Menguji Kemurnian Iman

Ayat bacaan: 1 Petrus 1:7
===============
“Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.”

Kemarin kita sudah melihat bagaimana proses pemurnian perak yang diambil Daud sebagai contoh dari kemurnian sempurna janji Tuhan. Hari ini mari kita bicara mengenai pemurnian logam mulia lainnya, yaitu emas. Kebanyakan orang mengenal emas sebagai benda yang diukir indah sebagai perhiasan. Bentuknya padat dan keras. Padahal emas yang murni sebenarnya lembut dan lentur, kuning berkilat sehingga mudah ditempa. Cara pemurnian emas ditempuh lewat proses pembakaran bersuhu tinggi. Emas dibakar dengan suhu yang sangat tinggi sampai cair. Setelah mencair, kotoran-kotoran yang melekat pada emas seperti karat, debu dan/atau logam-logam lain bisa dipisahkan dan disingkirkan dengan mudah. Lalu suhu dinaikkan lagi dan kotoran yang masih tertinggal akan naik ke permukaan sehingga bisa dibuang. Proses ini terus dilakukan berulang-ulang sampai pada akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, bebas dari segala kotoran dan unsur logam lainnya yang tadinya melekat disana. Seorang yang berpengalaman sebagai pemurni emas bisa melihat mana emas murni dan tidak lewat proses pembakaran. Emas murni bernilai tinggi dan tidak mudah didapat dipasaran. Tapi untuk bisa menjadi murni, emas harus melewati proses pembakaran bersuhu tinggi berulang-ulang. Saya membayangkan seandainya emas itu hidup dan bisa bicara, tentu emas akan berteriak-teriak kesakitan penuh penderitaan karena harus tersiksa dalam proses pemurniannya. Tapi pada akhirnya kita bisa melihat perbedaan kualitas yang nyata di antara yang murni dan yang tidak.

Ada banyak orang yang berpikir bahwa ketika bertobat, seketika itu pula hidup menjadi jauh lebih mudah, tanpa masalah sama sekali. Padahal dari apa yang saya alami dan banyak orang lainnya yang pernah berbagi pengalaman, yang terjadi tidaklah seperti itu. Yang terjadi justru tempaan berat yang makan waktu bisa jadi lama, bahkan mungkin menghempaskan kita terlebih dahulu pada titik terendah. Sakit, perih, menderita. Saya mengalami persis seperti itu selama tidak kurang 5 tahun. Waktu mengalaminya sama sekali jauh dari enak. Tapi pada akhirnya, saya bisa merasakan perbedaan jauh dari proses pemurnian itu. Apa yang saya pikir bisa saya andalkan sebelum bertobat seperti uang, koneksi kepada orang-orang tertentu, kehebatan diri sendiri yang mengarah kepada kesombongan dan lain-lain dibakar habis hingga tuntas. Segala perilaku buruk/jahat yang dahulu biasa saya lakukan pun dikikis sampai bersih. Anda bisa bayangkan jika hal-hal buruk itu seperti melekat pada diri anda seperti halnya kotoran yang melekat pada emas, tentu proses pembakaran atau pengikisan itu bisa terasa sangat menyakitkan. Tetapi sekarang saya bersyukur bahwa saya pernah diberi kesempatan untuk melewati proses itu. Saya tidak bisa membayangkan apabila tidak melalui itu. Entah seperti apa jadinya saya hari ini. Saya masih jauh dari sempurna, tetapi dasar pijakan yang baik untuk bertumbuh saya peroleh justru dari saat-saat berat itu. I finally found the light, I no longer live in darkness. Instead, I can move forward towards a better future, tepat seperti yang dijanjikan Tuhan. Tugas saya adalah terus lebih dalam lagi bersama Tuhan, mengenal, merenungkan dan melakukan FirmanNya, menjaga agar saya tidak terjatuh kepada hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan dalam sisa perjalanan yang masih harus saya lalui. Tanpa proses itu niscaya hidup saya masih berada dalam kegelapan seperti dahulu dan terus mengarah ke dalam jurang kematian yang kekal.

