Mengenang Alm. Wawan yang Hobi Ngajak Traveling Backpacker

Wawan Setiawan dalam kenangan 4

BEBERAPA hari setelah kepergian alm. YR Budi Setiawan –teman di Seminari Mertoyudan angkatan masuk tahun 1978 yang biasa dipanggil Wawan alias Wawan Dlogog- banyak kenangan bersamanya yang muncul. Banyak kejadian yang sudah terjadi bertahun-tahun lampau, tiba-tiba tergambar dengan jelas di benak.

Aku tidak ingat persis kapan dan bagaimana aku bisa berteman sangat dekat dengan Wawan.

Seingatku, hobi petualangan dan kluyuran dimulai, ketika kami berdua bersama Thomas Suharjono naik Gunung Merapi saat kami masih di kelas KPP Seminari Mertoyudan (1978-1979).

Kami naik colt pembawa sayur melewati Tumpang menuju Selo Boyolali. Setelah sampai di puncak Merapi, kami ambil rute yang tidak biasa yaitu turun menuju ke arah Deles Klaten. Ternyata belum ada jalan yang bisa memandu kami. Kami hanya mengikuti bekas alur air hujan yang menembus “alas dadapan”.

Saat itu sempat ketemu blacan (anak macan). Sampai di daerah Deles kami cari tumpangan kendaraan menuju ke Klaten.

Ditegur Romo Pujasumarta, kini Uskup Agung Semarang

Setelah liburan dan kembali ke Mertoyudan, tiba-tiba Romo Pujo sebagai Pamong Umum Seminari –kini Uskup Agung Keuskupan Semarang– memanggil saya: “Kalau naik gunung memberi tahu ya,” kata beliau.

Dalam hati, aku membatin dari mana Romo Pujo tahu. Belum sempat memberi jawaban Romo Pujo melanjutkan wejangannya. “Besek sangu makan kalian, aku temukan”.

Saat itu kami memang memesan bekal makanan dan sangat khas Mertoyudan. Nasi dalam besek. Rupanya sehari setelah kami, Romo Pujo juga melakukan pendakian ke puncak Gunung Merapi.

Wawan Setiawan dalam kenangan 2

Alumni Seminari Mertoyudan tahun masuk 1978: Foto kenangan bersama almarhum YR Budi Setiawan alias Wawan di sebuah acara reunian di Wildlife Rescue Center (WRC), Pengasih, Wates, DIY. (Dok. Albertus Hendarto)

Kebersamaan kami bertiga ke Gunung Merapi ini tampaknya membuat kami merancang pergi ke Gunung Bromo. Kami naik kereta api sampai di Stasiun Semut di Surabaya. Kami bertiga tidur di stasiun, karena kereta api yang menuju ke kota Malang baru ada esok hari.

Bangun tidur, aku bertanya pada Thomas dan alm. Wawan: “Heee…..apakah ada yang memindahkan jaket tentaraku?”

Thomas dan Wawan menjawab: “Bukankah semalam kamu pakai sebagai bantal”.

Semalam memang aku pakai sebagai bantal tetapi ternyata pagi ini sudah lenyap. Saking pulasnya tidur sampai-sampai jaket yang dipakai sebagai bantal diambil orang, aku tidak menyadarinya.

Gunung Bromo

Sebelum ke Bromo, kami sempat mampir ke Novisiat SVD di Batu, Malang. Kalau tidak salah waktu itu kami sempat ketemu Paulce –senior kami tiga tahun di Mertoyudan—sebagai salah satu Novisnya. Sempat juga kami menginap di biara Karmelit yang di tengah biaranya terdapat kebun apel yang sangat asri.

Dari desa terakhir kami mulai menuju ke kawah Bromo di malam hari. Kami sempat terheran-heran kenapa mendaki gunung jalannya datar berpasir, terus kapan menanjaknya? Baru setelah pagi menjelang, kami sadari bahwa menuju puncak Bromo harus melewati padang pasir.

Naik kapal laut ke Kalimantan

Selanjutnya masih bertiga, kami mencoba berpetualang dengan menggunakan kapal laut.

Tujuannya adalah Kalimantan, tergantung kapalnya mau menuju ke Kalimantan bagian mana. Kami menuju Pelabuhan Semarang. Ternyata tidak ada kapal yang segera berangkat ke Kalimantan. Dengan naik kereta api, kami bertiga menuju ke Jakarta dan langsung menuju ke Tanjung Priok.

Kami sempat menginap di rumahnya Doni Kamagi.

Naik kapal laut

Dan berkat bantuannya, kami mendapatkan kapal laut menuju ke Pontianak. Karena baru pertama kali naik kapal laut, maka giranglah hati kami ketika kapal berangkat. Namun belum sampai dua jam kapan berlayar, kami bertiga sudah terserang mabik laut. Tiga hari tiga malam kami hanya terbaring karena tidak tahan dengan gelombang laut.

