Mengunjungi University of Melbourne (12)

UNIMELB –demikian para alumni University of Melbourne biasa menyebut nama universitas paling bergengsi di Australia ini—adalah sebuah kawasan indah untuk berburu ilmu sekaligus menikmati panorama alam. Ini adalah kunjungan kedua kalinya bagi saya menyusuri gang-gang yang memisahkan kompleks kampus nan luas di University of Melbourne ini.

Di sini pula saya bertemu dengan beberapa teman dari Taiwan dan China  yang tengah kuliah ekonomi di Unimelb dan kemudian bersama mereka kami berfoto-foto ‘selfie’ di beberapa lokasi strategis di kampus Unimelb.

Tahun 2013 ini, Unimelb merayakan pesta ulang tahunnya yang ke-160 tahun. Sebuah pameran foto sejarah Unimelb terselenggara di Ian Potter Museum of Arts yang gedungnya didominasi dengan warna merah. Persis di depan gedung museum dimana juga ada kantor AsiaLink itulah pada tahun 2007 saya berjumpa dengan Kelly, gadis manis dari Taiwan yang belajar ekonomi dan kini menimba karir bagus di sebuah perusahaan swasta di London.

Sebuah artikel pendek dengan judul sedikit provokatif  Still the Clever Country? muncul di koran kampus dengan label Voice keluaran Unimelb. Dalam artikel tulisan Kate O’Hara ini, misalnya, disebutkan bagaimana para professor di Unimelb menaruh harapan besar agar semangat studi di kalangan mahasiswa senantiasa terjaga.

Unimelb gedung

Nomor satu di Australia

Sebuah seruan masuk akal, karena –menurut bisik-bisik tetangga—Unimelb hingga kini masih menempati urutan pertama di daftar universitas terbaik di seluruh Australia. Bahkan koran Voice dengan gagah berani pasang iklan mencolok di kolom bawah di front page koran terbitan Unimelb ini. Bunyinya:  Your Future is Waiting for You at Australia’s No. I University. 

Teman saya dari Taiwan, China dan beberapa dari Indonesia merasa bangga kalau menyebut dirinya sebagai alumni Unimelb. Selain beragamnya bidang studi mulai dari tahapan under-graduate dan post-graduate hingga doctoral, Unimelb juga menawarkan suasana belajar yang nyaman. Lorong-lorong gang yang luas disertai pepohonan besar dan taman yang tertata rapi sungguh membuat Unimelb sebagai tempat belajar yang nyaman.

Saat memasuki ruang kuliah umum yang dinamai theatre di Fakultas Ekonomi, seorang profesor pengajar di situ  dengan bangga menyebutkan, di ruangan dengan akustik yang prima ini lebih dari 500-an mahasiswa-mahasiswi bisa mendengar presentasi dosen mengurai mata kuliahnya dengan berbagai media pelengkap yang sempurna. Kala lain, tetap bersama associate professor bidang marketing research ini, kami dibawa masuk ke sebuah perpustakaan yang indah dan lengkap.University of Melbourne bendera

Lebih mirip sebuah lounge bandara yang mewah daripada sebuah perpustakaan. Di situ tersedia bangku-bangku lounge berukuran besar yang bisa membuat badan duduk atau bahkan tidur nyaman di situ. Saya menyaksikan ada mahasiswi cantik dari kawasan Asia Timur malah tertidur nyenyak di lounge itu daripada belajar menggunakan system perpustakaan yang canggih.

Kali lain ada mahasiswa –juga dari kawasan Asia Timur—tampak gigih mencermati layar flat sebuah computer untuk menemukan data. Tak seberapa lama, seorang mahasiswa dari Italia yang belajar ekonomi di Unimelb juga menampakkan antusiasmenya belajar di Unimelb yang kata dia tak kalah dengan universitas-universitas terkenal di Eropa.

Tahun 2013 ini, University of Melbourne layak berbangga hati karena  Kristijan Jovanoski –mahasiswa Unimelb untuk bidang studi neuroscience—berhasil menoreh prestasi gemilang. Ia layak pergi mendapatkan Victorian Rhodes Scholarship persembahan University of Oxford di Inggris untuk mengejar program post-graduate dan doctoral di universitas bergengsi di Inggris ini. Sekedar tahu saja, Perdana Menteri Australia Tony Abbott pun juga pernah mendapatkan hadiah scholarship bergengsi ini yang akhirnya membawa dia studi lanjut di Oxford.

Bertemu dosen dan teman lama

Lama tinggal di kawasan Brunswick, teman saya hanya butuh beberapa menit saja naik trem menuju Unimelb. Selama bejalar ekonomi marketing di Unimelb, dia banyak berkonsultasi dengan seorang associate professor bidang marketing research di perguruan tinggi ini.

Lebih dari sekedar dosen dan pembimbing mata kuliah marketing research, dosen perempuan ini juga enak menjadi teman. Hampir 6 tahun sejak pertemuan kami pertama di Gilbert’s Building, associate professor perempuan ini tetaplah seorang dosen yang sangat ramah dan hangat. Sebelum kami masuk ke ruang kerja pribadinya, dia sudah dulu berdiri menyambut kedatangan kami di lorong gang masuk yang hanya bisa diakses melalui kartu khusus.

Unimelb welcome

Gedung baru untuk kantor para dosen, professor ekonomi ini dinamai The Spots lantaran kaca-kaca gedungnya berhiaskan titik-titik besar di sepanjang permukaan kaca.

Meski siang itu Melbourne dihajar hujan sedikit deras, namun associate professor perempuan ini seperti tak lekang oleh hambatan cuaca. Layaknya Melburnians –sebutan akrab untuk menyebut warga Melbourne—dia punya gaya jalan kaki sangat cepat. Kaki pendek orang Indonesia selalu ketinggalan kalau harus bersigap mengikuti irama ritme jalan kakinya yang serba cepat. Padahal, dia memakai high heels.

Pertemuan kami berakhir di sebuah café Italiano tak jauh dari kampus untuk makan siang bersama. Lalu kami berpisah mesra di depan kantornya, setelah beberapa lama diajak diskusi tentang peluang belajar lagi mengikuti program doctoral di Unimelb. Dia belajar di MonashUniversity dan mendapatkan gelar doktornya di bidang marketing research di universitas yang sama. “Kala itu, studi bidang ini masih belum eksis di Unimelb,” kata Lilian, nama kecil associate professor yang sangat ramah dan hangat ini.

Meski besar dan lulus dari Monash Univesity, namun Lilian bangga menjadi bagian tak terpisahkan dari University of Melbourne sekarang dan secara moral juga berkewajiban “membesarkan” nama besar Unimelb ini.

Photo credit: The Univeristy of Melbourne (Mathias Hariyadi)Unimelb papan

Tautan:  

 

 

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.