekaan yang sudah dikaruniakan itu. Karena itulah kita harus selalu berjuang mengatasi keinginan daging, dan itu bisa kita lakukan lewat aplikasi secara langsung atas Firman-firman yang telah tertanam dengan lembut di hati kita di dalam apapun yang kita lakukan atau kerjakan.

Firman Allah itu sesungguhnya bukanlah hanya kumpulan huruf yang mati melainkan sesuatu yang hidup, kuat dan tajam. “Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.” (Ibrani 4:12). Firman yang kita aplikasikan itu akan sanggup memberi perbedaan nyata dan membuat kita tahu mengenai apa yang benar dan mana yang salah. Firman Allah merupakan senjata yang ampuh untuk melawan segala godaan dosa dan memampukan kita untuk menaklukkan segala pikiran kepada Kristus dan kebenaran Kerajaan yang Dia sampaikan.

Kembali kepada Yakobus, ia juga mengatakan bahwa “Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya.” (Yakobus 1:25). Tekun beribadah tapi tidak mampu menjaga lidah, itu sama artinya dengan menipu diri sendiri, dan hanyalah akan membawa kesia-siaan belaka. (ay 26). Kita tahu bahwa kita harus mengasihi dan berdampak bagi lingkungan, tapi jika hanya sebatas tahu tanpa dilakukan maka kita tidak akan menghasilkan apa-apa. Kita tahu bahwa kita harus hidup kudus, tapi jika kita terus terseret dalam kecemaran yang ditawarkan dunia, maka semua hanyalah akan sia-sia.

Maka Yakobus mengingatkan betapa pentingnya untuk meningkatkan keseriusan kita agar tampil sebagai orang-orang yang melakukan atau menerapkan Firman dalam kehidupannya alias menjadi pelaku Firman agar kita bisa terhindar dari kecemaran dunia. Dengan kata lain, ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah adalah ibadah yang menerapkan atau mengaplikasikan firman-firman Tuhan yang telah kita dengar, yang telah tertanam dalam hati kita, dalam setiap sendi kehidupan kita, menghidupi Firman-Firman itu secara nyata yang bisa membawa dampak luar biasa bagi lingkungan. Itulah yang akan memerdekakan kita dan akan mendatangkan kebahagiaan surgawi baik dalam hidup kita pribadi maupun orang-orang disekitar kita.

Be doers of the Word and not hearers only

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.