Sampai di Pontianak tidak ada yang dituju. Akhirnya kami ketemu gereja katolik dan diterima untuk menginap di sana. Karena bekal sudah mepet, Thomas Suharjono pulang duluan. Aku dan Wawan melanjutkan perjalanan dengan kapal sungai ke Ketapang.

Perjalan kala itu dari Pontianak menuju Ketapang kurang lebih 10 jam. Di Ketapang kami menginap di keuskupan. Sempat bertemu dengan Moli Pahir, almarhum Pastor Barata Mulyohadi Prabowo, rekan senior kami Matius Yuli.

Bapak Uskup Keuskupan Ketapang Mgr. Blasius berkenan memberi bekal sehingga kami bisa pulang ke Jawa dengan kapal laut menuju Semarang.

Kenangan lain bersama Wawan yang sulit kulupakan adalah ketika kami berdua melakukan perjalanan ingin melihat Pulau Bali. Setelah menyeberang dari Ketapang ke Gilimanuk, kami lapar dan mencari warung makan. Kami ketemu semacam warteg atau warung jawa. Karena takut harganya mahal maka aku pesan nasi setengah. Setelah habis dan membayar ternyata harganya masih terjangkau, maka saat itu aku langsung nambah lagi satu porsi.

Setiap kali ketemu Wawan dan ada acara makan, maka Wawan akan berkomentar: “Yas…….setengah sik yo. Habis itu baru nambah satu”.

Dalam perjalan ke Pulau Dewata, kami sempat mampir di rumah teman angkatan kami Heri Respatia di Palasari. Pulang dari rumahnya, kami dibekali pisang satu “tundun”. Dengan pisang itu pula kami membayar bus Damri yang kami tumpangi sampai Denpasar. Kami juga sempat mampir ke rumah rekan angkatan Ambrus yang saat kami datang lagi ada pesta babi guling.

Hm…pas dan enak tenan.

Di kesempatan lain Wawan dan aku merencanakan pergi ke Sumatra. Tidak ada sanak saudara di sana. Maka kami menuju ke rumah Novisiat SCJ di Gisting Tanggamus. Kebetulan saat ini ada kakak kelas di sana yaitu Hendratmo (Momok), seminaris asal Klaten.

Setelah menyeberang Merak – Bakauheni, kami melanjutkan perjalanan dengan bus. Dengan cermat kami melihat kiri kanan. Untuk pertama kali kami menginjakkan tanah Sumatra.

Bayangan kami waktu tahun 1978, Sumatra waktu itu pasti masih penuh hutan. Ternyata dugaan dan bayangan kami salah.

Menjadi duta ke Finlandia

Setelah beberapa tahun saya bekerja di Jakarta, tiba-tiba Wawan mengabari kalau akan ke Eropa (Finlandia) dalam rangka tukar kegiatan mahasiswa bidang teater. Wawan menginap di salah satu kakaknya di Rawamangun. Ke Bandara Cengkareng aku sempat mengantarkan dan membawa rujak/lotis yang bareng-bareng di makan sebelum Wawan check in.

Pertemuan terakhirku dengan Wawan terjadi pertengah bulan April 2014. Aku mengunjungi anakku yang sekolah di SMA Ursulin Solo. Aku menginap di rumah adikku di Fajar Indah solo. Malam hari kami makan gudeg di luar. Pulang ke rumah adikku, aku dan Wawan ngobrol di teras sampai sekitar jam 01.00.

Tanpa janjian, esok paginya ketika aku ke SMA Ursulin, tiba-tiba Wawan datang dan kita melanjutkan ngobrol di tempat parkir Ursulin. Wawan sempat menawarkan mobil Peugeot-nya kalau memang mau dipakai wira-wiri di Solo.

Itu beberapa kenangan bersama Wawan. Kami senang pergi ke daerah atau kota yang belum pernah kami datangi. Kami merasa senang puas dan gembira apabila sudah sampai daerah yang kami tuju. Tiba-tiba hari Minggu, 6 Juli sekitar pk.22.00 Thomas Suharjono memberi kabar kalau Wawan sudah mendahului kita semua.

Wawan…….kamu sekarang sudah sampai di tempat yang sungguh-sunguh baru. Tempat dimana semua orang akan menuju ke sana. Tempat yang membahagiakan. Berbagailah kamu…di sana.

Siapkan tempat di sana. Suatu saat nanti kita akan bertemu.

Kredit foto: Alm. YR Budi Setiawan alias Wawan Dlogok, Wawan Topi Miring (memakai ikat kepala) dalam sebuah acara reunian teman-teman alumni Seminari di Mertoyudan angkatan tahun masuk 1978  di Wildlife Rescue Center di Pengasih, Wates, Yogyakarta. (Dok. Albertus Hendarto)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.