Menjadi Misionaris di Kuba

kuba domino

KUBA bangsa yang lelah. Lelah dengan mimpi dan janji kosong revolusi. Dimana-mana terlihat jelas kelesuan dan kejenuhan, sekalipun slogan-slogan revolusi yang membakar semangat masih ada dimana-mana.

Bandingkan di Indonesia dimana-mana ada iklan dan orang sangat bebas dan terbuka. Di sini untuk belanja saja sudah stres antri menunggu toko buka, tunggu antri tanya jawab pembeli dan penjaga toko karena orang tidak bebas membeli barang.

Beberapa hari lalu saya beli barang dengan 20 dollar Kuba atau cuc (kurang lebih sama Rp200 ribu), harus menunjukkan paspor, atau kalau ditemani penduduk lokal harus tunjuk KTP lokal. Orang di sini jarang ada yang mampu beli sebanyak itu.

Dokter di Kuba semua berstatus PNS, digaji negara, hanya dapat 25 dollar sebulan. Selesai pukul 17 sore maka toko-toko pun tutup, tidak ada apa-apa lagi.

Sepi setelah pukul 17 sore

Bandingkan di Indonesia orang jalan-jalan di mal, makan di resto atau nonton film. Di sini yang ada hanya 5 saluran tv nasional, semua berisi propaganda negara komunis. Orang di sini harus jalan kaki, bersepeda.

Di sini yang dibonceng duduk di stang. Bukan seperti di tanah air duduk di belakang, naik becak, menumpang gratis atau naik kendaraan umum yang penuh sesak. Jarang ada yang punya mobil, itu pun mobil tua semua.

Kuba 3

Poster revolusi: Sebagai negara komunis, Kuba masih begitu doyan mengumbar kata-kata bernada revolusioner. (Ilustrasi/Ist)

Kuba 4

Che: Tokoh gerakan relovosioner Che masih menjadi idola di Kuba. (Ilustrasi/ist)

Kuba 8

Moda transportasi di Havana, Ibukota Kuba: Cikar dengan tenaga kuda poni masih menjadi pemandangan biasa di Ibukota Havana, Kuba. (Ilustrasi/Ist)

Kelihatan wajah-wajah lelah: lelah berjalan, lelah mengayuh sepeda, lelah mengayuh becak, lelah menanti. Lelah menanti perubahan, lelah menanti pembaruan dan kecerahan. Betapa di saat-saat ini orang Kuba membutuhkan kekuatan hidup sipritual. (Baca juga: Menjadi Misonaris di Kuba yang Masih Komunis)

Sayang sekali, selain miskin secara duniawi, mereka juga minim hidup rohani. Pendidikan agama dihapus pemerintah. Memang tidak bisa kita mengukur kadar iman seseorang dari penampakan lahiriah. Tapi secara kolektif, sangat kelihatan kehidupan iman umat sangat merana. Kering dan gersang.

Perlu kerja ekstra keras dari Gereja untuk menaburkan lagi dan lagi iman, harap dan kasih. Dengan hasil yang tidak pasti. Hanya Tuhan yang tahu kapan revolusi Kuba akan berakhir, kapan orang Kuba mengalami kelegaan dan bisa mengejar ketertinggalan dari sesama bangsa Amerika.

Kredit foto: Suasana keseharian hidup di Kuba (Ilustrasi/Ist)

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.