Mengenal Potensi Diri: Sebilah Tongkat

Ayat bacaan: Keluaran 4:2
=================
“TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.”

Kemarin kita sudah melihat pentingnya mengetahui potensi diri lewat kisah Yesus menggandakan lima roti dan dua ikan. Tuhan ingin kita memeriksa terlebih dahulu talenta apa yang telah ia berikan kepada kita, apa yang kita miliki saat ini, potensi diri kita, dan Dia akan bekerja secara luar biasa lewat itu. Hari ini mari kita lihat contoh lainnya dari kisah Musa.

Pada kitab Keluaran pasal 4 kita bisa melihat keraguan yang berkecamuk dalam pikiran Musa ketika diutus Tuhan. Musa merasa tugas yang diberikan terlalu berat dan tidak mungkin sanggup ia lakukan. “Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?” (Keluaran 4:1) demikian katanya. Lalu bagaimana jawaban Tuhan untuk mengatasi keraguan Musa? “TUHAN berfirman kepadanya: “Apakah yang di tanganmu itu?” Jawab Musa: “Tongkat.” (ay 2). Selanjutnya, “Firman TUHAN: “Lemparkanlah itu ke tanah.” Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya.” (ay 3). Kekagetan Musa hanya sesaat karena Tuhan selanjutnya meminta Musa untuk menangkap ular itu kembali.”Musa mengulurkan tangannya, ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat di tangannya.” (ay 4). Perhatikan bahwa Musa sibuk memikirkan apa yang tidak ia punya sampai ia melupakan apa yang ada ditangannya, yaitu sebilah tongkat. Atau mungkin Musa tahu ada tongkat ditangannya, tetapi apa gunanya sebatang tongkat dalam tugas maha berat yang harus ia emban? Musa menganggap itu tidak cukup berguna untuk menjalankan tugas dari Tuhan. Tetapi Tuhan menunjukkan bahwa tongkat yang ditangannya itu lebih dari cukup untuk menjadi alat dimana mukjizat Tuhan turun atasnya.

Kita butuh hikmat untuk mengetahui potensi diri kita. Amsal berkata “Mengerti jalannya sendiri adalah hikmat orang cerdik, tetapi orang bebal ditipu oleh kebodohannya.” (Amsal 14:8). Orang cerdik yang penuh hikmat akan mampu mengetahui kemampuannya sendiri, apa yang menjadi potensi dalam diri mereka, tapi sebaliknya orang yang bebal akan terus dikuasai oleh keraguan, kekhawatiran dan ketidakberanian mereka untuk melangkah dan akibatnya tidak kunjung maju. Orang yang bebal hanya akan sibuk melihat kekurangan mereka dan buta akan potensi yang mereka miliki. They don’t realize what they actually possess inside.

Kembali dalam perumpamaan talenta di Matius 25:14-30 kita bisa melihat bahwa Tuhan telah membekali kita dengan talenta tersendiri seperti yang sudah saya sampaikan dalam beberapa renungan terdahulu. Jumlahnya bisa jadi berbeda, namun yang terkecil sekalipun, satu talenta, itu pun sebenarnya sudah merupakan pemberian yang besar dari Tuhan. Coba lihat ukuran satu talenta, itu sebenarnya digambarkan setara dengan 1000 uang emas. 1000 uang emas, bukankah itu sesungguhnya sudah cukup layak dan jauh lebih dari cukup untuk memulai sesuatu? Pemberian Tuhan ini harus mampu kita asah dan olah hingga bisa menghasilkan buah-buah yang bermanfaat baik buat kita sendiri maupun buat orang lain. Itulah yang Tuhan kehendaki, bukan sebaliknya hanya ditimbun dan malah bersungut-sungut melihat kesuksesan orang lain. Dalam perumpamaan ini si hamba yang memiliki satu talenta merupakan gambaran orang yang tidak menghargai pemberian Tuhan, tidak hanya menolak tapi malah menuduh dan mencari pembenaran. Hatinya diliputi ketakutan akan kegagalan dan memilih untuk diam saja tanpa berbuat apa-apa.

Talenta yang sekecil apapun merupakan berkat luar biasa dari Tuhan. Jika diolah akan berbuah, dan Tuhan siap memberi lebih lagi jika kita sudah mampu bertanggungjawab atas perkara kecil. “Karena setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan. Tetapi siapa yang tidak mempunyai, apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.” (ay 29). Dan lihatlah Firman Tuhan ini: “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.” (Lukas 16:10).

Mari mulai serius untuk mencari tahu potensi diri kita yang sebenarnya. Yesus berkata, “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” (Markus 6:38). Ayo, periksalah talenta apa yang Tuhan berikan kepada kita, dan mari kita kembangkan, asah dan olah. Kini Saatnya untuk mempergunakan talenta yang kita miliki untuk sukses, dan memakainya untuk kemuliaan Tuhan. Sesungguhnya semua orang dirancang Tuhan untuk sukses. Tidak satupun yang dirancang sia-sia tanpa tujuan besar, dan untuk itu Tuhan telah menyediakan segala sesuatu yang diperlukan. Jangan biarkan berkat Tuhan berlalu begitu saja. Mulailah hari ini untuk menjadi orang cerdik yang penuh hikmat yang mengetahui kemampuan atau potensi diri sendiri.

Tanpa mengetahui potensi diri jangan berharap untuk sukses

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.