Menghayati Doa Pusaka dari Yesus: Bapa Kami

Kamis 19 Juni 2014
Hari Biasa Pekan XI
Sirakh 48:1-14; Mzm 97:1-2.3-6.7; Matius 6:7-15

“Dalam doamu itu janganlah kamu bertele-tele seperti kebiasaan orang yang tidak mengenal Allah. Mereka menyangka bahwa karena banyaknya kata-kata doanya akan dikabulkan.” (Matius 6:7)

YESUS mengajarkan kepada para murid-Nya dan juga kepada kita yang membaca sabda-Nya, cara berdoa yang baik dan benar.

  • Pertama, doa tidak perlu bertele-tele dan banyak kata-kata. Terkabulnya doa tidak ditentukan oleh banyaknya kata-kata.
  • Kedua, doa yang benar ditandai oleh sikap percaya penuh kepada Bapa. Bapa sudah tahu yang kita perlukan, bahkan sebelum kita meminta kepada-Nya.
  • Ketiga, Yesus memberikan doa pusaka yang luar biasa. Itulah yang kita kenal sebagai “Doa Bapa Kami”. Doa itu adalah doa kita anak-anak Bapa. Pola doa diawali dengan pujian syukur memuliakan Bapa. “Bapa kami yang ada di sorga, dikuduskanlah (= dimuliakanlah) nama-Mu.” (ay 9). Di sini kita menemukan sikap terpenting dalam berdoa yakni mengarahkan hati, jiwa, dan hidup hanya kepada Allah Bapa.

Setelah kita memuliakan Bapa, barulah kita memohon. Apa yang kita mohon?

  • Pertama, kita mohon kehadiran-Nya agar merajai hidup kita. Artinya, kita mohon agar Allah memimpin hidup kita. Maka kita berseru, “Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (ay 10).
  • Kedua, setelah itu, barulah kita memohon kebutuhan kita sehari-hari. “Berilah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya” (ay 11). Kita tidak memohon makanan berlimpah nan “turah-turah”, melainkan secukupnya untuk hari ini saja. Berilah kami rejeki pada hari ini, bukan untuk besok atau lusa, atau untuk tujuh turunan! Itu berarti, doa ini harus kita didaraskan setiap hari dengan penuh iman.
  • Ketiga, kita diajak untuk sadar bahwa kita ini orang lemah, rapuh, ringkih dan berdosa. Maka, perlu dan pentinglah kita berseru, “ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami” (ay 12). Kita tidak hanya memohon ampun atas dosa-dosa kita, tetapi kita juga mau mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita.

Akhirnya, kita memohon kepada Bapa agar kita tidak jatuh ke dalam pencobaan dan terbebas dari segala kejahatan. Maka kita diajak untuk selalu berseru, “Janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari pada yang jahat” (ay 13).

Kita percaya sepenuhnya kepada Bapa yang memiliki Kerajaan Surga dan kemuliaan selama-lamanya. Alangkah indahnya doa ini bila kita mendaraskan dengan penuh iman, harapan dan kasih kepada Bapa. Kita sebagai anak-anak-Nya yang menyerukan doa ini sebagai doa pusaka yang diajarkan dan diwariskan Yesus kepada kita.

Adorasi Ekaristi Abadi adalah sebentuk doa yang tak bertele-tele, tanpa banyak kata-kata.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita masuk dalam keheningan yang suci di hadirat Sakramen Mahakudus. Dalam keheningan yang suci itu, kita berserah kepada Bapa. Maka, sangat indahlah saat dalam keheningan suci dan dengan hati yang penuh sembah sujud di hadirat Tuhan, kita boleh mendaraskan Doa Bapa Kami ini! Daya kekuatan doa ini amat luar biasa berdaya guna bagi hidup kita tak hanya pribadi melainkan bersama sesama dan semesta.

Bapa kami yang ada di surga, dimuliakanlah nama-Mu, datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam surga. Berilah kami rejeki pada hari ini, dan ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami. Janganlah masukkan kami ke dalam pencobaan, tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Sebab Engkaulah Raja, yang mulia dan berkuasa, untuk selama-lamanya. Amin.

Photo credit: Catholic for Educators

Tautan: Doa Bapa Kami

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.