Mengasihi Musuh, Mendoakan dan Mengampuninya

[In memoriam: Mgr. V. Kartasiswoyo Pr, Requiescat in pace]

Selasa 17 Juni 2014: Hari Biasa Pekan XI
1Raja 21:17-29; Mzm 51:3–6a.11.16; Matius 5:43-48

“Aku berkata kepadamu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu.” (Matius 5:44)

APAKAH sabda ini masih relevan dan signifikan bagi kita sekarang ini? Bagiku, sabda ini tetap harus digemakan dan diwartakan kepada semua orang, juga sekarang ini. Wujud mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita tampak dalam pengampunan, semangat mengampuni. Bisa jadi orang bersikap sinis dan menertawakan sabda ini.

Saya sendiri pernah ditertawakan ketika menyerukan pengampunan kepada seorang bapak dan anaknya, yang tiga kali membobol dan menncuri kotak dana di Gereja Hati Kudus Yesus Tanah Mas Semarang. Sebelumnya, bapak dan anak itu sudah lebih dahulu menipu saya, saat mengatakan bahwa dirinya kecopetan.

Saya beri mereka sejumlah dana yang lebih dari cukup untuk naik kereta api sesuai yang dikatakan orang itu. Bahkan mereka berdua saya antar ke stasiun Poncol dan masih saya tambah bekal makanan. Ternyata orang yang samalah yang setelah itu mencuri di gereja kami sampai tiga kali, dan yang ketiga kalinya itu mereka tertangkap basah.

Orang lain menghanjar, memukuli dan melampiaskan kemarahan kepada mereka. Tidak tega menyaksikan bapak itu berdarah-darah, saya buatkan teh manis untuk mereka berdua. Orang lain menertawakan tindakan saya. Bahkan polisi – saat penyidikan – dan hakim – saat sidang di pengadilan – pun heran dan tersenyum saat mendengar pernyataan bahwa saya mengampuni mereka.

Maka, masih relevan dan signifikankah sabda Yesus itu bagi kita? Belum hilang dari ingatan kita yang dilakukan oleh Ibu Elizabeth Diana, ibunda Ade Sara Angelina.

Ibu Elizabeth Diana mengampuni Ahmad Imam Al Hafitd dan Aasyifa Ramadhani yang membunuh putri tunggalnya secara keji itu. Bahkan ketika ibunda Sifa dan ibunda Hafitd datang ke rumahnya untuk minta maaf atas perilaku anak-anak mereka, sambil memeluk ibunda Sifa, Elizabeth Diana menegaskan, “Saya tulus mengampuni.”

Mengampuni sesama

Dari pengalaman Ibu Elizabeth Diana, apa pun agama dan imannya, kita diyakinkan bahwa sabda Yesus masih relevan dan signifikan juga di zaman ini. Yesus sendiri tak hanya mengatakan sabda hampa. Dia sendiri telah menghayati sabda itu ketika disalibkan. Saat menerima deraan, siksaan, dan hukuman salib, Yesus pun bahkan berdoa bagi mereka yang secara keji menyalibkan-Nya. Yesus berkata: “Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” (Lukas 23:34).

Setelah Yesus, persis doa yang isinya sama diserukan Stefanus yang dilempari batu sampai mati karena imannya kepada Tuhan Yesus Kristus. “Sambil berlutut Stefanus berseru dengan suara nyaring: Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka! Dan dengan perkataan itu meninggallah ia. (Kisah Rasul 7:60)

Sejak Yesus dan Stefanus, begitu banyak martir iman menghayati doa yang sama. Kita bersyukur mendapat teladan yang baik yang membenarkan sabda Yesus!

Kita juga menerima kesaksian luar biasa dari Santo Johanes Paulus II ketika Paus yang pernah berkunjung ke Indonesia itu mengampuni Mehmed Ali Agca yang menembaknya di Lapangan Santo Petrus Vatikan, 13/5/1981. Meskipun peluru menembus dadanya, Johanes Paulus II mengampuninya. Beliau pun mengajak umat agar “berdoa bagi saudara saya (Agca), yang sudah saya maafkan setulus-tulusnya.”

Maka, tidak berlebihan ketika terjadi penganiayaan terhadap Julius Felicius dan beberapa orang lain sebelumnya (antara lain Wahid dan putrinya yang berusia 8 tahun), seijin dan atas nama korban, saya menyerukan pengampunan terhadap para pelaku kekerasan dan penganiayaan itu – apa pun motivasi mereka. Saya pun bersyukur saat saya menelpon dan mengunjungi mereka, diijinkan untuk menyerukan pernyataan pengampunan itu.

Jadi, sabda Yesus agar kita mengasihi musuh dan berdoa bagi orang yang menganiaya kita masihlah tetap relevan dan signifikan sekarang ini juga. Kasih dan doa itu antara lain terwujud dalam semangat mengampuni.

Terkait dengan Adorasi Ekaristi Abadi, kita mengalami, bahwa gerakan ini pun menjadi salah satu cara terbaik untuk belajar mengasihi musuh dan mendoakan mereka yang menganiaya kita. Dalam Adorasi Ekaristi Abadi, kita sendiri juga memohon ampun atas dosa-dosa kita seraya mempersembahkan doa-doa silih bagi dunia.

Mari kita saling mendoakan agar kita dimampukan untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi siapa pun yang menganiaya kita, entah itu penganiayaan fisik, mental maupun spiritual.

Tuhan Yesus Kristus, ampunilah dan berkatilah orang-orang yang memusuhi dan menganiaya kami, kini dan sepanjang masa. Amin.

Photo credit: Ilustrasi (Good Life)

Loading...

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.