Mengetahui Potensi Diri

 Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 3:6
=======================
“Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!”

mengetahui potensi diri

Sudah menjadi sifat manusia untuk selalu melihat apa yang tidak dipunyai ketimbang memperhatikan betul-betul apa yang ada pada mereka untuk diolah semaksimal mungkin. Manusia cenderung sulit merasa puas dan terus saja menginginkan lebih dan lebih lagi. Ada peribahasa mengatakan “rumput tetangga lebih hijau lebih hijau dari rumput sendiri” yang menggamarkan sifat manusia yang selalu merasa kurang, tidak pernah puas. Banyak orang yang terus mencari dan mencari tanpa pernah mengetahui apa sebenarnya potensi yang mereka miliki. Jika tidak hati-hati kita bisa terjebak pada rasa iri hati, dan Alkitab berkata “Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat.” (Yakobus 3:16). Kejahatan-kejahatan dan dosa mengintip siap memangsa disana. Jika untuk hidup sendiri saja kita sudah sulit merasa puas dan tidak mengetahui potensi kita sama sekali, apalagi dalam hal melayani atau menolong orang lain. Betapa seringnya kita merasa tidak mampu atau belum cukup mampu, dan jika itu dipelihara kita tidak akan pernah merasa mampu karena akan terus melirik apa yang dimiliki oleh orang lain. Mengetahui potensi diri sungguh penting baik untuk kemajuan diri kita sendiri maupun dalam mengulurkan tangan membantu orang lain.

Kita bisa belajar mengenai hal ini dari kitab Kisah Para Rasul pasal 3:1-10. Disana dikisahkan mengenai Petrus menyembuhkan orang lumpuh tepat didepan pintu masuk Bait Allah. Pada saat itu Petrus dan Yohanes tengah menuju ke Bait allah menjelang waktu berdoa. Di luar Bait Allah ada seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahir. Ia selalu diletakkan disana untuk mengemis kepada orang-orang yang hendak masuk ke Bait Allah. Melihat Petrus dan Yohanes, ia pun seperti biasa meminta sedekah. Apa yang ia minta adalah sedekah seperti halnya pengemis yang kita temui setiap hari dijalan-jalan. Menariknya, Petrus menanggapi si pengemis lumpuh dengan sesuatu yang berbeda. “Tetapi Petrus berkata: “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kisah Para Rasul 3:6). Langsung pada saat itu juga orang lumpuh itu diangkat naik oleh Petrus dan mukjizat terjadi. “Seketika itu juga kuatlah kaki dan mata kaki orang itu.” (ay 7b). Betapa senangnya hati orang lumpuh itu. Ia pun segera menikmati sesuatu yang sudah lama ia rindukan. Ia terus berjalan kesana kemari, melompat-lompat, bahkan ikut masuk ke dalam Bait Allah sambil terus memuji Tuhan. Dan hal itu pun menjadi kesaksian bagi semua orang yang melihat kejadian pada saat itu. (ay 9-10).

Ada banyak hal yang bisa kita ambil dari kisah ini. Tapi hari ini mari kita melihatnya dari salah satu sisi mengenai pengenalan akan apa yang kita miliki. Lihatlah jawaban Petrus. “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu..” Petrus tahu pasti apa yang ia miliki, dan ia tidak perlu mengeluh terhadap apa yang tidak ia punyai. Ia memakai apa yang ada padanya untuk memberkati orang lain, dan itu jauh lebih indah daripada sekedar harta seperti yang diminta orang lumpuh tersebut. Bukan hanya sekedar uang sedekah, tetapi mukjizat kesembuhan hadir dari apa yang dimiliki Petrus, yaitu iman akan Kristus yang memiliki kuasa untuk melakukan hal-hal yang mustahil sekalipun di mata manusia. Perikop ini berbicara tentang tiga hal penting yang saling berhubungan:
1. Kepekaan terhadap sesama
2. Pengenalan apa yang ada dan tidak ada pada kita
3. Mempergunakan apa yang ada pada kita untuk memberkati sesama
Petrus peduli terhadap penderitaan si orang yang sudah lumpuh sejak lahir. Orang lumpuh itu merasa hanya bisa bertahan hidup mengharapkan sedekah dari orang lain, tetapi Petrus mengalirkan kasih Tuhan kepadanya dengan memberi mukjizat kesembuhan. Tidak memiliki harta, emas dan perak bukanlah kendala sama sekali buat Petrus. Ia tidak memakai itu untuk menjadi alasan tidak sanggup membantu orang lain. Ia peka terhadap penderitaan orang lain, ia mengetahui betul apa yang ada padanya, dan ia pergunakan itu untuk memberkati orang lain dan pada saat yang sama membawa kemuliaan bagi Tuhan.

Kemarin kita sudah melihat bagaimana Tabita alias Dorkas melakukan hal yang sama, yaitu mempergunakan kemampuan dan talenta yang ada pada dirinya untuk berbuat baik menolong orang lain. (Kisah Para Rasul 9: 36-43). Hari ini kita melihat sikap yang sama dari Petrus dan Yohanes. Dalam berbuat baik kita tidak perlu berfokus pada apa yang tidak kita miliki yang bisa menghambat kita untuk melakukan sesuatu bagi mereka. Kesalahan fokus pandangan ini akan membuat kita tidak menyadari apa yang ada pada kita dan karenanya kehilangan kesempatan untuk menolong orang lain. Dan Firman Tuhan tegas berkata: “Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.” (Yakobus 4:17). Karenanya sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui potensi diri kita, apa yang kita punya dan memakainya untuk memberkati orang lain.

Alkitab juga mengingatkan kita: “Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” (Galatia 6:9). Kita harus terus melakukan perbuatan-perbuatan baik yang bisa memuliakan Allah dengan tidak jemu-jemu. Ada atau tidak apresiasi manusia bukan masalah, karena sesuatu yang dengan tulus kita lakukan demi namaNya akan selalu berharga di mataNya. Dalam kisah Yesus memberi makan lebih lima ribu orang lewat lima roti dan dua ikan kita menemukan sebuah pesan penting akan hal ini. Ketika para murid fokus kepada apa yang tidak mereka miliki, yaitu makanan yang cukup untuk mengenyangkan ribuan orang, Yesus berkata: “Cobalah periksa!” (Markus 6:38). Pesan yang sama hadir bagi kita hari ini. Sudahkah kita mengetahui apa potensi yang ada pada kita, dan sudahkah kita memuliakan Tuhan lewat itu?  We tend to  look for things we dont have rather than realizing our own potential. Padahal Tuhan sudah menyediakan segalanya secara cukup bagi kita untuk bisa berhasil dan bisa memberkati orang lain sekaligus memberi kemuliaan bagi namaNya. Ada banyak orang disekitar kita yang terabaikan, tertolak, tersisih dan tersingkir, mereka butuh pertolongan, dan kita bisa menyatakan kasih Kristus kepada mereka dengan apa yang kita miliki. Kita tidak perlu sibuk mencari apa yang tidak kita miliki hingga melupakan apa yang ada pada kita. Periksalah apa yang ada pada kita dan pergunakanlah. Tuhan bisa memakai segala sesuatu yang terlihat sederhana atau kecil sekalipun dari kita secara luar biasa. Semua tergantung dari kita, apakah kita sudah mengetahui potensi kita dengan baik, sudah mengolahnya dan mempergunakannya untuk kebaikan kita serta orang lain atau belum.

Mengetahui potensi diri sendiri akan membawa kita mampu melakukan hal-hal yang ajaib

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.