Menjadi Pelaksana Hukum Kasih


ORANG Yahudi sangat menjunjung tinggi hukum Taurat, mereka menghayatinya secara harafiah dan radikal sehingga mengabaikan faktor kemanusiaan. Yesus datang memberikan suatu cara pandang baru, bukan untuk meniadakan Hukum Taurat melainkan untuk menyempurnakannya dengan hukum kasih.


Sebagai muridNya, kita diminta untuk setia dalam menerapkan hukum kasih di sepanjang hidup kita. Ia menghendaki agar kita menghilangkan kemarahan, kebencian dan dendam; dan sebagai gantinya kita diminta untuk menebarkan kebaikan, kasih dan pengampunan kepada siapa saja ke mana pun kita melangkah.


Sadari bahwa di dalam kasih tidak ada kemunafikan, dengan demikian seluruh perbuatan kita ditujukan untuk kemuliaan Tuhan, bukan untuk memegahkan diri sendiri. Kasih sejati juga menuntut adanya pengurbanan diri sebagaimana telah diteladankan oleh Kristus sendiri. Perjuangan kita tidaklah mudah, dibutuhkan integritas, komitmen dan ketekunan untuk menjalankan sabdaNya dalam keseharian hidup kita. Mari mohon pimpinanNya agar kita dimampukan untuk menjadi pelaksana sabdaNya, bukan hanya sekedar menjadi pendengar sabda saja.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Anggota Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.