Mengasihi-Nya di Atas Segalanya

mencuci kaki

Rabu, 05 November 2014
Flp. 2:12-18; Mzm. 27:1,4,13-14; Luk. 14:25-33

“Jikalau seorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci bapanya, ibunya, isterinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku. Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”

MENGAPA Yesus bersabda bahwa kita harus membenci keluarga kita bahkan diri kita sendiri? Apa maksudnya?

Ungkapan “membenci” berarti “lebih mengutamakan dari pada”. Yesus hendak mengatakan bawa tak satu pun boleh melebihi Allah. Allah telah lebih dahulu mengasihi kita dengan kasih dan perhatian-Nya demi kesejahteraan kita. Maka, normallah bahwa kita harus mengasihi Dia di atas segalanya. Ya, kasih kita kepada-nya merupakan jawaban kita atas kasih yang telah lebih dahulu dinyatakan kepada kita oleh-Nya.

Allah telah mengorbankan Putra-Nya demi kepentingan dan keselamatan kita. Ia telah membuktikan kasih-Nya kepada kita dengan mengutus Putra-Nya yang tunggal, dalam diri Yesus Kristus yang menyerahkan hidup-Nya untuk kita sebagai korban penebusan dosa-dosa kita. Ia dengan rela mengorbankan segalanya demi kepentingan kita sebagai orang-orang yang dikasihi-Nya melalui jalan salib-Nya.

Ini harga kemuridan kita, mengasihi Dia di atas segalanya. Kita harus siap untuk mengikuti-Nya pula dalam jalan salib-Nya. Dengan demikian kita pun boleh ambil bagian dalam kemuliaan dan kemenangan-Nya. Itu mencakup penghorbanan hidup kita pula sebagai persembahan kita kepada-Nya.

Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita belajar untuk menjawab kasih-Nya di atas segala-galanya. Kita persembahkan dan kurbankan waktu kita untuk mengasihi-Nya dalam penyembahan dan doa kita. Namun, kita tidak pernah dapat mengasihi-Nya seperti Dia telah mengasihi kita. Ia selalu mengasihi kita lebih dari yang kita harapkan dan bayangkan.

Tuhan Yesus Kristus, curahilah kami Roh Kudus dan penuhilah hati kami dengan kasih Allah di atas segala-galanya. Semoga kasih-Mu mendorong kami untuk menempatkan Allah sebagai yang utama dan pertama sehingga kami hanya merindukan Engkau lebih dari yang lain, baik dalam kata maupun karya, kini dan selamanya. Amin.

Kredit foto: Ilustrasi (Ist)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.