Menghindari Pertengkaran (3) : Lambat Berkata-Kata

Ayat bacaan: Yakobus 1:19
====================
“Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah”

menghindari pertengkaran, lambat berkata-kata

Berapa jumlah kata yang bisa diucapkan orang dalam semenit? Sebuah penelitian menyebutkan bahwa orang rata-rata mampu berbicara sebanyak 150 an kata per menit. Itu rata-rata, karena saya mengenal beberapa teman yang bisa berbicara dengan super cepat. Presenter radio atau televisi saat ini dituntut untuk mampu berbicara cepat dengan lafal yang jelas ditangkap telinga. Jika talenta ini dipakai untuk hal yang bermanfaat tentu baik. Tapi alangkah memprihatinkan apabila kita terbiasa cepat berkata-kata ketika kita tidak setuju dengan sesuatu sebelum terlebih dahulu mendengar atau membaca dengan teliti. Apalagi jika yang keluar adalah tuduhan, cacian, hinaan, hujatan bahkan kutuk. Hal itu akan berbahaya. Mengapa? Karena ada kuasa dibalik perkataan yang keluar dari bibir dan lidah kita.

Kemarin kita sudah melihat pentingnya cepat untuk mendengar sebagai poin satu dari tips yang diberikan Yakobus untuk menghindari pertengkaran dalam Yakobus 1:19.  Hari ini mari kita lihat hubungannya dengan mengeluarkan perkataan. Cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata. Kita perlu berhati-hati dengan segala perkataan yang kita ucapkan. Selain alasan mendasar di atas yaitu ada kuasa dibalik kata yang keluar dari mulut kita, terlalu banyak omong juga akan membuka kelemahan kita atau malah menunjukkan kebodohan kita sehingga bisa mempermalukan diri sendiri. Salah satu dosen saya dahulu pernah mengatakan sesuatu yang masih saya ingat sampai sekarang. Kira-kira begini katanya: “kita bisa mengukur seseorang dari apa yang mereka ucapkan..” Artinya, suka atau tidak, akan ada orang-orang yang mempelajari siapa diri kita, atau titik lemah kita ketika kita tidak menjaga perkataan kita. Terdidik atau tidak, sopan atau tidak, atau bahkan beradab atau tidak, itu bisa terlihat dari cara kita berbicara. Tingkat intelektual pun ternyata sedikit banyak bisa tergambar dari apa yang kita ucapkan. Seringkali orang yang dikuasai emosi akan mempermalukan diri mereka sendiri dengan mengumbar kata-kata menyerang yang provokatif tanpa mempelajari sesuatu terlebih dahulu dengan cukup. Protes tak berdasar, menyerang orang lain hanya didasarkan pendapat pribadi, atau langsung menghina tanpa mengetahui dengan jelas selain tidak baik tapi juga bisa membuat orang anti-pati. Maka tepatlah apa yang tertulis pada Amsal berikut ini: “Orang bebal tidak suka kepada pengertian, hanya suka membeberkan isi hatinya.” (Amsal 18:2), atau ini: “Jikalau seseorang memberi jawab sebelum mendengar, itulah kebodohan dan kecelaannya.” (ay 13).

Yesus sendiri mengajarkan sesuatu yang sangat menarik perihal perkataan. Yesus berkata: “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.” (Matius 12:34b). Lalu dilanjutkan dengan: “Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (ay 35). Yesus pun menegaskan bahayanya memiliki mulut yang tidak terkontrol. “Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman.”(ay 36) dan: “Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum.” (ay 37).

Perselisihan yang besar bisa dihindarkan dengan tips Yakobus. Cepatlah mendengar, tapi lambatlah berkata-kata. Jangan terburu-buru mengeluarkan kata-kata sebelum segala sesuatunya jelas betul. Dengarkanlah terlebih dahulu agar kita dapat mengerti. Orang yang sebelum mendengar sudah langsung berbicara sesungguhnya tengah mempermalukan diri mereka sendiri. Bukan orang yang dimarahi atau diserang yang malu, tapi yang belum apa-apa sudah marah dan mengeluarkan hinaan, merekalah sebenarnya yang memalukan. Amsal menuliskan, bahkan orang bodoh sekalipun bisa disangka bijak jika ia berdiam diri. “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” (Amsal 17:27-28).

Selanjutnya Yakobus juga mengatakan bahwa sekecil-kecilnya lidah dibanding anggota tubuh lainnya, lidah sesungguhnya dapat menimbulkan banyak perkara-perkara besar. Seperti halnya api, meski kecil, tapi dapat membakar hutan yang lebat, (Yakobus 3:5). “Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.” (ay 6). Semua ini menunjukkan begitu pentingnya untuk menjaga perkataan kita.

Hindarilah pertengkaran dengan tidak cepat mengeluarkan perkataan sebelum terlebih dahulu mendengar dengan baik dan cermat. Selain dapat mempermalukan diri kita sendiri, lidah yang tak terjaga juga dapat membakar habis sebuah hubungan dan menghancurkan seluruh hidup kita. Jika anda tidak sependapat dengan orang lain, ketika apa yang terjadi tidak sesuai dengan pendapat anda, ambillah sikap tenang. Dengarlah terlebih dahulu, cepatlah mendengar, tapi lambatlah berkata-kata. Hal itu akan menjauhkan kita dari berbagai sikap tercela dan akan menunjukkan kebijakan atau kearifan diri kita.

Terlalu cepat berbicara sebelum mendengar terlebih dahulu artinya mempermalukan diri sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Artikel lain yang banyak dibaca:

Loading...

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: