Mengemban Tanggung Jawab Ala Daud (2)

(sambungan)

Meski tidak dibayar dan tidak mendapat penghargaan, Daud menunjukkan bagaimana komitmennya dalam mengemban tanggung jawab. Daud rela mempertaruhkan nyawanya demi sekumpulan domba, yang notabene hanyalah kumpulan hewan yang tidak seberharga nyawanya sebagai manusia, bahkan hewan-hewan itu pun bukan miliknya. Di mata manusia mungkin itu merupakan hal yang aneh, bahkan bodoh. Untuk apa manusia harus rela mempertaruhkan nyawa melawan binatang buas demi binatang yang digembalakannya? Tapi Daud tidak berpikir seperti itu. Ia tidak ingin satupun dari ternak yang kepadanya diberi tanggung jawab hilang atau mati. Ia ingin memegang teguh tanggung jawab yang sudah dipercayakan kepadanya dan untuk itu ia siap membayar harga. Ia terus berkomitmen bahkan saat harus berhadapan dengan bahaya. Dari keputusan itu ia merasakan betapa penyertaan Tuhan mampu membuatnya tampil sebagai pemenang. Ia sudah beberapa kali sanggup mengatasi ganasnya singa dan beruang, kemudian berhasil pula mengatasi Goliat.

Keputusan Daud kelak menjadi gambaran yang sama mengenai bagaimana Yesus, yang lahir ke dunia sebagai salah satu dari silsilah keturunannya, menyelamatkan kita semua. Lihat apa kata Yesus berikut: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.” (Yohanes 10:11-12).

Dalam Galatia 6 Paulus mengingatkan kita untuk terus memeriksa segala sesuatu yang kita kerjakan dan tidak perlu membanding-bandingkan dengan apa yang dilakukan orang lain. “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.” (ay 4). Mengapa? Ayat selanjutnya berkata: “Sebab tiap-tiap orang akan memikul tanggungannya sendiri.” (ay 5). Dalam versi BIS dikatakan “Sebab masing-masing orang harus memikul tanggung jawabnya sendiri.” atau dalam versi lain dikatakan “Each of you must take responsibility for doing the creative best you can with your own life.” [The Message]. Dari versi The Message kita bisa melihat bagaimana seharusnya kita memandang sebuah tanggung jawab, yaitu memikulnya dengan melakukan bagian kita dengan sekreatif dan sebaik mungkin, dengan segenap hidup kita sendiri. Inilah model sejati dari cara orang percaya memikul tanggung jawab yang mereka emban.

Tuhan menghendaki kita untuk serius dalam melakukan segala hal, baik dalam bekerja, belajar maupun melayani. Apalagi jika menyangkut tanggung jawab yang dibebankan, maka itu harus dipegang dengan komitmen tinggi. Perhatikan ayat berikut ini: “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23). Ayat ini secara jelas mengingatkan kita bahwa kita harus memberi yang terbaik dalam apapun yang kita kerjakan seolah-olah kita melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Itu harus kita lakukan dengan sebaik-baiknya dengan penuh tanggung jawab tanpa memandang besar tidaknya pendapatan atau kompensasi yang diterima. Itulah tingkatan yang seharusnya dilakukan oleh orang percaya. Mungkin kompensasinya belum terlihat secara langsung, tetapi apapun yang dikerjakan untuk Tuhan pasti akan sangat Dia hargai. Dan kalau Tuhan menghargai, Dia bisa memberkati anda lewat apapun, meski tidak secara langsung berhubungan dengan sesuatu yang sedang dikerjakan. Bisa jadi hasilnya tidak langsung terlihat, bisa jadi ada pengorbanan-pengorbanan besar di awal, bisa jadi itu terlihat bodoh di mata orang. So be it. Karena sebuah tanggung jawab memang harus dijalankan dengan keseriusan dan komitmen yang tinggi, dan saat kita memberi yang terbaik dan memuliakan Tuhan di dalamnya, jangan heran kalau kelak kita akan memetik buah yang luar biasa dari sana.

Apabila ada diantara teman-teman yang saat ini merasa bahwa kerja keras anda belum sebanding dengan kompensasi yang anda terima, masih terus membandingkan antara keseriusan dan upah, atau masih bergumul mengenai hal-hal mengenai tanggung jawab, keep doing your best in it. Berikan yang terbaik dari anda, penuhi tangung jawab anda dengan sebaik-baiknya. Selama itu anda kerjakan dengan sungguh-sungguh seperti untuk Tuhan, Dia pasti akan memperhitungkan itu. Percayalah, karena segala sesuatu yang anda lakukan untuk Tuhan tidak akan pernah berakhir sia-sia.

“Your life begins to change the day you take responsibility for it.” Steve Maraboli, bestselling author and behavioral science academic

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.