Menghadirkan Kerajaan Allah


PERUMPAMAAN tentang biji sesawi menggambarkan hal kecil yang bekerja secara tersembunyi dan menghasilkan sesuatu yang besar. Sedangkan perumpamaan tentang ragi menggambarkan jumlah yang kecil tapi membawa pengaruh yang besar bagi sekitarnya.


Kedua perumpamaan tersebut mengajak kita untuk setia bekerja menebarkan kasih dan kebaikan kepada sesama. Tidak harus berupa tindakan yang menakjubkan, namun cukup dimulai dengan hal-hal kecil seperti kejujuran di tempat kerja, bersikap ramah dan suka menolong, pemaaf bukan pendendam. Namun tentunya tindakan tersebut harus dilakukan dengan penuh ketekunan, kesabaran dan ketulusan.


Memang tidak mudah karena di dunia modern ini, di mana semuanya disajikan secara cepat dan instan, membuat orang-orang hanya berorientasi kepada hasil saja, bukan kepada prosesnya. Budaya instan secara perlahan-lahan membentuk karakter yang kurang menghargai faktor ketekunan dan kesabaran, lebih mengutamakan kepentingan diri sendiri daripada orang lain.


Oleh sebab itu, marilah kita selalu bersandar kepadaNya supaya hidup kita menjadi seperti biji sesawi dan ragi yang berdampak positif bagi orang di sekitar kita. Semoga dengan campur tanganNya, kesaksian hidup kita menghasilkan transformasi bagi orang-orang yang kita jumpai. Dengan demikian kita ikut serta menghadirkan kerajaan Allah di tengah dunia ini menciptakan kerukunan, perdamaian dan persaudaraan sejati.


Kredit foto: Ilustrasi (Ist)


Insinyur elektro alumnus ITB dan umat Paroki St. Yakobus, Kelapa Gading, Jakarta Utara; bergiat ‘merangkai’ kata-kata renungan yang menjadi ‘kata hati’ untuk satu hari (thoughts of the day); Anggota Komunitas Meditasi Katolik Ancilla Domini St. Yakobus.

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.