Mengenal Potensi Diri: 5 Roti 2 Ikan

Ayat bacaan: Markus 6:38
================
“Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!”

Seberapa jauh kita mengenal potensi diri kita masing-masing? Saya bertemu dengan banyak orang yang di usia dewasanya ternyata belum kunjung mengetahui apa sebenarnya talenta yang telah dianugerahkan Tuhan pada diri mereka. Jangankan talenta, hobby saja kalau ditanya mereka bisa bingung menjawabnya. Ada yang terus belajar, dan itu tentu baik. Tapi itupun tidak menjamin orang untuk bisa mengetahui potensi diri mereka. Ada banyak orang yang sudah melalui jenjang pendidikan tinggi tetapi mereka tidak kunjung menghasilkan apa-apa. Hidupnya tetap tidak produktif bahkan sebagian masih bergantung kepada orang tuanya. Malah ada yang menjadikan proses belajar sebagai pelarian, maksudnya mereka ini terus melanjutkan pendidikan bukan karena ia ingin lebih pintar atau mendapat kesempatan kerja lebih baik, tapi justru untuk mengelak dari bekerja. Ada banyak juga yang bingung harus memilih apa dalam melanjutkan pendidikan di perguruan tingi. Bingung mau jadi apa, karenanya bingung pula harus mengambil jurusan apa. Cari yang favorit, padahal itu bukan panggilannya. Atau memilih jurusan bukan karena mengetahui tujuan melainkan karena desakan orang tua, ikut-ikutan teman atau asal pilih. Akibatnya ada banyak orang yang menjadi tidak tentu arah setelah tamat kuliah.
Saya masih ingin melanjutkan pembahasan diseputaran talenta. Tidak mengenali potensi diri sendiri ternyata menjadi permasalahan umum begitu banyak orang. Banyak diantara mereka yang merasa kecil dan tidak akan mampu melakukan apapun. Jangankan yang besar, yang kecil saja sudah terasa sulit. Mengukur dirinya terlalu rendah dibanding potensi mereka yang sesungguhnya pun kemudian sering menjadi penyebab.

Tuhan sebenarnya menciptakan kita begitu lengkap. Bukan secara sempit hanya mengenai organ tubuh, bukan saja nafas kehidupan, tapi Tuhan telah mempersiapkan rancanganNya yang terbaik bagi kita untuk mencapai hari depan gemilang seperti yang bisa kita baca dalam Yeremia 29:11. Dalam menyiapkan rancangan yang terbaik, Tuhan pun  melengkapi kita dengan talenta-talenta khusus lengkap dengan keunikan dan kemampuan yang berbeda-beda bagi setiap orang. Lengkap bukan? Jika kita menyadari ini, sudah seharusnya kita bersyukur. Seharusnya kita bisa mulai berbuat sesuatu dengan bakat-bakat kita. Seharusnya kita bisa menggenapi rencana Tuhan lewat talenta yang telah Dia anugerahkan kepada kita. Seharusnya kita bisa terhubung dengan orang-orang lain, saling melengkapi untuk melakukan terobosan-terobosan besar bersama-sama. Seharusnya kita sudah bisa berkontribusi untuk memberkati kota dan bangsa atau bahkan dunia. Sayangnya yang sering terjadi justru sebaliknya. Banyak diantara kita lebih suka duduk diam lalu mengeluh macam-macam. Mudah merasa sirik dengan kemampuan orang lain, berkata negatif dan sibuk mengutuki orang lain atau diri sendiri. Padahal jika saja mau melihat potensi diri, pasti ada sesuatu yang bisa diolah dan menghasilkan sukses, karena Tuhan telah membekali setiap kita dengan talenta masing-masing. Mungkin anda tidak pintar jualan seperti saya tapi panggilannya mengajar. Ada yang tidak pintar memasak tapi ahli mengoperasikan komputer. Tidak pintar berbicara, tapi pintar menyusun strategi, tidak suka memimpin tapi cekatan bekerja, dan seterusnya. Apapun itu, satu hal yang pasti adalah bahwa sesuatu yang anda miliki bisa sangat bermanfaat jika diolah dan diasah.

Tuhan ingin kita harus berhenti menjadi manusia pengeluh, bersungut-sungut, gampang kecewa dan segera memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada kita. Dari mana kita tahu itu? Kita bisa melihatnya lewat kisah Yesus yang menggandakan lima roti dan dua ikan. Pada waktu itu ada 5000 orang pria (jumlah tersebut belum termasuk wanita dan anak-anak yang ikut) untuk mendengar pengajaran Yesus. Setelah semua berjalan lancar, masalah muncul ketika hari sudah larut malam, semua orang yang ikut belum makan sama sekali. Apa yang terjadi selanjutnya menarik untuk kita perhatikan. Dalam Markus 6:37 Yesus memerintahkan murid-muridNya untuk memberi semuanya makan. Reaksi para murid mungkin sama dengan reaksi kita jika berada disana. Mereka begitu cepat mengeluh sebelum mulai berbuat apa-apa, memandang pada kesulitan ketimbang memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada mereka. Lihat jawaban mereka. “Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?” (ay 37b). Perhatikan jawaban Yesus selanjutnya. “Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” (ay 38a). Dan setelah memeriksa, mereka pun kemudian mendapati ada lima roti dan dua ikan (ay 38b) milik seorang anak yang ada disana.

Pertanyaannya, apakah Yesus tidak bisa mendatangkan makanan sama sekali? Sama sekali tidak sulit bagi Yesus untuk menurunkan hujan makanan dari langit, itu pasti. Tetapi Dia tidak melakukan itu. Yesus memilih untuk meminta kita untuk memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada kita, dan dengan Yesus semua itu bisa menjadi berkat yang berlimpah-limpah. 5000 orang bisa memperoleh makan malam, itu baru jumlah pria saja belum termasuk wanita dan anak-anak. Ini adalah pelajaran penting bagi kita agar tidak menjadi orang-orang manja dan mau berubah menjadi pribadi yang giat berusaha. “Periksalah!” kata Yesus.  Periksa ada berapa “roti dan ikan” yang kita miliki, dan Tuhan siap melipatgandakan itu menjadi berkat yang melimpah.

Periksa apa yang ada, kembangkan, serahkan ke dalam tangan Tuhan dan jadilah berkat untuk banyak orang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.