Menghindari Pertengkaran (4) : Lambat Marah

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
=========================
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah

lambat marah, menghindari pertengkaran

Emosi negatif bukan saja menyebalkan bagi orang yang melihat, tetapi bisa sangat membahayakan tubuh kita. Pada sebuah buku disebukan bahwa aamrah selain meningkatkan tekanan darah juga mampu memicu berkurangnya asupan darah ke otot jantung dalam aktivitas sehari-hari. Tidaklah mengherankan jika ada banyak penyakit yang bercokol dalam tubuh kita ketika kita memanjakan amarah dan membiarkannya menguasai diri kita. Ada begitu banyak hal yang bisa mendatangkan emosi setiap hari. Kemacetan jalan raya, cuaca buruk, tetangga yang sulit, teman sekerja, pimpinan, guru atau orang-orang yang suka mencari masalah atau tidak peka terhadap perasaan orang lain. Hidup yang kita jalani tidak akan pernah selalu mulus, dan setiap saat kita bisa berhadapan dengan situasi, kondisi atau orang-orang yang bisa mendatangkan emosi. Tapi meski demikian, adalah sebuah pilihan apakah kita mau mengontrol amarah atau membiarkan diri kita dikuasai olehnya.

Melanjutkan pembahasan kita beberapa hari sebelumnya mengenai tips Yakobus untuk menghindari perselisihan, selain kita harus cepat mendengar dan lambat berkata-kata, kita pun diingatkan agar lambat untuk marah. (Yakobus 1:19). Seorang ahli psikologi bernama Charles Spielberger,PhD menjelaskan apa yang dimaksud dengan “kemarahan”. “Anger is an emotional state that varies in intensity from mild irritation to intense fury and rage.” Terjemahannya: Kemarahan adalah sebuah tingkat emosional dengan intensitas tertentu antara hanya merasa terganggu hingga tingkat tinggi seperti mengamuk atau murka. Seperti jenis perasaan lainnya, kemarahan juga akan diikuti oleh perubahan psikologis dan biologis. Detak jantung menjadi cepat, tekanan darah meninggi, beberapa hormon pun mengalami peningkatan level. Tidak heran faktor kemarahan yang tidak terkendali bisa merugikan orang lain, menimbulkan kekerasan yang tidak hanya merugikan orang lain tapi juga diri sendiri. Selain itu kemarahan tak terkontrol juga bisa menimbulkan berbagai penyakit pada kita sendiri dimana sebagian besar diantaranya berpotensi untuk menutup kelanjutan usia kita.

Marah memang merupakan bagian jiwa manusia, sehingga rasanya tidak akan ada orang yang sama sekali tidak pernah marah. Jika pada kondisi tertentu kita marah itu tentu wajar. Dan terkadang dalam situasi tertentu, kita memang perlu marah. Tetapi kita diingatkan utnuk menghindari marah secara berlebihan, berkepanjangan hingga lambat laun menjadi tidak terkendali. Kita pun tidak boleh menjadikan amarah sebagai sebuah kebiasaan yang akan segera muncul begitu kita berada pada kondisi tidak nyaman/tidak sesuai dengan keinginan kita, apalagi memakainya hanya untuk menunjukkan tingginya kekuasaan kita atau hanya untuk menunjukkan wibawa. Kita perlu berhati-hati ketika amarah mulai terasa, karena pada saat itu ada banyak dosa sedang mengintip peluang untuk masuk dan memporakporandakan kita.

Lewat Daud kita bisa belajar bagaimana cara bersikap ketika sedang marah. “Biarlah kamu marah, tetapi jangan berbuat dosa; berkata-katalah dalam hatimu di tempat tidurmu, tetapi tetaplah diam.” (Mazmur 4:5). Ini tips yang sangat menarik. Marah boleh-boleh saja, tapi ingatlah bahwa dalam amarah kita jangan sampai berbuat dosa. Kemarahan bisa menjadi sebuah sarana iblis untuk menghancurkan kita. Maka berhati-hatilah ketika kita sedang marah. Lalu Paulus mengajarkan hal yang sama dengan kalimat yang berbeda. “Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis.” (Efesus 4:26-27). Jangan sampai marah kita berlarut-larut dalam waktu terlalu lama, karena itu bisa dimanfaatkan iblis untuk melakukan sesuatu yang buruk pada kita. Yakobus mengingatkan agar kita “lambat untuk marah”, dan ia punya alasan akan hal ini. Apakah itu? Perhatikan ayat selanjutnya: “sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” (ay 20). Orang yang sedang dilanda kemarahan meluap-luap tidak akan dapat melakukan hal yang baik, yang berkenan di hadapan Allah. Tidak ada kebenaran dibalik sebuah kemarahan, dan itu pun merugikan kita.

Janganlah terburu-buru untuk marah, jangan biasakan memupuk emosi, karena kemarahan yang terlalu sering dan tidak terkendali akan merusak hidup kita, menghancurkan masa depan kita juga secara luas merugikan orang lain. Jangan terburu nafsu untuk marah ketika anda tidak sependapat dengan orang lain atau ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan keinginan anda. Kita sudah melihat di televisi atau media-media lainnya bagaimana orang yang dikuasai kemarahan terlihat sangat buruk dan mengerikan. Air wajah yang sadis dan kejam itu sama sekali tidak menarik siapapun. Apalagi ketika mereka mengamuk dan merusak, menganiaya atau bahkan membunuh dengan mengatasnamakan Tuhan, selain itu mengekspos kebodohan diri sendiri tapi juga mempermalukan keyakinan mereka sendiri. Ini pun berlaku bagi kita. Memupuk amarah bisa membuat kita justru menjadi batu sandungan bagi orang untuk mengenal pribadi Kristus yang sebenarnya. Jika anda orang percaya yang termasuk mudah terpancing emosi, berhentilah segera. Yakobus 1:19 memberikan sebuah tips yang sangat luar biasa untuk mencegah kita dari melakukan kebodohan yang merugikan, merusak atau menghancurkan diri kita sendiri dan orang lain. Disamping itu juga merupakan tips penting agar kita tidak mempermalukan diri sendiri. Marah memang wajar pada waktu-waktu tertentu, tetapi sebenarnya sangatlah sulit untuk marah tanpa berbuat dosa. Maka dari itu adalah sangat baik jika kita lambat untuk marah dan sedapat mungkin menenangkan diri kita secepatnya sebelum emosi kita meluap naik dan pada suatu ketika tidak lagi bisa kita kendalikan. Ketika menghadapi suatu kondisi yang tidak sesuai dengan pendapat atau pikiran anda, biasakan diri anda untuk mendengar sesuatu secara lengkap terlebih dahulu (cepat mendengar), jangan terlalu cepat menghakimi, menuduh dan menyimpulkan sesuatu (lambat berkata-kata) dan jangan terburu nafsu untuk meluapkan kemarahan. (lambat untuk marah). Berselisih itu wajar, bertengkar itu biasa, tapi pakailah tips ini agar akibatnya jangan sampai menimbulkan dosa dan membuka pintu masuk bagi iblis untuk menghancurkan kita.

Kendalikan amarah sebelum amarah mengendalikan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.