Menjadi Misonaris di Kuba yang Masih Komunis

Kuba baracca

INILAH berita  dari Tanah Misi Kuba yang masih Komunis.

Setiap  pulang dari misa pagi, ada beberapa orang yang kelihatan sangat miskin duduk di depan pastoran katedral. Baru setelah berada dua pecan lebih di Kuba, maka saya mulai bisa paham.

Sudah beberapa hari sesudah tiba di sini, demikian kata Pastor Viktor MSC yang juga dari Indonesia, kata dia: di halaman samping kanan pastoran sepertinya setiap siang orang berkumpul makan. Namun, taya tidak tanggapi; juga tidak ada minat mencari tahu lebih. Juga karena di depannya ada penunjuk alamat “funeraria la moderna.”

Baru beberapa hari kemudian saya mengerti. Saat pulang dari keuskupan untuk bisa mengakses internet, saat melewati blok-blok permukiman Guantanamo, ada kumpulan orang berduka, dan ada penunjuk alamat “funeraria la nueva.”

Maklum karena baru dari datang dari Jakarta, maka hampir setiap hari misa di rumah duka Heaven yang sangat mewah, semua pengetahuan terutama tentang kata belum nyambung. Saya tahu arti kata itu adalah rumah duka. Saya lihat di samping pastoran hanya ada halaman luas tanpa atap, memang di sepanjang tembok paling kanan ada garasi dan dapur, dan di tengah ada semacam panggung beratap – tapi tidak pernah ada mayat dan pelayat.

Funeraria la nueva amat sangat sederhana. Maka saya tanya pastor paroki katedral, Kata dia, di Kuba tidak lazim diadakan misa requiem, hanya pemberkatan jenazah.

Orang Indonesia jauh lebih mewah secara rohani ya.

Kuba dioses

11 Keuskupan di Kuba: Inilah peta geografis pemerintahan administratif gerejani di Kuba, sebuah negara komunis di Amerika Latin bagian Utara. (Ilustrasi/Ist)

Dan funeraria la moderna, justru berfungsi untuk hal lain. Ternyata, setiap hari paroki katedral memberi makan untuk orang-orang miskin di kota Guantanamo ini. Kutanya berapa biayanya, pastor paroki hanya bilang: sangat mahal.

Lalau saya Tanya dari mana dapat bahan-bahan makanan; karena i kan negara komunis, semua dijatah negara dan sangat minim. Lalu dari mana bisa dapat bahan makanan begitu banyak.

Frater Sergio, orang Guantanamo yang baru saja datang liburan mengatakan, dapatnya dari pasar gelap.
Saya langsung berpikir, mungkin nanti kalau bertugas di Jamaika, kami juga akan diminta akan menyediakan dapur umum seperti ini. Sudah tiga kali saya misa di Susteran MC pengikut Mother Theresa. Mereka sangat senang bisa misa bahasa Inggris, karena selama ini misa Spanyol.

Ada 4 suster: 1 Cili, 1 Kamerun, 2 India.

Saya tanya apakah suster kerja di luar atau punya rumah sakit, panti asuhan atau sekolah. Saya tanya begitu karena maklum saya masih berpikir seperti Idonesia. Tapi mereka bilang di sini lain sekali. Pemerintah melarang/tidak mengizinkan swasta menjalankan public service. Jadi mereka membantu pastoral paroki terutama katekese, dan lagi memberi makan orang-orang miskin/lapar.

Hal yang baru pertama ini kujumpai. Gambaran kemiskinan riil masyarakat Kuba.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.