Ketika Tuhan mengijinkan kita masuk dalam proses lewat serangkaian ujian yang mungkin sangat menyakitkan, itu bukan ditujukan untuk menyiksa kita melainkan bertujuan untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya emas diproses hingga menjadi emas murni, iman kita pun terkadang harus terlebih dahulu melalui proses pemurnian yang bisa jadi sakitnya bagai dibakar api dalam suhu tinggi. Disamping itu, seperti halnya pengujian kemurnian emas, iman kita pun akan kelihatan kemurniannya lewat reaksi kita ketika menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup. Itu bisa dijadikan sebuah tolok ukur sampai dimana tingkat keimanan kita saat ini. Sebab, bagaimana mungkin kita mengaku beriman jika menghadapi masalah kecil saja sudah bersungut-sungut, atau merasa ragu, bimbang, kuatir, cemas atau cepat mengibarkan bendera putih alias menyerah? Bagaimana bisa kita mengaku percaya kalau kita masih hidup penuh ketakutan dan keputus-asaan? Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya penuh pada rancangan Tuhan beserta penyertaanNya dalam setiap aspek kehidupannya.

Sebagai contoh, mari kita lihat kehidupan orang Kristen mula-mula pada jaman Petrus. Kalau hari ini menjadi pengikut Kristus itu tidak mudah, dahulu bisa jadi jauh lebih parah. Ada banyak tekanan dan ancaman yang sewaktu-waktu bisa menghilangkan nyawa mereka. Sehubungan dengan hal itu, Petrus merasa perlu untuk mengingatkan akan manfaat yang bisa mereka peroleh dari tekanan atau peneritaan yang mereka sama-sama alami, supaya orang-orang percaya dapat menangkap esensinya.

Petrus memulainya dengan ayat yang mengingatkan esensi hidup dalam Kristus. “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.” (1 Petrus 1:3-4). Sebuah hidup yang penuh dengan pengharapan dimana kita bisa menerima keselamatan kekal, itu disediakan lewat Yesus Kristus. Petrus mengingatkan agar jemaat tetap kuat, tidak kehilangan sukacita ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan.” (ay 6). Apa maksudnya? Petrus berkata: “Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu–yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api–sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.” (ay 7). Perhatikanlah bagaimana Petrus membandingkan proses pemurnian iman dengan proses pemurnian emas. Seperti yang saya sampaikan pada ilustrasi di awal renungan, emas harus dibakar berkali-kali hingga akhirnya menjadi emas murni yang berharga. Jika emas bisa bernilai tinggi setelah dimurnikan, bayangkan betapa tinggi nilainya jika iman kita yang dimurnikan. Iman jelas jauh lebih berharga dari emas, karena emas adalah benda fana, yang tidak kekal sementara iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang kekal sifatnya. (ay 9). Ayub yang pernah mengalami serangkaian penderitaan yang mengerikan pada akhirnya menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian. “Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.” (Ayub 23:10).

Kembali kepada pesan Petrus, pesan itu menguatkan jemaat yang hidup di masa berat waktu itu agar tidak goyah ketika menghadapi penderitaan sangat. Pesan tersebut masih sangat relevan buat kita hari ini. Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan dan ketidak adilan bahkan tindak kekerasan yang kerap kita hadapi sebagai pengikut Kristus. Kalau itu saja sudah berat, bagaimana dengan berbagai bentuk godaan dari berbagai arah yang setiap saat bisa meluluh-lantakkan iman kita? Kalau dipikir-pikir, setiap hari sesungguhnya kita berhadapan dengan berbagai ujian yang sangat tepat untuk dijadikan tolok ukur kemurnian iman kita. Bagaimana sikap dan reaksi kita menghadapi permasalahan akan menjadi ukuran sampai dimana iman kita akan Tuhan saat ini.

Pencobaan yang sedang kita alami bisa sangat menyakitkan bahkan membuat kita menderita. Tapi percayalah, itu sanggup membangkitkan pengharapan dan ketekunan kita serta melatih iman kita agar lebih kuat. Proses “pembakaran” iman kita akan mampu melepaskan segala kotoran yang melekat pada iman kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni, seperti emas murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Kita dipersiapkan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi kita semua. Tentu kita perlu memeriksa terlebih dahulu apakah kita memang tengah menghadapi pencobaan atau mengalami masalah karena kesalahan kita sendiri melanggar ketetapan Tuhan. Tapi jika anda sudah serius untuk hidup benar tapi masih berada dalam banyak pergumulan, bertahanlah, bahkan bersyukurlah, sebab itu bertujuan untuk memurnikan. Pada saatnya nanti, anda akan sangat berterimakasih dengan penuh sukacita kepada Tuhan karena sudah diijinkan menempuh proses pemurnian yang tidak saja berguna bagi hidup saat ini tapi juga bagi kehidupan kekal di depan sana.

Iman teruji mampu menghasilkan iman semurni emas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.